{"id":84633,"date":"2020-10-25T07:06:59","date_gmt":"2020-10-25T00:06:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=84633"},"modified":"2020-10-23T21:55:33","modified_gmt":"2020-10-23T14:55:33","slug":"romantisme-hollywood-memfasilitasi-kecintaan-kita-pada-badboy-dan-fakboi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/romantisme-hollywood-memfasilitasi-kecintaan-kita-pada-badboy-dan-fakboi\/","title":{"rendered":"Romantisme Hollywood Memfasilitasi Kecintaan Kita pada Badboy dan Fakboi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jagat raya perfilman pada 2008-2012 dihebohkan oleh kisah cinta antara gadis cantik bernama Isabella Swan dan Edward Cullen\u2013si Vampir ganteng dalam franchise <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Twillight Saga<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kesuksesannya telah meraup $3,346 miliar di Box Office, kisahnya seketika membekas di hati penggemar-penggemarnya yang didominasi kalangan remaja perempuan. Romantisme Hollywood tentang pasangan manusia dan entitas yang entah apa, sudah dimulai sejak lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2017, Hollywood merilis percintaan Elisa, seorang janitor tuna rungu kesepian dengan makhluk bawah air Fish Man dalam film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Shape of Water<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang meraih kesuksesan Box Office dan Academy Awards sebagai Best Picture. Atau siapa yang tidak kenal dengan kisah cinta tragis antara King Kong dan Ann Darrow di film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">King Kong<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang rilis pada 1933 dan di-remake tahun 2005? Romantisme Hollywood ini juga punya benang merah yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hollywood terobsesi untuk menyuguhkan cinta antara perempuan dengan entitas berbeda seperti monster dan binatang. Sebut saja, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Shape of Water<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2017), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Princess and The Frog<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2006), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">King Kong<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (1933, 2005), dan masih banyak lagi. Berbeda dengan kisah cinta antara perempuan dengan manusia buruk rupa, ada juga kisah cinta manusia dengan pria yang baik secara fisik maupun moral buruk. Ini tercermin melalui <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Hunchback of Notre Dame<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (1996), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Phantom of the Opera<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (1986), dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">50 Shades of Grey<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2015).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah cinta antara seorang perempuan dengan monster buruk rupa bukanlah hal yang baru. Bahkan rumah produksi film sekelas Disney menghadirkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Beauty and the Beast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang rilis pada 1991. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Beauty and the Beast<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> buatan Disney merupakan adaptasi dari dongeng klasik karya novelis Prancis Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">La Belle et la B\u00eate <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Beauty and the Beast<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (1740).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film-film berunsur si cantik dan buruk rupa biasanya memiliki tiga karakteristik. Pertama, si cantik adalah perempuan yang \u201cnot like the other girl\u201d. Biasanya ia memiliki keistimewaan yang mencolok hingga terasingkan. Contohnya, Belle yang kutu buku dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Beauty and the Beast<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Bella yang anti-sosial di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Twillight<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan Elisa yang tuna rungu di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Shape of Water<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karakteristik yang kedua adalah si buruk rupa entah kaya atau memiliki sihir yang dapat memberikan apa pun yang si cantik mau. Layaknya Beast yang memiliki kastil megah yang terasing, perpustakaan dengan ribuan buku, dan furniture mewah (yang bisa bicara). Semuanya bisa dibilang, hal-hal yang tidak dimiliki Belle sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang ketiga, terdapat karakter lain yang cemburu akan kebahagiaan si cantik dan si buruk rupa. Romantisme Hollywood yang menyuguhkan cinta perempuan dengan entitas \u201cburuk\u201d kerap memunculkan karakter ini. Apa ada yang ingat tokoh triplets anggota fanclub Gaston dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Beauty and the Beast<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">?\u00a0 Mereka memakai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dress<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> serupa yang hanya beda warna, yaitu merah, hijau, kuning. Saya bahkan tidak tahu nama mereka, mungkin karena mereka ada hanya sebagai pemanis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terdapat dua gelombang produksi film-film yang menghadirkan tokoh monster dalam romantisme perfilman Hollywood.