{"id":84664,"date":"2020-10-24T06:04:34","date_gmt":"2020-10-23T23:04:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=84664"},"modified":"2022-01-07T17:04:31","modified_gmt":"2022-01-07T10:04:31","slug":"novel-rich-people-problem-menyentil-indonesia-dan-kebakaran-hutan-sumatera","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/novel-rich-people-problem-menyentil-indonesia-dan-kebakaran-hutan-sumatera\/","title":{"rendered":"Novel \u2018Rich People Problem\u2019 Menyentil Indonesia dan Kebakaran Hutan Sumatera"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proses membaca novel terjemahan bahasa Indonesia <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Rich People Problem <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2018) harus terhenti sejenak di halaman 33, untuk kemudian saya lanjutkan dengan sangat antusias. Sebab, di halaman ini terdapat bagian menakjubkan yang berisi artikel panjang hasil wawancara dengan Colette Bing, salah satu tokoh fiktif di dalamnya yang sangat kaya dan sedang memperjuangkan nasib orangutan di Sumatera Utara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para ultranasionalis, Jokowers garis keras, dan sejenisnya, jangan berbangga dulu saat Indonesia dijadikan salah satu subjek di novel keren ini. Kebanggaan semu seperti biasanya, cukup kalian berikan pada jalan di UEA yang menggunakan nama junjungan kalian. Sebab, Kevin Kwan melalui salah satu bagian yang saya maksud, akan mengkritik bisnis <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">jahat<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> kelapa sawit yang oleh oligarki begitu dipuja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski bagian itu bukanlah inti dari novel, hanya sebuah potongan, tapi menurut saya hal itu merupakan sindiran yang cerdik. Sebab, disajikan dengan tidak kentara, mlipir, dan hanya sebagian kecil dari satu wujud besar seperti novel. Walaupun demikian, ia mampu memberikan damage yang nggak ngotak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artikel yang menyindir itu berjudul \u201cPutri Pejuang Lingkungan: Wawancara Eksklusif dengan Colette, Countees of Palliser\u201d yang diawali dengan empat paragraf berisi pandangan penulisnya pada Colette yang super kaya, tapi ramah. Namun, saat penulis artikel itu ingin lebih jauh menggali kekayaan dan kehidupan pribadinya, Colette justru mengalihkan pembicaraan, \u201cHidupku tidak begitu menarik. Kita bicara Indonesia saja.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari pernyataan Colette itu, bisa kita asumsikan bahwa membahas Indonesia beserta masalah-masalahnya memang lebih seksi daripada pamer kekayaannya di majalah yang sebenarnya memuat gaya hidup konglomerat. Namun, alih-alih pamer untuk mendapat sorotan lebih, ia lebih memilih membahas negara kita yang bermasalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya, di Indonesia, tepatnya di Bali, ia hanya liburan. Namun, ia tak sengaja bertemu Lucien (aktivis lingkungan yang kelak jadi suaminya) yang sedang mengurus masalah lingkungan di Sumatera Utara. Ia pun memutuskan untuk ikut \u201cmisi penyelamatan\u201d bersama Lucien.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak asing ya dengan keputusan yang Colette ambil? Jelas lah, ia mewakili kita semua yang khawatir pada Indonesia. Seperti saat kita lebih memilih turun aksi, menyuarakan protes, dan mengerahkan seluruh upaya untuk melawan pemerintah ngawur dan UU Ciptakernya yang merupakan masalah besar negara di tengah pandemi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, di artikel itu dituliskan bahwa Colette dengan muka yang memerah karena marah menambahkan ceritanya, \u201cLucien membawaku ke pusat penyelamatan orangutan, dan itu adalah paparan pertamaku atas tragedi lingkungan mengerikan yang terjadi di sana.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia pun di sana mendapat fakta menyedihkan bahwa berkurangnya spesies orangutan oleh karena pembakaran hutan dan perburuan liar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak berhenti sampai di situ, ia juga ingin menyebarkan kesadaran terhadap tragedi lingkungan ini dan menyuarakan perubahan. Colette pun menodong perusahaan sawit dan berpendapat bahwa, \u201cSemua orang seharusnya berhenti menggunakan produk yang mengandung kelapa sawit! Dalam pembukaan lahan untuk memperluas perkebunannya, hutan-hutan tua dibakar, dihancurkan sepenuhnya, dan kita kehilangan banyak spesies\u2026.