{"id":84153,"date":"2020-10-22T07:33:12","date_gmt":"2020-10-22T00:33:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=84153"},"modified":"2020-10-20T21:32:34","modified_gmt":"2020-10-20T14:32:34","slug":"shokugeki-no-soma-bukan-sekadar-anime-masak-memasak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/shokugeki-no-soma-bukan-sekadar-anime-masak-memasak\/","title":{"rendered":"Shokugeki no Soma, Bukan Sekadar Anime Masak-Memasak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">MasterChef Indonesia baru saja memasuki musim ketujuhnya. Saya yang udah mengikuti acara masak-memasak tersebut sejak musim pertamanya jadi teringat salah satu anime<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">bertema masak-memasak yang saya tonton beberapa bulan yang lalu, yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shokugeki no Soma. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, ini anime<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">yang kadang-kadang jadi bahan konten YouTube Chef Arnold, salah satu juri MasterChef Indonesia. Meskipun anime<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">ini kayaknya \u201ccuma\u201d soal dunia kuliner, tapi saya betah banget nontonnya\u2014saking serunya!<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shokugeki no Soma <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">bercerita tentang Yukihira Soma, remaja 15 tahun yang jago masak dan punya usaha kedai makanan bareng ayahnya. Suatu hari, ayahnya memasukkan Soma ke Akademi Totsuki, sekolah kuliner elite di Jepang. Awalnya Soma ogah-ogahan, tapi akhirnya dia manut<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">juga dan masuk ke sekolah tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akademi Totsuki ini punya semacam tradisi bernama shokugeki<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">alias perang makanan. Tradisi ini biasanya diselenggarakan kalau ada masalah di antara murid-murid Totsuki (seperti memperebutkan posisi di organisasi tertentu atau malah memperebutkan lahan untuk kegiatan klub). Selain itu, Totsuki punya badan tertinggi yang disebut Elite Sepuluh. Badan ini semacam OSIS gitu, tapi mereka berhak membuat aturan-aturan dan keputusan tertentu yang harus dipatuhi seluruh sekolah, bahkan Dewan Sekolah sekalipun!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu baru pindah ke Totsuki, Soma ketemu dengan salah satu anggota Elite Sepuluh, Nakiri Erina. Erina ini sejak awal udah kesel banget dengan Soma karena kesannya Soma ini terlalu santuy<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">padahal di Totsuki persaingan antar murid tuh ketat banget. Sejak hari pertama pindah pun, Soma udah bikin pengumuman ke sesama murid baru kalau dia cuma nganggep Totsuki sebagai batu loncatan. Ngeselin kan, ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun begitu, Soma masih tetep bisa berteman dengan sesama murid Totsuki, kok. Kebanyakan sih, teman-temannya sesama penghuni asrama Polar Star. Asrama ini yang nantinya jadi rumah dan keluarga kedua buat Soma di Totsuki\u2014dan menemani Soma melalui rintangan-rintangan yang ia hadapi di sekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dirangkum, anime<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">ini berfokus pada Soma yang sering menantang atau ditantang shokugeki<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">oleh orang lain, biasanya mereka yang punya keahlian di suatu bidang kuliner tertentu. Karena Soma tokoh utamanya, wajar kalau kita berasumsi dia bakal terus-terusan menang shokugeki. Namun, pada kenyataannya Soma justru harus mengakui kekalahannya beberapa kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat saya, fakta bahwa Soma nggak selalu menang<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">shokugeki justru menjadi poin plus dari segi karakter. Lantaran beberapa kali kalah, kita jadi tahu kalau Soma orangnya nggak selalu mengandalkan bakatnya dan mau belajar dari kekalahan tersebut. Kita juga melihat bagaimana Soma sangat berjiwa kompetitif: ia selalu berusaha mengakali kehebatan lawan-lawannya yang sangat jago demi memenangkan shokugeki. Singkatnya, Soma jadi kelihatan manusiawi dan nggak terkesan OP alias overpowered.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngomong-ngomong soal karakter, karakter-karakter di anime ini cukup beragam. Salah satu poin yang saya suka adalah character development-nya yang nggak \u201cmaksa\u201d. Banyak banget karakter di anime ini\u2014selain Soma, tentunya\u2014yang awalnya terkesan menyebalkan, sombong, arogan, dan semacamnya, tapi lama-lama mereka jadi cukup likeable.