{"id":84426,"date":"2020-10-25T06:40:48","date_gmt":"2020-10-24T23:40:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=84426"},"modified":"2022-01-07T17:03:25","modified_gmt":"2022-01-07T10:03:25","slug":"orang-sukabumi-sebut-uin-jakarta-itu-cabang-dan-uin-bandung-pusatnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-sukabumi-sebut-uin-jakarta-itu-cabang-dan-uin-bandung-pusatnya\/","title":{"rendered":"Orang Sukabumi Sebut UIN Jakarta Itu Cabang dan UIN Bandung Pusatnya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2017, pertama kalinya penulis menginjakkan kaki di Kabupaten Sukabumi. Saat itu penulis hendak mengikuti pengabdian di salah satu kampung terpencil di kabupaten terluas kedua di Pulau Jawa ini. Kegiatan pengabdian ini dimotori oleh salah satu komunitas pendidikan bernama Gerakan Nusantara Terdidik yang sekarang berganti nama menjadi Nusantara Terdidik Foundation. Sebuah komunitas yang merangkul anak-anak muda yang peduli dengan pendidikan di pelosok negeri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkat cerita, penulis sampai di Sukabumi pada malam hari bersama dua teman lainnya. Sesampainya di penginapan, kami berbincang dengan teman-teman yang sudah lebih dulu datang. Teman-teman relawan yang akan diterjunkan ke lapangan berasal dari berbagai kampus. Kebetulan waktu itu peserta dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang lumayan mendominasi. Dari sanalah terjadi perbincangan yang<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">ngaler-ngidul,<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">kalau kata orang Sunda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari perbincangan itu sampailah ke topik yang cukup menggelitik. Salah satu teman penulis yang asli Sukabumi mengatakan, \u201cUIN Jakarta itu kalau di sini disebut UIN cabang, terus UIN pusatnya UIN Bandung.\u201d Penulis dan beberapa teman dari UIN Jakarta terperangah dan tertawa. Penulis langsung menimpali, \u201cLah, kok bisa gitu?\u201d kami mulai mereka-reka alasan kenapa UIN Jakarta disebut UIN Cabang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Umumnya teman-teman penulis berpendapat, kebanyakan orang Sukabumi yang sudah lulus sekolah menengah meneruskan kuliahnya ke Bandung. Ada yang kuliah di Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, Universitas Pendidikan Indonesia, dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dilihat dari letak geografis dan akses transportasi antara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan UIN Sunan Gunung Djati Bandung tidak jauh berbeda. Perkiraan beberapa teman dari Sukabumi ke Ciputat atau Sukabumi ke Bandung itu butuh waktu tiga hingga empat jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka juga tidak tahu dari mana awalnya UIN Jakarta itu disebut UIN cabang. Namun, saat penulis bertanya secara acak kepada orang-orang Sukabumi ada satu hal yang menarik. Salah satu teman mengatakan alasannya adalah karena kawih atau lagu Sunda yang sering dinyanyikan ibu-ibu saat menidurkan anaknya. Di dalam lagu itu ada satu kalimat yang berbunyi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">geura sakola ka Bandung<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bisa jadi cikal bakal kenapa orang Sukabumi menyebut UIN Bandung adalah UIN pusat, pokoknya kalau yang di Bandung semuanya pusat. Seperti ini kira-kira kutipan lagunya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">N\u00e9l\u00e9ngn\u00e9ngkung- n\u00e9l\u00e9ngn\u00e9ngkung<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">geura gede geura jangkung<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">geura sakola ka Bandung<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">geura makayakeun indung.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya N\u00e9l\u00e9ngn\u00e9ngkung- n\u00e9l\u00e9ngn\u00e9ngkung, cepat besar cepat tinggi, agar dapat bersekolah di Bandung, agar dapat berterima kasih kepada ibu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah alasan yang memang tidak bisa dianggap valid karena sampai hari ini belum ada yang tahu siapa dan kapan pertama kali penyebutan itu populer di Sukabumi. Kendati cukup populer, ada juga teman-teman dari Sukabumi yang tidak mengetahui tentang hal itu. Mungkin saja penyebutan itu populer di saat transportasi ke Ibu Kota masih sangat sulit sehingga UIN Bandung lebih dikenal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan semakin mudahnya akses transportasi, orang-orang Sukabumi pun sekarang tidak hanya kuliah ke Bandung atau ke Jakarta. Banyak dari mereka yang melanglang buana ke berbagai kampus ternama seperti, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan lain-lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami mahasiswa dari UIN Jakarta pun tidak ambil pusing terhadap penyebutan UIN cabang itu karena pada hakikatnya UIN tetaplah UIN yang lulusannya dianggap islamis, paham agama, saleh dan salehah. Meski sering kali tuntutan masyarakat itu tidak terpenuhi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu Sunan Gunung Djati adalah nama lain dari Syarif Hidayatullah, dari nama itu kami semakin yakin tidak ada pusat, tidak ada cabang. Semuanya adalah sama, dan semuanya satu penderitaan. Penderitaan di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia tercinta. Meskipun orang Sukabumi sempat salah paham soal cabang dan pusat UIN, penulis dan teman-teman tidak ambil pusing mengenai hal ini. Kami justru semakin banyak belajar budaya dan kebiasaan di daerah Sunda tersebut.<\/span><\/p>\n<p>UIN Jakarta dan UIN Bandung bukan layaknya oleh-oleh dan rumah makan yang saling mengklaim mana yang cabang dan mana yang pusat. Nyatanya kami juga dipersatukan dalam sebuah kegiatan yang sama dengan tema pendidikan. Setidaknya penduduk di Sukabumi telah menyadari bahwa semenjak dulu pendidikan itu penting, merantau untuk mencari ilmu adalah kegiatan yang mulia.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/komunisme-berubah-jadi-kapitalisme-kalau-soal-mengiklankan-partai\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Komunisme Berubah Jadi Kapitalisme kalau Soal Mengiklankan Partai<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/irvan-hidayat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Irvan Hidayat<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0<i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang Sukabumi pernah salah paham menyebut UIN Jakarta itu kalau di sini disebut UIN cabang, terus UIN pusatnya UIN Bandung. Waduh.<\/p>\n","protected":false},"author":1078,"featured_media":33489,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[175,6071],"class_list":["post-84426","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-pendidikan","tag-uin-jakarta"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84426","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1078"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84426"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84426\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33489"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84426"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84426"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84426"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}