{"id":84292,"date":"2020-10-23T07:32:17","date_gmt":"2020-10-23T00:32:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=84292"},"modified":"2020-10-21T00:00:08","modified_gmt":"2020-10-20T17:00:08","slug":"kriteria-menantu-idaman-di-lamongan-bukan-pns-tapi-dia-yang-punya-terpal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kriteria-menantu-idaman-di-lamongan-bukan-pns-tapi-dia-yang-punya-terpal\/","title":{"rendered":"Kriteria Menantu Idaman di Lamongan Bukan PNS, tapi Dia yang Punya Terpal"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya mempunyai kehidupan yang lebih layak darinya. Seperti mempunyai harta yang cukup, tanpa harus banting tulang memeras keringat dalam mencari nafkah. Kehidupan yang sejahtera selalu menjadi idaman setiap orang tua. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Terlebih ketika menentukan calon menantu. Pasti orang tua akan memilihkan yang sudah mapan, sudah mempunyai penghasilan, dan punya mimpi di masa depan. Jika punya sederet aspek tadi, sudah dapat dipastikan masuk dalam kriteria menantu idaman setiap orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak jauh berbeda dengan masyarakat Lamongan dalam menentukan kriteria menantu idaman. Seorang menantu, harus memenuhi standar &#8220;SNI&#8221;, agar tidak mengecewakan di kemudian hari. Masak, ya, mau dikembalikan lagi jika ada minusnya? Meski\u00a0 sosio-ekonomi masyarakat Lamongan terbilang baik dibandingkan kabupaten lain di Jawa Timur, kriteria menantu idaman tetap yang terdepan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih baik, selain dengan cara bekerja keras, juga dengan memilih menantu yang mempunyai jaminan masa depan. Meski tidak salah, ada hal yang rasanya mengganjal dari pernyataan tersebut. Terlebih ketika Menko PMK Muhadjir Effendy melontarkan pernyataan kontroversial, \u201cKeluarga miskin besanan, melahirkan keluarga miskin baru.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lah, aneh-aneh saja. Pernyataan tersebut langsung membuat hampir semua masyarakat tersinggung. Kok, bisa semua masyarakat? Kan, yang disebutkan hanya yang miskin? Lha gimana nggak, meskipun kaya, toh, di rumahnya masih ada tabung gas 3 kg yang bertuliskan, \u201cHANYA UNTUK MASYARAKAT MISKIN\u201d. Jadi, jangan ngaku kaya kalau di rumah masih ada tabung gas 3 kg, ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nasib menjadi miskin tentu bukan perkara mudah. Agar bisa terlepas dari status ini, seseorang harus bekerja keras supaya bisa mengubah nasib dan terhindar dari jurang kemiskinan. Ya, meskipun banyak yang masih mengaku miskin biar dapat bantuan dari pemerintah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Langkah awal memperbaiki taraf hidup dimulai dari dari jenjang pernikahan. Inilah alasan kenapa ucapan di setiap pernikahan selalu berbunyi seperti ini, \u201cSelamat menempuh hidup baru\u201d. Kehidupan baru akan dimulai. Baik tidaknya suatu keluarga ditentukan dua insan yang disatukan dalam bahtera rumah tangga. Tak heran, banyak yang mempersiapkannya mulai dari kriteria pasangan sampai pekerjaan yang sedang digeluti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam pandangan sebagian masyarakat, pekerjaan yang menjanjikan kesejahteraan, tak lain tak bukan dan menjadi puncak klasemen adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dengan gaji yang lumayan, seragam yang mentereng, dan jaminan hari tua yang tidak bisa disepelekan, ditambah rumah dinas plus mobil dinas, membuat banyak orang tua kepincut pengin menjadikannya anak mantu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, menurut pengamatan saya, di Lamongan, PNS tak semenarik di daerah lain. Pasalnya, selain mayoritas masyarakat Lamongan adalah petani, kebanyakan juga perantauan. Inilah keunikan yang ada di Kabupaten berlambang lele dan bandeng ini. Lihat saja, kita tidak sulit, kan, menemukan Warung Lamongan dari Sabang sampai Merauke yang tersebar bak jamur di musim hujan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyaknya perantau yang sukses di perantauan dengan seabrek materi yang didapatkan, menjadikannya punya status sosial yang tinggi di masyarakat. Meski tidak mendapat mobil dinas dari pemerintah seperti PNS, para perantau ini bisa memiliki mobil setara PNS bahkan di atasnya. Dari situlah muncul istilah \u201cnduwe terpal\u201d. Istilah ini muncul karena kebanyakan perantau adalah penjual Pecel Lele Lamongan, dengan lapak sederhana, beratapkan terpal, dan beralaskan tikar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka tak heran banyak orang tua yang melirik para pemilik terpal ini. Bahkan menjadikannya sebagai menantu idaman kelas wahid di Lamongan. Sebab, mempunyai Warung Pecel Lele dikategorikan lebih dari cukup, baik materi maupun etos kerjanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, bagaimana nasib pemuda yang menggeluti bidang pertanian, yang berinteraksi dengan tanah dan lumpur?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai menggapai bulan, butuh banyak tangga untuk didaki, butuh banyak galah untuk menggayuh. Meski mereka punya terpal seperti para perantau, tapi sedikit yang melirik. Bagaimana tidak? Wong terpalnya buat menjemur padi waktu panen, bukan untuk buka Warung Pecel Lele.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/penyebab-orang-lamongan-pantang-makan-lele-meskipun-jualan-pecel-lele\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Penyebab Orang Lamongan Pantang Makan Lele meskipun Jualan Pecel Lele<\/strong><\/a> <b><\/b><b>dan tulisan <\/b><b>lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih baik, selain bekerja keras, juga dengan memilih menantu yang mempunyai jaminan masa depan.<\/p>\n","protected":false},"author":1090,"featured_media":84353,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[8369,8758],"class_list":["post-84292","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-menantu","tag-pecel-lele"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84292","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1090"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84292"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84292\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/84353"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84292"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84292"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84292"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}