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari segi cerita, menurut saya plotnya agak-agak template: Soma dihadapkan oleh suatu permasalahan, Soma ditantang\/menantang shokugeki, Soma latihan masak, shokugeki dilaksanakan, terus Soma atau lawannya menang. Gituuu aja terus sampai beberapa episode. Hal tersebut jadi poin minus dari anime ini, walaupun semakin ke sini plotnya mulai sedikit variatif. Meskipun begitu, alur ceritanya masih cukup asyik buat dinikmati, kok!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih membahas cerita, walaupun plotnya terkesan template, penuturan ceritanya cukup smooth. Contoh yang menurut saya paling kentara waktu Soma berteman dengan lawan-lawannya di shokugeki terdahulu. Awalnya mereka memang bermusuhan, tapi di beberapa episode selanjutnya Soma dan lawan-lawannya perlahan mulai menjalin pertemanan. Hal ini justru menguntungkan Soma karena merekalah yang membantu Soma ketika dihadapkan oleh shokugeki-shokugeki mendatang. Saking smooth-nya, saya aja baru sadar Soma ternyata udah berteman dengan mereka setelah beberapa episode.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu menonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shokugeki no Soma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kita bakal sering-sering disuguhkan dengan berbagai masakan lezat yang dibuat dengan bahan dan teknik yang kelihatannya canggih banget. Kalau kita awam dengan dunia kuliner, kayaknya masakan, bahan, dan teknik memasak yang ada di anime ini memang terlihat mengada-ada, tapi sebenarnya nggak lho! Hampir semua pengetahuan soal dunia kuliner yang ada di sini memang beneran ada di dunia nyata. Chef Arnold udah beberapa kali mencoba resep dan teknik dari anime ini, jadi approved lah sama chef beneran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh iya, salah satu hal yang patut diperhatikan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shokugeki no Soma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini sebenarnya termasuk anime ecchi (nggak perlulah ya saya menjelaskan secara detail ecchi itu gimana). Satu poin yang saya perhatikan dari beberapa komentar netizen, konten seksual di anime jenis ini biasanya terkesan lebay dan malah mengganggu cerita utama dari anime itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun bagusnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shokugeki no Soma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bisa menempatkan konten-konten tersebut dalam porsi yang pas dan somehow malah jadi masuk akal. Kok bisa? Soalnya, di dunia nyata pun, saya sering menemukan orang yang bilang kalau makanan lezat itu memberikan sensasi yang sama enaknya ketika berhubungan seks. Katanya sih begitu, saya sendiri juga nggak tahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkatnya, menurut saya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shokugeki no Soma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> seru banget buat diikutin. Nggak cuma terhibur dengan alur ceritanya, tapi kita juga bakal mendapatkan banyak pengetahuan soal dunia kuliner. Malahan, kalau niat sih, bisa saja kita meniru resep-resep yang ada di anime tersebut. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shokugeki no Soma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bisa ditonton di Netflix ya, Kawan-kawan!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yang-tidak-dimasak-ketika-memasak-di-masterchef-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Yang Tidak Dimasak Ketika Memasak di MasterChef Indonesia<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/kania-manika-paramahita\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kania Manika Paramahita<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Shokugeki no Soma bercerita tentang Yukihira Soma, remaja 15 tahun yang jago masak dan masuk ke Akademi Totsuki, sekolah kuliner elite di Jepang.<\/p>\n","protected":false},"author":958,"featured_media":84319,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2775,9267],"class_list":["post-84153","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-anime","tag-shokugeki-no-soma"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84153","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/958"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84153"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84153\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/84319"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84153"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84153"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84153"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}