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemarahannya dan ajakan memboikot produk dari sawit tentu sangat berdasar. Colette mungkin hanyalah tokoh fiksi dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Rich People Problem<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, namun suaranya begitu nyata di kehidupan kita sehari-hari. Lihat bagaimana kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan, tepat di depan mata kita, hampir setiap tahun melanda. Kita semua juga sudah tahu penyebabnya, persis seperti yang dikabarkan Colette pada dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia juga marah karena kebakaran hutan di Sumatera menyebabkan kualitas udara Singapura\u2014tempat ia tinggal sementara\u2014menjadi buruk. Sungguh tidak terbayang apa yang dialami penduduk sekitar, pasti lebih mengerikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Celakanya, menurut salah satu tulisan di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mongabay<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, terdapat pengubahan UU Kehutanan di UU Ciptaker yang menguntungkan pengusaha namun menginjak-injak lingkungan hidup. Salah satunya adalah pasal 49 UU Kehutanan yang menyatakan pemegang hak dan izin bertanggung jawab terhadap kebakaran hutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, di dalam UU Ciptaker, pasal itu diletakkan sebagai ayat 2. Sementara perubahannya, yaitu dari \u201cbertanggung jawab\u201d menjadi hanya \u201cwajib melakukan pencegahan dan pengendalian\u201d kebakaran hutan malah diletakkan di ayat 1.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, pengubahan juga terjadi di pasal 88 yang menyatakan bahwa perusak lingkungan \u201cbertanggung jawab tanpa perlu pembuktian atas kerugian lingkungan\u201d. Dan di UU Ciptaker, frasa bergaris bawah itu dihilangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari kedua pengubahan itu saja, bisa kita bayangkan kerusakan lingkungan yang akan semakin tak terkendali. Sebab, siapa yang akan bertanggung jawab atas sesaknya napas warga sekitar, habisnya hutan, dan hancurnya ekosistem di dalamnya akibat pembukaan lahan dengan pembakaran \u201cberkearifan lokal\u201d itu? Pemerintah bisa saja bersembunyi di balik produk hukum brengsek itu. Indonesia kan so called negara hukum gitu, loh~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, di akhir artikel di novel <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Rich People Problem<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, diberitakan bahwa Colette dan Lucien mengadakan pesta penggalangan dana besar di Singapura yang digadang-gadang menjadi pesta amal terbesar sepanjang musim semi di seluruh dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waaah, sudah kaya, peduli lingkungan, dan dermawan pula. Kombinasi pribadi yang memang mustahil walau di khayalan saja\u2014sampai Kevin Kwan menciptakannya melalui tokoh di novel itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sosok konglomerat atau kelas menengah ke atas di Indonesia sebenarnya ada juga, sih, yang sangat peduli lingkungan bahkan sampai menangisinya. Iya, itu, mereka yang menangisi pembakaran halte bus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harusnya, dengan memikirkan halte yang terbakar, muncul pemikiran ini, \u201cHalte saja ditangisi, apalagi hutan.\u201d Sayang, hidup nggak sepolos itu. Tak ada narasi dan pemikiran semacam itu pada mereka. Prioritas mereka barangkali bermasalah. Atau, bagi mereka hutan bukan bagian dari lingkungan mungkin, ya? Entahlah, saya bukan bagian dari orang-orang kaya Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nostalgia-album-hybrid-theory-musik-metal-di-segala-mental\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nostalgia Album \u2018Hybrid Theory\u2019, Musik Metal di Segala Mental <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/fadlir-rahman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Fadlir Rahman<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Para ultranasionalis jangan berbangga dulu saat Indonesia dijadikan salah satu subjek di novel &#8216;Rich People Problem&#8217;, kita seharusnya malu.<\/p>\n","protected":false},"author":933,"featured_media":24198,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13303],"tags":[4397,9046],"class_list":["post-84664","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-buku","tag-novel","tag-uu-cipta-kerja"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84664","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/933"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84664"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84664\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24198"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84664"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84664"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84664"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}