{"id":84340,"date":"2020-10-21T06:54:40","date_gmt":"2020-10-20T23:54:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=84340"},"modified":"2020-10-21T08:53:32","modified_gmt":"2020-10-21T01:53:32","slug":"the-professor-and-the-madman-menguak-sejarah-oxford-english-dictionary","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/the-professor-and-the-madman-menguak-sejarah-oxford-english-dictionary\/","title":{"rendered":"The Professor and The Madman: Menguak Sejarah Oxford English Dictionary"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak heran film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Professor and The Madman<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> saat ini ramai diperbincangkan. Sebab, film ini menakjubkan. Saya pertama kali nonton film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Professor and The Madman<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> April lalu. Saat itu saya berkicau melalui akun Twitter saya kalau film ini recommended untuk ditonton. Sebab, di film ini kita akan tahu sejarah pembuatan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Oxford English Dictionary<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kemudian penasaran, mengapa belakangan ini beranda Twitter saya dipenuhi tweet-tweet tentang film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Professor and The Madman.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Ternyata, film ini tayang secara eksklusif di Mola TV mulai Oktober ini. Padahal, film garapan Farhad Safinia ini dirilis pertama kali pada 10 Mei 2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menariknya, dalam film ini adalah dua aktor pemenang Academy Award Mel Gibson dan Sean Penn untuk pertama kalinya berkolaborasi. Mel Gibson berperan sebagai Professor James Murray sedangkan Sean Penn sebagai Doktor William Minor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat saya menyaksikan film ini, saya salut ketika James Murray berani mengajukan diri untuk menyusun kamus <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Oxford<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Sebab, dia tidak memiliki gelar sarjana dari universitas. Karena hal ini, dia otomatis diremehkan oleh para dewan penerbitan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Oxford<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Lebih dari itu, dia dianggap tidak memiliki keahlian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, keahlian James Murray adalah dia fasih bahasa Latin dan Yunani. Dia juga terbiasa berbicara dengan bahasa Romawi. Bahkan, dia bisa bahasa Italia, Prancis, Spanyol, Catalan, Portugis, Jerman, Belanda, Denmark, Rusia, dan masih banyak lagi. Keahliannya ini dia perlihatkan di depan para dewan yang meremehkannya itu saat salah satu dewan melemparkan pertanyaan kepada dirinya tentang apa arti kata \u201cclever\u201d. Dia menjawab arti kata tersebut dengan jelas dan terpilihlah menjadi penyusun kamus Oxford.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam menyusun kamus <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Oxford<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, menurut para dewan tersebut, pengerjaan ini mustahil dilakukan. Sebab, mereka sendiri sudah melakukan usaha luar biasa dalam menyusun kamus ini selama 20 tahun namun tidak membuahkan hasil. Terlebih, kamus ini harus memuat semua kata, setiap variasi arti kata, asal-usul kata, dengan kutipan ilustrasi dari semua pengarang Inggris. Namun, James Murray meyakinkan kepada para dewan bahwa sekitar lima tahun kamus ini bisa selesai. Paling lama tujuh tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Oxford, James Murray mulai menyusun kamus tersebut bersama timnya dengan deadline yang sangat ketat dari penerbit. Dan dia mengalami kesulitan yang luar biasa. Apalagi saat mencari definisi kata \u201cart\u201d dan \u201capprove\u201d. Ngomong-ngomong, kamus ini mesti dimulai dari kata \u201cadardvark\u201d dan berlanjut sampai kata \u201czymugry\u201d. Bayangkan, dari huruf \u201ca\u201d saja sudah kerepotan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Merasa kerepotan, James Murray dan timnya mencari sukarelawan untuk menyelesaikan kamus ini dengan menyebarkan selebaran kertas melalui pos surat, toko buku, dan lain-lain. Selebaran kertas ini sampai lah ke tangan Dr. William saat ia membaca buku di tahanan rumah sakit jiwa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dr. William adalah pensiunan kapten ahli bedah AD Amerika. Ia ditahan di rumah sakit jiwa atas tindakan kriminal karena gila. Selama ditahan di Broadmoor (nama rumah sakit jiwa tersebut) yang dia minta kepada penjaga rumah sakit jiwa adalah buku, buku dan buku. Tujuannya, untuk membantu James Murray dalam mencari kata-kata yang belum Murray dapatkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dr. William ini punya penyakit skizofrenia. Penyakit gangguan kejiwaan yang membuat pengidapnya mengalami halusinasi, delusi dan perubahan sikap. Salah satu obatnya adalah membaca buku. Dan karena dia banyak baca buku, dia jadi punya banyak referensi sehingga menjadi kontributor utama untuk Kamus Oxford tersebut. Sehingga, dia terus mengirim banyak kata-kata kepada James Murray.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Professor and The Madman<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini diangkat dari novel karya Simon Winchester dengan judul yang sama. Banyak ulasan yang membikin film ini banyak ditonton. Selain karena pemerannya, alur ceritanya juga menarik. Soalnya film ini dilengkapi dengan kisah percintaan Dr. William dan Eliza sehingga tidak membosankan. Saya kira tokoh Eliza alias Natalie Dormer cuma tokoh figuran namun ternyata cukup krusial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih dari itu, pembuatan Oxford English Dictionary terjadi pada 1872. Di mana di zaman ini tentu saja belum ada komputer, internet, dan penerangan juga terbatas. Jadi, bikin kamus ini adalah sebuah proyek yang luar biasa. Saya takjub mengikuti cerita di film ini. Dan sehabis nonton film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Professor and The Madman <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">saya jadi tahu sejarah pembuatan kamus sejuta umat ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kasih skor 9\/10 buat film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Professor and The Madman.<\/span><\/i><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: Akun Twitter <a href=\"https:\/\/twitter.com\/PropCazhPM\/status\/1317142214301175808?s=20\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">@PropCazhPM<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bertanya-langsung-alasan-buruh-garut-ikut-demo-omnibus-law-cipta-kerja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Bertanya Langsung Alasan Buruh Garut Ikut Demo Omnibus Law Cipta Kerja<\/a>\u00a0dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-ridwansyah\/\">\u00a0Muhammad Ridwansyah<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Film The Professor and The Madman ini diangkat dari novel karya Simon Winchester dengan judul yang sama dan dibintangi oleh Mel Gibson.<\/p>\n","protected":false},"author":867,"featured_media":84384,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[28,9273,9272],"class_list":["post-84340","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-film","tag-oxford","tag-the-professor-and-the-madman"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84340","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/867"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84340"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84340\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/84384"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84340"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84340"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84340"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}