{"id":84300,"date":"2020-10-21T11:01:59","date_gmt":"2020-10-21T04:01:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=84300"},"modified":"2020-10-21T11:02:55","modified_gmt":"2020-10-21T04:02:55","slug":"konsekuensi-memberi-predikat-paling-dalam-menilai-film-atau-serial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/konsekuensi-memberi-predikat-paling-dalam-menilai-film-atau-serial\/","title":{"rendered":"Konsekuensi Memberi Predikat &#8216;Paling&#8217; dalam Menilai Film atau Serial"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 4 Agustus 2020 lalu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mengunggah tulisan kak Rifky Aritama berjudul<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kimetsu-no-yaiba-anime-paling-bagus-dari-segi-kualitas-animasinya\/\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Kimetsu no Yaiba, Anime Paling Bagus dari Segi Kualitas Animasinya<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Sebelum membaca inti tulisannya, saya terlebih dahulu melihat kolom komentar. Dugaan saya benar, banyak yang komen, dan kebanyakan mempertanyakan predikat \u201cpaling\u201d yang penulis sebutkan. Ada yang mengatakan bahwa animasi lain lebih bagus. Ada pula yang berkomentar lebih sinis macam, \u201cBoleh aku ketawa???\u201d atau \u201cLagi ngelawak nih?\u201d Memberikan predikat \u201cpaling\u201d dalam menilai film atau tontonan memang punya konsekuensi dan pemberian predikat \u201cpaling\u201d pada Kimetsu no Yaiba saya rasa kurang layak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila penulis (atau mungkin redaktur) dalam memberikan kata \u201cpaling\u201d bertujuan agar banyak yang membaca tulisan itu, peluang berhasilnya memang akan besar. Terlebih orang yang suka anime dan punya idola tertentu. Mereka akan membaca karena merasa penasaran dengan argumen yang ada. Apabila lagi-lagi tulisan itu untuk menggaet banyak pembaca, maka diskusi bisa berhenti di sini. Tapi, misal ingin menilai apakah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kimetsu no Yaiba<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memang animasi terbaik atau tidak, tentu banyak yang bisa kita bicarakan lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya belum menonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kimetsu no Yaiba<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau dua anime yang kak Rifky Aritama sebutkan sebagai pembanding: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Boku no Hero Academia <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Attack on Titan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Tanpa perlu menonton anime-nya terlebih dahulu, melihat poin-poin dalam tulisannya, terdapat argumen yang lemah untuk membuktikan bahwa Kimetsu no Yaiba merupakan anime terbaik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara garis besar, kak Rifky Aritama memberikan dua argumen. <\/span><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kimetsu no Yaiba<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memiliki kualitas animasi yang memanjakan mata. <\/span><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, terkait cerita yang sangat bagus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Poin pertama berhenti pada kalimat yang cukup ambigu, \u201cmemanjakan mata\u201d. Tidak jelas maksud dari memanjakan mata di sini. Apakah animasinya detail? Apakah warnanya realistis? Apakah pemilihan angle-nya yang unik? Tidak ada penguat dari argumen menilai film dengan kalimat \u201cmemanjakan mata\u201d. Kak Rifky Aritama justru lebih sibuk membahas bahwa animasi ini berasal dari studio ini dan mendapatkan penghasilan segini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua hal itu tidak terkait langsung dengan kualitas animasi. Kita sedang membahas animasinya sebagai hasil akhir, bukan studionya. Studio besar juga berpotensi gagal dalam menggarap film atau serial. Kita juga sedang membahas animasinya, bukan pendapatannya. Nyatanya banyak film atau serial yang laku keras tapi kualitasnya nggak bagus-bagus amat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Poin kedua yaitu cerita yang \u201csangat bagus\u201d. Ini juga tidak ada pembuktian alasan bahwa ceritanya sangat bagus. Apakah animenya memiliki konteks sejarah, atau menyuarakan rakyat tertindas, atau mengangkat karakter yang jarang terungkap atau apa. Kak Rifky Aritama hanya memberikan sedikit sinopsisnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua poin itu menjadi lemah karena tidak membandingkan dengan dua anime yang sebelumnya telah disebutkan. Umumnya, apabila menggunakan kata \u201cpaling\u201d dalam menilai film, perlu adanya perbandingan. Misal si Budi nilainya paling tinggi di antara Ani dan Rhoma. Budi mendapat nilai 90, sementara Ani 70 dan Rhoma 80. Jadi, jelas mengapa sesuatu menjadi \u201cpaling\u201d di antara yang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang dalam resensi film atau serial tidak ada hal yang obyektif. Adanya subyektif yang dipertanggungjawabkan. Argumen dalam mempertanggungjawabkan ini akan lebih kuat apabila terdapat di konten yang ada di film atau serial. Semisal <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kimetsu no Yaiba<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bagus dalam hal animasinya. Kita bisa melihat detail-detail tubuh setiap karakter bahkan sampai helai rambut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita paham bahwa menonton merupakan \u201cibadah\u201d yang setiap orangnya memiliki pengalaman berbeda. Sebagian orang lain merasa biasa saja, bagi sebagian lain bisa sangat menyentuh. Bisa jadi karena cerita dalam film atau serial itu sangat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">relate<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan hidupnya. Konteks sosial, pengetahuan, banyaknya referensi pun akan berpengaruh dalam menilai film atau serial. Penilaian yang berbeda sah dan sering terjadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu kalimat yang saya ingat betul saat mengikuti pelatihan kritik film, bunyinya kurang lebih, \u201cTidak masalah kamu berbeda dalam menilai film. Misal banyak orang bilang jelek, tapi kamu merasa film itu bagus, nggak masalah. Tulis aja kalau film itu bagus. Tapi, buktikan kanapa itu bagus. Jangan berhenti sampai kata sifat.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sehingga memberi predikat \u201cpaling\u201d perlu tanggung jawab dan argumen yang lebih jelas. Perlu punya indikator yang jelas sebagai alat untuk membandingkan. Ceritakan juga perbandingan setiap film dan serialnya. Apa yang membuat anime ini lebih bagus dari anime itu. Bukan untuk menyenangkan orang lain yang membaca, tapi untuk lebih adil dalam menilai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak punya masalah dengan kak Rifky Aritama ya. Tulisan itu hanya saya ambil sebagai contoh untuk mengutarakan opini. Bahkan saya senang di Terminal Mojok semakin banyak tulisan yang membahas film dan serial. Semakin banyak bahan untuk bacaan. Bisa jadi justru tulisan saya yang \u201cpaling\u201d sok tahu.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasib-imigran-yang-berjaya-terlunta-dan-menderita-di-film-martin-scorsese\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nasib Imigran yang Berjaya, Terlunta, dan Menderita di Film Martin Scorsese<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/sirojul-khafid\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Sirojul Khafid<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Memberikan predikat \u201cpaling\u201d dalam menilai film harus diiringi dengan alasan-alasan yang bertanggung jawab. Pembandingnya pun perlu jelas.<\/p>\n","protected":false},"author":741,"featured_media":30129,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1630,773],"class_list":["post-84300","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kritik","tag-review-film"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84300","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/741"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84300"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84300\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/30129"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84300"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84300"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84300"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}