{"id":84135,"date":"2020-10-21T06:11:19","date_gmt":"2020-10-20T23:11:19","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=84135"},"modified":"2020-10-20T19:49:30","modified_gmt":"2020-10-20T12:49:30","slug":"makan-nasi-padang-pakai-sendok-itu-kurang-kerjaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makan-nasi-padang-pakai-sendok-itu-kurang-kerjaan\/","title":{"rendered":"Makan Nasi Padang Pakai Sendok Itu Kurang Kerjaan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa bulan yang lalu, waktu kuliah masih belajar luring alias belum daring, saya dan beberapa teman makan di sebuah rumah makan padang dekat kampus. Tidak ada hal menarik saat di sana, hanya cerita-cerita selepas kelas telah usai. Namun semua itu berubah saat hidangan nasi padang telah tiba di hadapan kami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan masalah lauknya atau rumah makannya yang gimana-gimana, tapi cara temen saya makan nasi padang itu yang membuat kaget. Seumur hidup saya yang sudah menginjak kepala dua ini kaget melihat teman saya yang makan nasi padang pakai sendok!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, titik nikmat makan nasi padang itu tanpa sendok, alias cukup dengan tangan udah nikmat banget. Sekte penganut makan nasi padang pakai sendok ternyata benar adanya, saya kira itu cuma mitos semata, eh ternyata ada beneran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa-bisanya makan nasi padang pakai sendok? Mending kalau cuma sendok, tapi ini dengan garpu pula, macam makan di restoran saja. Awalnya saya gusar dan penasaran. Lalu saya juga kurang \u201csreg\u201d melihat fenomena semacam ini. Kayak ada yang mengganjal aja gitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, setelah saya tanyakan alasan kenapa kawan saya makan nasi padang pakai sendok, rasa gusar dan penasaran itu hilang untuk sementara. Setidaknya ada empat alasan yang dia utarakan.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, di rumah makan padang itu lauk-pauknya identik dengan kuah gulainya yang didominasi dengan santan. Minyaknya pun cukup banyak. Apalagi kalau kita memesan paket ceban nasi padang, lauk apa pun itu pasti akan ditambah dengan kuah gulai khas padang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, kawan saya menganggap kalau makan nasi padang dengan tangan itu nggak nyaman, nanti tangannya licin dan berminyak juga. Ia beranggapan bahwa solusi dari itu semua adalah dengan pakai sendok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, nikmatnya makan nasi padang ya letaknya disitu, tangan terasa berminyak dan licin. Apalagi jika nasi dan kuahnya masih menempel di jari dan dibersihkan dengan cara \u201cdijilat\u201d oleh. Hmmm nikmaaat\u2026<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, kawan saya beranggapan kalau makan pakai tangan nanti susah membersihkannya. Nggak cukup sekali cuci tangan, maka solusinya dengan pakai sendok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ini sih memang nggak sepenuhnya salah juga. Saya pun terkadang setelah makan nasi padang mencuci tangannya harus lebih dari sekali, ya minimal dua kali untuk membersihkan tangan dari sisa kuah berminyak yang masih menempel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal mbok<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">ya tinggal cuci tangan aja, nggak ribet kok. Apa susahnya cuci tangan lebih dari sekali. Malah makin bagus cuci tangan lebih dari dua kali, terbebas dari virus corona.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">,<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">kawan saya bilang kalau aroma kuah gulainya yang\u00a0 masih suka menempel di tangan walaupun sudah cuci tangan pakai sabun. Ia beranggapan aroma yang masih menempel ini mengganggu aktivitasnya. Terutama saat menulis di buku catatan, aromanya mengganggu banget, kecium terus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya solusinya mudah banget, kalau sekiranya aroma kuah gulainya masih menempel di jariny, ya tinggal semprot pakai parfum. Jangankan pakai parfum, pakai hand sanitizer pun aroma kuahnya sudah hilang kok.<\/span><\/p>\n<p><b>Keempat<\/b><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ia beralasan kalau dengan makan nasi padang pakai sendok jadi menghemat waktu lebih banyak. Waktunya jadi tidak habis berkutat dengan bercuci tangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Astagaaa padahal seberapa lama sih durasi orang cuci tangan? Lima menit pun nggak nyampe, 20 detik pun sudah selesai kok cuci tangannya, sesuai panduan dari WHO. Kalaupun masih ada aroma gulainya, cuci tangan lagi sampai aroma itu hilang paling lama satu menit. Terkadang satu menit juga nggak sampai.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah mendengar jawaban kawan saya, saya berpendapat bahwa alasan itu dibuat-buat, nggak make sense. Fix, selama hidupnya belum pernah makan nasi padang pakai tangan. Padahal, kenikmatan yang didapat itu jauh lebih banyak dibanding dengan ngurusin hal-hal yang meribetkan tadi. Pokoknya pengorbanannya terbayarkan lah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu saya berkesimpulan kalau ada orang yang makan nasi padang pakai sendok, mereka belum pernah merasakan nikmatnya makan pakai tangan. Yang ngeyel pakai sendok itu ibarat makan nasi goreng nggak pakai kecap, serasa ada yang kurang dan nggak nikmat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kaum-kaum pakai sendok ini coba deh, sekali aja makan nasi padang pakai tangan. Saya jamin kalian akan sependapat sama saya. Kalau kalian masih keras kepala, fix memang ada yang salah sama diri kalian.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/malam-minggu-miko-pelopor-web-series-di-indonesia-meski-ceritanya-nggak-lucu-lucu-amat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Malam Minggu Miko, Pelopor Web Series di Indonesia meski Ceritanya Nggak Lucu-lucu Amat<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/rifky-aritama\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rifky Aritama<\/a>\u00a0lainnya di\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terminal Mojok<\/a>.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bisa-bisanya makan nasi padang pakai sendok dan garpu? Padahal titik kenikmatan makan nasi padang ya langsung pakai tangan.<\/p>\n","protected":false},"author":926,"featured_media":37177,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[438,879],"class_list":["post-84135","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kuliner","tag-nasi-padang"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84135","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/926"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84135"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84135\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/37177"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84135"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84135"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84135"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}