{"id":84677,"date":"2020-10-29T06:56:08","date_gmt":"2020-10-28T23:56:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=84677"},"modified":"2020-10-28T22:57:51","modified_gmt":"2020-10-28T15:57:51","slug":"pengalaman-saya-menjadi-asisten-penulis-dengan-gaji-1000-rupiah-per-100-kata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-saya-menjadi-asisten-penulis-dengan-gaji-1000-rupiah-per-100-kata\/","title":{"rendered":"Pengalaman Saya Menjadi Asisten Penulis dengan Gaji 1000 Rupiah per 100 Kata"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGit, mau kerjaan nggak?\u201d kata seorang teman yang lama nggak ada kabar melalui pesan WhatsApp. Saya yang kebetulan memang menganggur langsung saja menyambar tawaran pekerjaan tersebut. \u201cKerja apa?\u201d Tanya saya lebih lanjut. Teman saya menjawab, \u201cJadi asisten penulis.\u201d Wah kebetulan sekali nih, memang pekerjaan kayak gini yang saya cari. Selain dapat gaji, juga bisa sekalian belajar nulis dari ahlinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari kemudian saya bertemu dengan sang penulis. Beliau menjelaskan panjang lebar mengenai dirinya pribadi, bagaimana cara kerjanya, serta apa saja yang harus saya kerjakan sebagai asisten penulis. Dari penjelasannya ini saya mengira pekerjaannya tidak terlalu berat, hanya sekadar mengetik saja. Tapi, ada yang aneh, saat menjelaskan tentang gaji, beliau memberi perumpamaan gaji yang saya terima awalnya hanya cukup untuk membeli roti untuk makan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mengira itu hanyalah sebuah kiasan saja. Setelah ngobrol panjang lebar, akhirnya saya mulai diberi tugas pertama. Dikirimlah beberapa link berita yang membahas kinerja salah seorang kapolres. Link berita itu harus saya kembangkan menjadi suatu naskah dengan sentuhan fiksi. Di sini saya mulai merasa kaget, saya kira sebagai asisten penulis kerja saya hanya bantu mengetik. Tapi, ini malah harus mengembangkan cerita sendiri hanya berbekal link-link berita yang beliau kumpulkan melalui internet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, karena memang lagi nganggur, ya sudah saya jalani saja. Sebanyak kurang lebih seratus link berita saya jadikan 70 bab di bulan pertama saya kerja. nanti bab-bab tersebut akan disatukan menjadi sebuah buku yang secara garis besar menceritakan tentang kiprah sang kapolres selama bertugas. Saya yang tidak terlalu paham tentang dunia kepolisian merasa kesulitan dalam mengembangkan cerita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menyelesaikan satu link menjadi sebuah naskah sebanyak 500-700 kata, saya membutuhkan waktu yang lumayan lama. Otak saya diperas sampai maksimal. Sehari paling banter hanya bisa menyelesaikan lima naskah saja. Lebih syok lagi ketika ternyata bayaran saya hanya seribu rupiah per seratus kata. Jadi satu naskah saya hanya akan dibayar 500-7000 rupiah. Agak keberatan sih dengan gaji segini sementara otak diperas banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk mengakali itu, saya kembangkan link-link itu menjadi naskah dengan banyak sekali kata. Ya supaya gaji saya bisa sedikit naik lah. Tapi, malah beliau protes, katanya terlalu bertele-tele. Lah kalo nggak bertele-tela kan gaji saya jadinya cuma sedikit. Selain gaji yang sedikit tadi, beliau juga terkadang ngasih tugas lain secara dadakan. Pernah beliau ngasih tugas. Saya disuruh menyalin teks di PowerPoint ke Word. PowerPoint itu berisi protokol kesehatan dalam bekerja untuk pencegahan penularan Covid-19 yang dibuat oleh humas suatu polda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya tugasnya mudah, meskipun slidenya banyak dengan puluhan slide. Tapi, yang mempersulit adalah beberapa slide bukanlah file PPT, melainkan hanya gambar sehingga tidak bisa di-copas. Jadi harus ngetik satu per satu teks yang ada dalam gambar. Mending jika teksnya singkat, lha ini kebanyakan teksnya panjang dan njlimet. Baru tau sendiri saya bagian humas suatu polda ada juga yang ternyata nggak becus kerjaannya. Masak bikin PPT saja kayak gitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah juga beliau ngasih tugas mengetik dialog dalam sebuah video. Videonya singkat, tapi ada beberapa kata daerah yang saya tidak mengerti dan perkataannya juga tidak jelas. Beberapa Kapolres yang menjadi Klien beliau memang orang luar jawa, sehingga terkadang terselip beberapa kata daerah yang saya kurang paham bunyinya dan juga artinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Parahnya lagi, semua tugas tambahan ini ternyata tidak masuk dalam gaji. Jadi beliau hanya minta tolong. Padahal tugas ini cukup menguras tenaga terutama yang menyalin slide PPT ke dalam teks Word. Tak heran jika banyak karyawannya yang berhenti sebelum saya. Bahkan teman yang nawari saya pekerjaan ini juga ikut berhenti setelah saya masuk. Alasannya nggak dapat izin dari sang suami. Tapi, saya kira lebih kepada masalah gaji dan kerjaan yang tak jelas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya kasihan, beliau sering curhat tentang diri beliau dan keluarga. Tentang perjuangan dari nol. Ngetik di reruntuhan gedung hanya untuk numpang WiFi di gedung sebelah. Numpang di kos mahasiswa karena perantauan dan nggak punya uang. Tapi, hebatnya dalam tiga tahun berhasil punya rumah, motor, mobil dan nyewa sebuah rumah untuk dijadikan kantor. Hebat, saya akui keren jika ceritanya itu memang benar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keputusannya menggaet para kapolres sebagai klien penulisan merupakan strategi yang sangat berhasil. Tak perlu pusing karyanya bakal laku atau tidak di toko buku karena beliau sudah dapat duit dari para klien itu. Saya yakin, bukan nominal sedikit yang beliau dapat. Kalau sedikit nggak mungkin beliau bisa beli rumah dan mobil segala dalam tiga tahun. Justru karena nominal yang tidak sedikit itu saya kurang terima jika tulisan yang saya kembangkan sendiri dengan hasil memeras otak sampai keriting cuma dibayar seribu rupiah per seratus kata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, di bulan ketiga saya berhenti jadi asisten penulis. Setelah saya pikir-pikir, mending naskah saya dikirim ke Terminal Mojok. Temanya bebas, nggak terlalu mikir juga dan per naskah dibayar 20 ribu. Ya meskipun tidak semua naskah dimuat. Beberapa naskah saya belum beliau bayar. Tak apalah sebagai permintaan maaf saya karena tidak bisa terus bekerja sama sebagai asisten penulis.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-saya-menjadi-tukang-tagih-di-koperasi-swasta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pengalaman Saya Menjadi Tukang Tagih di Koperasi Swasta\u00a0<\/a>dan artikel\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/sigit-candra-lesmana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Sigit Candra Lesmana<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya pikir, jadi asisten penulis itu bakal menyenangkan. Ternyata, yang ada saya malah diperas tenaganya tanpa diberi upah yang masuk akal.<\/p>\n","protected":false},"author":1001,"featured_media":85976,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9344,218,9345],"class_list":["post-84677","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-asisten-penulis","tag-buruh","tag-upah-tak-layak"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84677","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1001"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84677"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84677\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/85976"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84677"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84677"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84677"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}