{"id":84077,"date":"2020-10-21T07:32:31","date_gmt":"2020-10-21T00:32:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=84077"},"modified":"2021-11-14T17:13:21","modified_gmt":"2021-11-14T10:13:21","slug":"enaknya-punya-orang-tua-yang-membebaskan-anaknya-dalam-berkeyakinan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/enaknya-punya-orang-tua-yang-membebaskan-anaknya-dalam-berkeyakinan\/","title":{"rendered":"Orang Tua yang Membebaskan Anaknya dalam Berkeyakinan Adalah Sebenar-benarnya Anugerah"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Saya awalnya memang agak ragu buat nunjukin jalan saya ke orang tua. Eh, pas tahu reaksinya, ternyata asyik juga ya punya orang tua yang nggak monopolistik. Apalagi ini urusan keyakinan, loh.<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya bisa dibilang keluarga saya adalah jenis keluarga yang cukup religius. Ibu saya lulusan pesantren, abdi dalem pula. Ya, sudah nggak perlu saya jelasin betapa kultur santri masih sangat kental dalam dirinya. Sementara bapak saya, walaupun nggak memiliki latar belakang pendidikan yang jelas, tapi dalam konteks keagamaan belio ini layak buat disebut sebagai umat yang taat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan maksud pamer, tapi bapak ini adalah orang yang selalu mencoba istikamah dalam urusan salat tepat waktu. Kalau sudah denger azan, sudah nggak bakal nunda-nunda lagi ngambil air wudu. Belio juga punya kebiasaan ziarah ke makam tokoh-tokoh ulama. Dan di lingkungan seperti itulah saya tumbuh dan belajar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedari kecil, sudah kerasa banget sebenernya kalau orang tua saya nyoba ngarahin saya buat jangan sampai melenceng jauh dari jalan yang mereka ambil. Alias, saya harus tumbuh jadi orang agamis, paham syariat, dan hidup dengan siklus yang cenderung lurus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat merealisasikan itu semua, pola pendidikan agama saya bisa dibilang cukup ketat sama orang tua. Dari SD saya dikontrol betul buat ngaji di madrasah dan TPQ desa. Ketahuan bolos, wah bisa disabet gagang sapu sambil diomelin semalem suntuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk memperdalam wawasan keagamaan saya\u2014dan mungkin juga meningkatkan kesalehan saya\u2014sedari SMP saya sudah dikirim dan mendekam di pesantren sampai lulus SMA.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak hanya itu, dalam urusan berteman pun mereka mewanti-wanti agar saya selektif. Hanya bergaul sama orang-orang yang hidupnya lurus dan menjauhi orang-orang yang kena stigma brandal, nggak bener, dan sejenisnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di masa-masa itu memang sih saya cukup patuh dengan batasan-batasan tersebut. Eh makin lama, seiring dengan proses perjalanan spiritual, saya akhirnya memutuskan buat meninggalkan semua itu, memilih jalan saya sendiri, jalan yang juga saya yakini sama benernya kok dengan jalan yang diambil oleh kedua orang tua saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi gini, dalam hal spiritual, saya adalah orang yang skeptis. Satu-satunya yang saya yakini dalam konteks beragama cuma satu, yaitu bahwa Tuhan itu bener-bener ada. Sudah titik. Selebihnya saya jadi orang yang cenderung peragu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masa-masa nyantri dulu, secara lahir memang saya jalani praktik atau ritual apa pun yang katanya itu bisa mendekatkan diri dengan Tuhan. Yang katanya juga sudah sesuai dengan syariat. Ya ngaji (kitab kuning dan Al-Quran), salat, ngerjain amalan-amalan sunah, dan hal-hal agamis lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, alih-alih membuat saya merasa dekat dengan Tuhan, semua itu justru membuat saya merasa asing banget dengan Tuhan. Hati saya rasanya kosong dan malah cenderung nggak menemukan ketenangan sama sekali. Saya mulai ngerasa bahwa dogma-dogma yang dijejalkan di kepala saya nggak lebih dari sebuah upaya memonopoli kebenaran sepihak. Kasarnya gitu, sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada banyak keresahan, tapi beberapa saja coba saya kasih tahu.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> soal berteman dengan orang saleh tadi. Setelah saya renungkan, fiks saya memutuskan buat nggak setuju.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksud saya gini, orang itu kan macem-macem ya karakter dan sifatnya. Wong dalam Al-Quran juga disebut kok kalau manusia itu diciptakan dengan beragam. Terlebih, kita juga nggak bisa menjudge seseorang hanya dari tampilan luarnya. Jelas juga dalilnya kalau manusia itu sama. Yang membedakan cuma tingkat ketakwaannya. Sementara takwa itu letaknya di hati, kita mana tahu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka itu bukan tugas kita buat menilai. Tugas kita sesama makhluk Tuhan ya saling bersosialisasi saja. Sebatas antara makhluk dengan makhluk. Kalau urusan situ bener atau nggak, salah atau nggak, ya itu sudah wilayah Tuhan. Manusia sudah nggak berhak ikut-ikutan. Akhirnya saya mutusin buat meninggalkan prinsip yang bertahun-tahun saya pegang tersebut untuk mengambil jalan saya sendiri: berteman dengan siapa saja, tanpa pandang bulu.