{"id":84501,"date":"2020-10-24T07:33:25","date_gmt":"2020-10-24T00:33:25","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=84501"},"modified":"2021-10-24T19:33:49","modified_gmt":"2021-10-24T12:33:49","slug":"alasan-kang-mus-di-preman-pensiun-jadi-sosok-pemimpin-yang-diidamkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-kang-mus-di-preman-pensiun-jadi-sosok-pemimpin-yang-diidamkan\/","title":{"rendered":"Alasan Kang Mus di &#8216;Preman Pensiun&#8217; Jadi Sosok Pemimpin yang Diidamkan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang selalu tayang sore hari sekitar pukul 14.30 WIB di salah satu televisi swasta, bagi saya tidak sekadar sinetron biasa. Dapat dibilang, ia memiliki moral value yang tinggi dalam setiap adegannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila diperhatikan, setiap adegan dibuat tidak sembarang. Mulai dari gestur dan narasi yang diucapkan, begitu sangat rapi dengan banyak pencerahan setiap percakapanya. Tidak seperti sinetron lain yang terlalu banyak bumbu dan terkesan berlebihan sehingga sangat tidak natural. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dikemas dengan mengangkat realita di Kota Bandung, sehingga menjadi begitu dekat dengan pengalaman dan aktivitas kita terutama yang tinggal di kota-kota besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu yang menarik, saya menemukan sosok Muslihat atau Kang Mus pemimpin preman setelah Kang Bahar memilih pensiun. Sosok Muslihat apabila ditelisik lebih jauh memiliki jiwa-jiwa kepemimpinan untuk maju sebagai pemimpin yang diidam-idamkan di tengah masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut alasan saya mengapa Kang Mus menjadi gambaran sosok yang diidam-idamkan sebagai pemimpin idola masyarakat saat ini.<\/span><\/p>\n<h4>#1 Membantu menyelesaikan masalah istri Kang Komar yang minta cerai<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun bisa dibilang cuek, Kang Mus menganggap bahwa anak buah adalah bagian dari keluarganya juga. Oleh karena itu, ketika anggota mendapat masalah, berarti menjadi masalah bagi dirinya. Dan ia memiliki tanggung jawab untuk membantu. Termasuk ketika istri Kang Komar yang meminta cerai karena cemburu dengan tingkah suaminya yang genit kepada Yuyun, seorang janda yang biasa berjualan sayur di pasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kang Mus tidak ingin melihat rumah tangga Kang Komar hancur dan anaknya akan menjadi korban dari perceraian itu. Ia melakukan pendekatan secara persuasif dengan metode kebapak-bapakan untuk membujuk istri Kang Komar memaafkan kelakuan suaminya. Kang Mus bahkan menjamin bahwa Kang Komar di bawah pengawasannya tidak akan macam-macam dengan perempuan lain.<\/span><\/p>\n<h4>#2 Menjaga kestabilan wilayah pasar, terminal, dan jalanan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisnis yang diteruskan Kang Mus yang sebelumnya dibangun oleh Kang Bahar tidaklah kecil. Mencakup seluruh pedagang pasar, terminal, dan jalanan. Banyak pihak dan banyak orang yang terlibat di dalamnya. Hasil dari keuntungan iuran pedagang dan pelaku usaha di kawasan tersebut tidak sedikit. Sehingga, tidak heran apabila banyak yang merebutkan. Tugas Kang Mus tidak mudah. Namun, ia bisa mengatasi semua tindakan separatisme dan gerombolan yang berusaha mengkudeta posisinya. Seperti percobaan strategi adu domba dari Jamal dan konflik internal dari anak buahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran anggotanya yang semuanya preman, tentu mengoordinasi mereka tidak mudah. Mereka rata-rata memiliki pendidikan rendah, lebih mengandalkan kekuatan otot, ini yang menyebabkan tingginya konflik internal yang terjadi. Namun, Kang Mus dalam rekam jejak yang telah dilalui membuktikan bahwa ia bisa menjaga kestabilan wilayah yang dimiliki.<\/span><\/p>\n<h4>#3 Membantu orang-orang yang kecopetan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam serial <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> diceritakan bahwa terdapat gerombolan copet yang selalu melakukan operasi. Dalam series <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari satu sampai empat, nama Saep tidak asing dengan slogannya, \u201cMeramaikan khazanah percopetan di Kota Bandung,\u201d tak henti-hentinya melahirkan para penerus copet. Sebelumnya ada Ubed, Dewi, Junaidi yang memilih untuk meninggalkan dunia percopetan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kerap kali gerombolan copet tersebut mengalami nasib apes ketika melakukan operasi. Seperti, tidak sengaja mencopet Imas (pembantu Kang Bahar) atau Safira (anak Kang Mus) yang pasti akan dikejar oleh anak-anak buah Kang Mus. Kalau sudah begitu, habislah gerombolan copet tersebut dengan tanda beberapa pukul. Begitulah cara Kang Mus membantu sesama. Meskipun sedikit barbar, tapi sebenarnya hatinya seperti malaikat.