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada gelombang pertama yang eksis di 1930 sampai 1950-an, monster disimbolkan sebagai kekhawatiran sosial pada masa itu. Dalam film, monster meneror dan menculik perempuan berkulit putih yang menjadi simbol kesucian yang harus dijaga namun dapat diinterpretasikan juga menjadi sumber dari chaos. Kemudian pria tampan dan maskulin datang menyelamatkan sehingga terjadilah kedamaian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh dari film dalam gelombang ini adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">King Kong<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (1993) yang diinterpretasikan sebagai hubungan inter-rasial yang jarang pada masa itu, kemudian <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Frankenstein<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (1931) dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Creature of the Black Lagoon<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (1954). Pada akhirnya, hanya ada dua ending bagi si buruk rupa entah ia bertransformasi menjadi tampan, atau mati terbunuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gelombang kedua yang terjadi pada 1960-an sampai saat ini lebih terfokus pada internal versus eksternal monster. Pada gelombang ini terdapat beberapa perubahan dari gelombang sebelumnya. Si cantik tidak lagi pasif dan hanya eksis untuk diculik. Terdapat kisah yang melatarbelakangi sehingga kita merasa sentimental dan simpati terhadap si monster. Peran tokoh tukang iri tergantikan oleh karakter pendukung yang suportif dan si tokoh penjahat yang berparas rupawan atau tampak seperti manusia biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Beauty and the Beast<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Disney, Beast berubah menjadi monster penyayang dan rela berkorban demi Belle, sedangkan sang villain, Gaston yang selalu dielu-elukan berkat parasnya yang menawan dan maskulin membunuh Beast karena egonya yang tak sampai hati kalah mendapatkan Belle dari monster buruk rupa. Film-film yang muncul pada gelombang ini adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Beauty and the Beast<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Hunchback of Notre Dame<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Shape of Water, Warm Bodies <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2013), dan masih banyak lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, terdapat perubahan yang signifikan antara monster yang awalnya meneror kita, menjadi monster yang hadir dalam fantasi romansa. Loh, bagaimana ceritanya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Professor asal Kanada, Jordan Peterson mengungkapkan bahwa perempuan masa kini cenderung berfantasi akan cowok \u201cbad boy\u201d yang kemudian bertransformasi menjadi jinak dan lebih baik karena seorang gadis pujaan yang penyabar. Terdapat romantisasi mengenai ide penjinakan pasangan yang awalnya liar menjadi boyfriend material. Bahkan menurutnya, saat ini perempuan cenderung meng-underestimate pria baik-baik atau bahkan membencinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Khalayak ramai sangat mengagumi kisah seorang perempuan lugu dengan kecantikan natural seperti Isabella Swan dan Anastasia Steele menaklukan vampir berdarah dingin, Edward Cullen atau miliarder sadis, Christian Grey di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">50 Shades of Grey<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Hal inilah yang mengakibatkan adanya pergeseran antara monster penculik dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Creature of the Black Lagoon<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi monster romantis dengan kekuatan super di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Shape of Water<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> meski rupa mereka hanya sebelas dua belas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasar yang menentukan!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga saat ini, monster-monster dalam film-film Hollywood masih menyimbolkan kaum marginal yang terasingkan dalam masyarakat. Mulai dari orang-orang dengan kulit berwarna, imigran, sampai kaum LGBTQ.\u00a0 Mulai dari Edward Cullen, Fish Man, Hellboy, Beast, Christian Grey, sampai R di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Warm Bodies<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2013), siapa pacar monster pilihanmu? Yang jelas semua ini hanyalah romantisme Hollywood yang diciptakan sedemikian rupa untuk memfasilitasi imajinasi penonton.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/film-the-devil-all-the-time-agama-dan-pergumulan-setan-di-tubuh-manusia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Film \u2018The Devil All the Time\u2019, Agama dan Pergumulan Setan di Tubuh Manusia<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kisah cinta antara seorang perempuan dengan monster buruk rupa dan lelaki tampan bermoral buruk adalah romantisme hollywood yang kita suka.<\/p>\n","protected":false},"author":1099,"featured_media":33079,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[660,773],"class_list":["post-84633","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-film-hollywood","tag-review-film"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84633","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1099"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84633"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84633\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33079"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84633"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84633"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84633"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}