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> agak general sedikit, tapi lambat laun saya menyadari bahwa jalan menuju Tuhan itu nggak cuma satu. Oke, Tuhan itu cuma satu, tapi cara atau jalan buat sampai\/dekat ke Dia ada macem-macem. Dan orang-orang berhak menentukan jalan mana yang dia pilih, yang sekiranya bikin dia nyaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Analogi sederhananya, Jakarta itu satu. Namun, alternatif rutenya kan ada banyak. Dan kita nggak bisa maksain dong biar orang lain ngambil rute yang sama kayak kita?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari situ kemudian saya menyimpulkan bahwa buat deket ke Tuhan nggak harus dengan jalan yang agamis-dogmatis. Pastinya bisa dengan cara lain. Lebih-lebih, dulu itu saya punya keanehan. Saya ini santri, orang Islam, tapi kok nggak pernah bisa khusyuk kalau lagi baca atau denger ayat suci.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal orang-orang bisa, loh, sampai nangis-nangis gitu. Sementara menurut pak kiai, orang nggak bergetar atau terenyuh hatinya tiap baca atau diperdengarkan dengan ayat suci, berarti dia adalah orang yang jauh dari Tuhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wah, enak saja. Ayat suci kan nggak cuma satu? Pikir saya waktu itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan bener saja. Saya memang nggak bisa khusyuk dengan hal-hal berbau agamis kayak gitu. Tapi anehnya, tiap saya denger lantunan tembang-tembang Jawa, saya kok malah bisa khusyuk, ya? Singkat cerita, akhirnya saya memilih jalan saya sendiri dalam dunia mistik-kejawen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semula saya mengira orang tua saya bakal kecewa dengan jalan yang saya pilih.\u00a0 Sebab anak yang mereka proyeksikan bisa menegakkan syariat (sesuai yang mereka lakukan) eh malah melenceng jauh jadi tukang nembang dan semedi. Ngajinya juga sudah bukan ngaji kitab berbahasa Arab, tapi malah dari ajaran-ajaran Jawa kuna. Padahal enam tahun saya habiskan waktu saya di pesantren.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, dugaan saya keliru (setidaknya begitulah yang tampak). Kedua orang tua saya malah memberi kedaulatan penuh agar saya menjalani apa yang kini saya yakini, meski agak berbeda dengan apa yang mereka imani. Mereka bilang nggak ada masalah dengan itu, wong Tuhannya juga tetep satu, kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIbarat kami dulu cuma ngenalin kamu sama teh. Tapi, beranjak dewasa, kalau kamu merasa ternyata kopi jauh lebih mantep dari teh, ya itu sudah jadi hak kamu, Le,\u201d begitu kata ibu. \u201cDulu kami cuma ngasih tahu kalau jalan ini bisa nganterin kamu ke Tuhan. Tapi, kalau akhirnya ada jalan lain yang menurut kamu lebih nyaman, ya itu sudah hak kamu buat milih jalan yang mana.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya awalnya memang agak ragu buat nunjukin jalan saya ke orang tua. Eh, pas tahu reaksinya, ternyata asyik juga ya punya orang tua yang nggak monopolistik. Apalagi ini urusan keyakinan, loh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi kepikiran, jika di dunia ini nggak ada monopoli kebenaran dan keyakinan, kayaknya hidup jadi bakal gayeng, deh. Nggak ada intoleransi, apalagi sampai terorisme. Namun, nggak tahu juga sih, kalau masih tetep ada Omnibus Law.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/adipati-wirabraja-dan-adipati-wiranegara-inisiator-islamisasi-lasem-yang-terlupakan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Adipati Wirabraja dan Adipati Wiranegara, Inisiator Islamisasi Lasem yang Terlupakan<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aly-reza\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aly Reza<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<div>\n<div><span class=\"ctaText\">Baca Juga:<\/span>\u00a0\u00a0<span class=\"postTitle\">Logika New Normal Jelas Nggak Cocok sama Kehidupan Pesantren, Titik!<\/span><\/div>\n<\/div>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sedari kecil, kerasa banget kalau orang tua saya nyoba ngarahin saya buat jangan sampai melenceng jauh dari jalan yang mereka ambil.<\/p>\n","protected":false},"author":540,"featured_media":84122,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13080],"tags":[78,24],"class_list":["post-84077","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-personality","tag-agama","tag-keyakinan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84077","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/540"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84077"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84077\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/84122"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84077"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84077"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84077"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}