<\/span><\/p>\n<h4>#4 Melakukan \u201cblusukan\u201d secara langsung atau sidak tanpa pemberitahuan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memiliki wilayah yang luas membuat Kang Mus harus memiliki tingkat mobilisasi yang tinggi. Berbekal vespa warna biru di serial <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> session 1-3, dan vespa hitam yang lebih mentereng di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun 4<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, memudahkan kontroling terhadap wilayahnya. Ia tidak segan-segan turun \u201cblusukan\u201d untuk mengecek kinerja anak buahnya di lapangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia memastikan semua berjalan dengan baik, walau di setiap wilayah sudah ada anak buahnya sebagai pemegang wilayah tersebut. Baginya, melihat kinerja anak buahnya tanpa memberitahu kepada siapapun termasuk media, menjadi ciri kepempimpinan yang sangat merakyat dan punya tingkat kepedulian yang tinggi.<\/span><\/p>\n<h4>#5 Mengarahkan anak buahnya untuk mencari atau membuka pekerjaan baru<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kang Bahar pernah menyampaikan pesan untuk Kang Mus, &#8220;Mus, bisnis ini bisnis yang bagus, tapi bukan bisnis yang baik,\u201d kata Kang Bahar sebelum pensiun. Kata itu yang selalu diingat oleh Kang Mus untuk memilih pensiun juga tidak lama setelah Kang Bahar pensiun dan meninggal dunia. Kang Mus akhirnya membuka usaha kicimpring (jajanan khas Bandung).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kang Mus mendorong anak buahnya untuk meninggalkan bisnis yang sekarang. Seperti Boim yang diarahkan menjadi tukang sablon, Kang Komar menjadi tukang kue balok, Jupri buka usaha sepatu, Joni sebagai satpam, Iwan diberikan motivasi untuk masuk sebagai atlet tinju porda, Kang Gobang menjadi ternak lele, dan tokoh lainnya yang juga diarahkan untuk pergi memilih jalan yang terbaik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hal ini, saya beranggapan bahwa ide Kang Mus adalah gagasan yang sangat holistik dan visioner. Bukan saja membuka peluang usaha untuk hidup lebih baik, tapi juga untuk meninggalkan bisnis yang dipandang masyarakat sebagai pekerjaan negatif. Dengan ini, blio jelas seorang pemimpin yang memiliki karisma dan pemberi semangat untuk anak buahnya dalam membuka usaha atau mencari pekerjaan yang lebih layak.<\/span><\/p>\n<h4>#6 Sosok sederhana dan apa adanya<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kang Mus bisa dibilang tegas dalam keluarga dan tidak takut pada istri. Pribadinya sangat sederhana dan menerima kekurangan istrinya, Esih. Istrinya yang hanya bisa masak telur ceplok, tapi dipuji bahwa tidak ada orang lain yang bisa memasak telur ceplok seenak dirinya. Sosok yang tidak meminta macam-macam perihal urusan makan ini menggambarkan sosok yang sederhana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demikian alasan mengapa sosok Kang Mus layak jadi pemimpin yang didambakan oleh masyarakat Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menghitung-pendapatan-kang-bahar-kepala-preman-di-preman-pensiun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Menghitung Pendapatan Kang Bahar, Kepala Preman di \u2018Preman Pensiun\u2019 <\/a><\/strong><strong>dan tulisan lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meskipun cuek, Kang Mus menganggap bahwa anak buah adalah bagian dari keluarganya. Sehingga, ketika anggota mendapat masalah, berarti menjadi masalah bagi dirinya.<\/p>\n","protected":false},"author":1097,"featured_media":84693,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13082],"tags":[9289,6711],"class_list":["post-84501","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sinetron","tag-kang-mus","tag-preman-pensiun"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84501","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1097"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84501"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84501\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/84693"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84501"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84501"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84501"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}