{"id":84166,"date":"2020-10-23T05:59:45","date_gmt":"2020-10-22T22:59:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=84166"},"modified":"2020-10-22T14:13:32","modified_gmt":"2020-10-22T07:13:32","slug":"komunisme-berubah-jadi-kapitalisme-kalau-soal-mengiklankan-partai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/komunisme-berubah-jadi-kapitalisme-kalau-soal-mengiklankan-partai\/","title":{"rendered":"Komunisme Berubah Jadi Kapitalisme kalau Soal Mengiklankan Partai"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Citra komunisme di negara kita sudah tidak ada baik-baiknya. Narasi Orde Baru (Orba) berhasil membuat masyarakat Indonesia sangat membenci komunisme dalam hal ini adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Padahal keduanya adalah entitas yang berbeda, komunisme adalah ideologi dan PKI adalah partai, tapi keduanya sering disatukan dalam keranjang yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebencian ditularkan lewat doktrin tunggal terhadap sejarah perkembangan PKI di Indonesia. Barulah setelah Orba runtuh banyak sejarawan berani menulis dengan perspektif yang berbeda dengan negara. Kendati begitu, masih banyak orang yang tutup mata, mereka ini termasuk golongan manusia yang melihat sejarah PKI secara terpisah atau tidak runtut dari awal kemunculan sampai pembubarannya. Padahal, kebencian akan menutup kemungkinan lain yang bisa dipelajari dari PKI.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2019 penulis melakukan penelitian tentang surat kabar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sinar Djawa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sinar Hindia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> edisi 1917-1918. Surat kabar tersebut adalah milik Sarekat Islam Semarang yang dikenal sebagai cikal bakal lahirnya PKI di Indonesia. Kedua koran itu sebenarnya sama, perubahan nama dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sinar Djawa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Sinar Hindia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> hanya menandai perubahan watak surat kabar tersebut. Singkatnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sinar Djawa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> lebih lembek sedangkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sinar Hindia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> lebih keras dalam menyuarakan hak-hak pribumi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski secara resmi PKI belum muncul pada 1918, ideologinya sudah menjalar ke anak-anak muda yang di dalamnya termasuk orang-orang redaksi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sinar Hindia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Bahkan mereka lah tokoh generasi awal dari PKI yaitu, Semaun dan Darsono. Saat mengkaji dengan serius lembar demi lembar koran-koran tersebut, penulis menemukan hal janggal. Kita tahu komunisme lawannya adalah kapitalisme.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Komunisme menolak adanya kepemilikan modal dan alat produksi oleh individu, melarang eksploitasi manusia akibat jam kerja dan gaji yang tidak sebanding dengan kerja yang dilakukan. Namun, alih-alih menerapkannya secara total, komunisme di masa lalu tidak seperti itu. Sinar Hindia memasang banyak iklan di halaman tengah dan halaman belakang yang isinya adalah iklan-iklan dari perusahaan mobil, sepeda, obat-obatan, dan makanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi hal yang kontradiktif bukan? Komunisme musuh kapitalisme, tapi dia melancarkan jalan kapitalisme melalui iklan. Apalagi generasi awal komunisme sangat kental dengan jargon \u201csama rata sama rasa\u201d yang diperkenalkan Mas Marco. Awalnya penulis menduga, mungkin karena PKI belum resmi berdiri jadi hal yang demikian tidak menjadi persoalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian penulis berubah pikiran saat membaca koran<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Harian Rakyat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang diterbitkan PKI pada 1955. Di balik keberaniannya mengkritik pemerintah dan semangat yang menggelora berkampanye untuk partainya demi memenangkan Pemilu pertama 1955, ada iklan-iklan kapitalis yang bercokol di halaman tengah dan halaman belakang Harian Rakyat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak tanggung-tanggung, merek-merek terkenal seperti Vespa, Bintang Toedjoe, Anggur Kolesom Cap Lonceng, Blue band, Obat Anak Sumeng Tjap Pedang, Pomade, Anggur Beranak, dan iklan judi pun ada di koran <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Harian Rakyat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Iklan-iklan tersebut berbentuk gambar hitam putih dengan copywriting yang kalau kita baca sekarang bikin ketawa karena kita menganggap bahasanya jadul banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iklan dari merek-merek terkenal itu adalah sebuah kontradiksi yang bikin bingung, penulis bertanya-tanya apakah ini sebuah pengkhianatan terhadap ideologi, penyesuaian diri, atau memang tidak ada jalan lain untuk mencari uang. Bukankah uang sangat penting untuk keberlanjutan hidup dari sebuah surat kabar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada masa itu teknologi digital belum secanggih sekarang, media yang paling efektif adalah koran. Sementara itu, koran harus dicetak, untuk mencetak tentu butuh banyak sekali uang apalagi kalau korannya skala nasional. Biaya cetak belum termasuk dengan gaji pegawai dan redaksi, sewa gedung kantor, tagihan listrik, tagihan air, dan lain-lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semuanya harus dibayar pakai uang, oleh karena itu komunisme di Indonesia telah mengalami penyesuaian atau dengan kata lain, tidak ada yang benar-benar komunis. Mungkin kita tidak akan pernah tahu hal-hal seperti ini kalau bencinya tidak beralasan, dan tidak mau belajar mencari hal-hal yang menarik dari apa yang banyak orang benci.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentunya Anda tidak akan menemukan yang seperti ini di buku-buku sejarah sekolah, karena tahu sendirilah di negeri ini PKI adalah hantu yang terus dipelihara untuk menebar ketakutan. Kalau teman penulis bilang semua ini serupa \u201cgorengan yang diangetin\u201d. Selalu laku dan banyak yang beli.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-sastra-rusia-dan-stereotip-komunis-yang-melekat-di-dalamnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Jurusan Sastra Rusia dan Stereotip Komunis yang Melekat di Dalamnya<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0<i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Komunisme musuh kapitalisme, tapi dia melancarkan jalan kapitalisme melalui iklan-iklan yang diterbitkan oleh media pada awal kemunculannya.<\/p>\n","protected":false},"author":1078,"featured_media":31706,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2131,4011],"class_list":["post-84166","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-komunis","tag-pki"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84166","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1078"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84166"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84166\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31706"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84166"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84166"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84166"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}