{"id":84382,"date":"2020-10-22T06:42:11","date_gmt":"2020-10-21T23:42:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=84382"},"modified":"2020-10-21T15:49:58","modified_gmt":"2020-10-21T08:49:58","slug":"memilih-setia-sama-motor-tua-daripada-selingkuh-dengan-motor-baru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memilih-setia-sama-motor-tua-daripada-selingkuh-dengan-motor-baru\/","title":{"rendered":"Memilih Setia sama Motor Tua daripada Selingkuh dengan Motor Baru"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kecintaan saya terhadap motor tua berawal saat di bangku SMK. Meski dengan segala kekurangan dan keribetan yang sudah satu paket, saya malah makin suka. Seperti halnya handshake event yang disambut jabat tangan hangat member<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">JKT48, begitu juga kecintaan saya dengan motor tua. Akhirnya saya memiliki Bajaj tahun 1978 dan juga Honda CB.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah, kenapa saya semakin jatuh cinta. Rasa cinta itu tiba-tiba saja muncul, saya tak punya alasan yang pas untuk mendeskripsikannya. Mungkin begitulah yang namanya cinta, tak akan bisa diuraikan dengan kata-kata yang lugas. Hampir seperti tidak perlu alasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang ogah-ogahan merawat motor tua karena dianggap ribet dan bikin susah, perjalanan dan berkendara bukannya makin mudah, yang terjadi justru sebaliknya. Saya sendiri sudah tak terhitung berapa kali mengalami mogok saat riding menggunakan Bajaj sama Honda CB. Namun, hal tersebut malah menjadi kenikmatan yang abadi, alih-alih bikin ngeluh apalagi sakit hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di balik kesusah payahan pasti ada saja hal yang menguntungkan. Termasuk menggunakan motor tua, saya bisa mendapatkan pelajaran dan membuka pandangan dari sisi yang lain. Nah berhubung saya orangnya nggak pelit-pelit amat, saya bakal menjabarkan nilai positif saat mengendarai mesin-mesin lawas itu<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Dilatih untuk bersabar<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua pasti sudah mafhum bahwa motor tua jalannya nggak kenceng-kenceng amat. Pelajaran pertama yang saya sadari adalah nggak cepat panas saat melihat ada motor yang memakai knalpot racing ugal-ugalan salip sana salip sini. Alih-alih terpancing buat membalap atau sekadar misuh-misuh, saya lebih banyak istighfar dalam hati dan tahu diri. Kalau motor tua yang saya pakai digeber begitu, nanti malah menyebabkan masalah lebih besar. Bisa-bisa mesinnya jebol, ngelu deh. Selain itu saya kudu sabar saat motor tua ini lagi ngambek. Disadari atau tidak, mogok itu sudah serupa makanan sehari-hari.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Belajar hidup dengan kesederhanaan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lewat motor tua, saya belajar soal kesederhanaan dalam menjalani hidup. Menerima dan lebih merawat yang sudah ada setulus hat daripada lirik sana-sini ke motor yang lebih modern. Sebab, pada hakikatnya numpak motor rasane podo wae, sing beda cuman gengsine. Penikmat mesin lawasan sudah seharusnya lebih sederhana dalam hidup, nggak neko-neko.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3<\/b> <b>Bisa dijadikan investasi<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya masih ingat betul mahar yang harus saya keluarkan ketika membeli motor tua. Cukup Rp1 jutaan dengan surat lengkap, bodi mulus, bahenol, dan mesin aduhai kasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu itu saya membeli Bajaj tahun 1978, yang jika kalian tahu, bentuknya persis banget sama Vespa yang dari Italia itu. Bajaj sendiri berasal dari India, sudah hemat soal pajak setiap tahun yang nggak sampai Rp100 ribu, namun harga jualnya sekarang bisa berkali-kali lipat dari harga saya beli dulu. Terakhir saya lihat harga jual si Bajaj ini di salah satu marketplace berkisar Rp8 juta dengan kondisi yang sama bagusnya dengan punya saya, lumayan banget, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan motor sekarang yang harga belinya mahal, pajaknya bikin sesak napas dan harga jual bekasnya turun drastis. Menurut saya, ini adalah kesia-siaan belaka. Apalagi untuk seseorang yang keranjingan beli motor baru ketika ada model motor teranyar, mubazir Ngab. Pastinya lebih untung merawat motor tua kemana-mana dong ya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Jadi paham mesin<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tabiat motor tua mau tak mau membuat pencintanya paham mesin. Paling tidak, tahu cara buka dan ganti busi, jurus utama yang dikeluarkan saat motor memberi kejutan mogok. Apalagi kalau mogoknya pas samping kuburan di tengah hutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lho kan ada cara lebih mudah, cari bengkel atau telepon bengkel langganan untuk memperbaiki? Ingat Lur, nggak baik terus bergantung dengan orang lain, mandiri dong. Makanya jangan cuma cinta aja, perlu pengorbanan untuk tahu cara merawatnya juga.<\/span><\/p>\n<h4><b>#5 Nggak kesepian di jalan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak bisa dimungkiri solidaritas pencinta motor tua sangat kuat. Saling lempar salam, senyum, geber manja knalpot, dan sapaan klakson jadi hal yang sepertinya wajib meski kami belum saling kenal sebelumnya. Sangat sering saya mendapat sapaan dari pengendara lain saat riding sendirian. Alih-alih merasa kesepian di jalan karena kejombloan, saya malah merasa banyak teman dan perhatian.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solidaritas ketika mogok pun nggak perlu disangsikan. Banyak pengalaman teman dan saya sendiri ketika mogok, ada saja yang menolong atau sekadar ngobrol basa-basi masalah yang terjadi. Saya jadi kenal banyak kawan dari sini. Lagian, biasanya pengendara motor tua tuh nggak waswas akan dibegal saat riding sendirian tengah malam. Siapa juga yang mau ribet ngerampok? Memang ya, di balik kesusahan selalu saja ada pelajaran dan kebaikan jika kita mau jeli melihatnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kelebihan-cowok-pendek-yang-sering-tidak-disyukuri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kelebihan Cowok Pendek yang Sering Tidak Disyukuri<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/budi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Budi<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak yang ogah-ogahan merawat motor tua karena dianggap ribet dan bikin susah. Tapi, yang namanya cinta itu tak butuh alasan apa pun.<\/p>\n","protected":false},"author":1041,"featured_media":4788,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9106,6728],"class_list":["post-84382","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-motor-tua","tag-otomojok"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84382","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1041"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84382"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84382\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4788"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84382"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84382"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84382"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}