{"id":83958,"date":"2020-10-19T12:47:07","date_gmt":"2020-10-19T05:47:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=83958"},"modified":"2025-10-01T15:37:24","modified_gmt":"2025-10-01T08:37:24","slug":"mengutip-media-sosial-tanpa-izin-itu-hukumnya-makruh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengutip-media-sosial-tanpa-izin-itu-hukumnya-makruh\/","title":{"rendered":"Mengutip Media Sosial Tanpa Izin Itu Hukumnya Makruh"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada suatu pagi, seorang editor meminta saya menulis artikel tentang epidemiolog yang mengkritik penerapan PSBB di Indonesia. Si Epidemiolog ini kebetulan memang sudah ngetwit perihal itu. Perintah editor saya sederhana, yaitu untuk mengutip media sosial Epidemiolog tersebut yang mencuitkan tema-tema yang akan diangkat, lalu jadikan satu artikel pendek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya berangkat, meraih gawai, lalu berkirim DM ke si Epidemiolog. Intinya saya minta izin untuk mengutip media sosialnya sebagai bahan berita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepuluh menit berlalu, tidak dibalas, 20 menit lewat, belum juga. Sampai ketika sudah lewat 30 menit, editor saya menelepon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGimana naskahnya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBelum, Mas, belum dijawab DM saya.\u201d balas saya lirih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNgapain DM segala. Udah langsung kutip saja twitnya. Buruan ya, lima menit. Aku tunggu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hening, telepon ditutup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daripada dipecat, saya akhirnya menuruti perintah editor. Saya mengutip media sosial yang isinya cuitan tersebut dan jadilah satu naskah sesuai permintaan. Tapi, hati saya berkecamuk. Rasane blas ora tenang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, di tempat kerja sebelumnya saya selalu diwanti-wanti mantan redaktur agar minta izin dulu setiap mau mengutip media sosial seseorang yang berisi cuitan atau status. Kecuali dia itu presiden. Atau panglima kombatan ISIS. Atau tokoh penting dunia yang memang sudah mustahil untuk dimintai konfirmasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, si Epidemiolog ini, menurut saya, nggak masuk ke kategori tersebut. Twitternya belum centang biru. Followersnya juga masih 0,01 persennya jumlah followers Cristiano Ronaldo (maaf ya, saya pilih Ronaldo ketimbang Messi karena saya bukan cah nangisan). Intinya, saya berpikir dia masih approachable<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">buat saya kontak atau sekadar dimintai izin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Drama batin itu lantas berakhir antiklimaks. Sore harinya, DM saya dibalas dan si Epidemiolog mengizinkan. Tapi, tetap saja ada rasa bersalah karena saya kadung mengutip pernyataan blio tanpa izin di awal. Saya tahu bahwa media tempat saya bekerja itu komersial. Dapat duit dari iklan yang muncul karena pemberitaan-pemberitaannya. Saya jadi merasa seperti habis mencuri makanan dari meja tetangga untuk mengisi perut kosong saya sendiri. Saya minta maaf dan untungnya blio memaafkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegelisahan itu akhirnya saya suarakan ketika ketemu editor saya beberapa hari kemudian. Pelan-pelan saya tanya, \u201cMemangnya nggak apa-apa, Mas, saya melakukan yang seperti kemarin?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan segala teori yang ndakik-ndakik, saya diberitahu kalau itu bukan masalah. \u201cLagi urgent,\u201d kata blio, \u201cmumpung belum kalah cepat dari media lain.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak puas. Saya masih berpegang pada teori di kantor lama saya bahwa seharusnya saya menunggu jawaban si Epidemiolog. Toh klaim urgent<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">yang dia maksud cuma didasari \u201cbiar nggak kalah dari kompetitor\u201d itu, menurut saya, wagu betul. Ketidakpuasan itu cuma saya simpan dalam hati karena saya tahu, nggak peduli saya mendebat sampai kapan pun, mustahil editor saya berubah pandangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepulang dari pertemuan itu, saya lantas berkirim pesan WhatsApp ke mantan redaktur di kantor bekas tempat saya pernah bekerja. Saya ceritakan keresahan saya, lalu mendapat jawaban bahwa tidak ada yang salah dengan jalan pikiran saya. Mantan redaktur saya itu lalu mengirim sebuah tautan artikel untuk saya baca.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cCoba kamu baca ini, setelah itu renungkan.\u201d kata dia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tautan yang dikirim mantan redaktur saya mengarah ke salah satu artikel di <\/span><a href=\"https:\/\/www.remotivi.or.id\/headline\/esai\/804\"><span style=\"font-weight: 400;\">Remotivi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Ditulis tahun 2016 oleh mas Wisnu Prasetya Utomo, salah satu peneliti Remotivi. Blio mengutip riset dua peneliti <\/span><a href=\"http:\/\/www.tandfonline.com\/doi\/abs\/10.1080\/1461670X.2016.1192956\"><span style=\"font-weight: 400;\">University of Amsterdam<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, Sanne Kruikemer dan Sophie Lecheler yang berisi persepsi publik terhadap berita-berita daring di era media sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, hasil riset tersebut mengatakan bahwa tingkat kredibilitas naskah yang bersumber dari mengutip media sosial adalah yang paling rendah di mata responden. Dari skala 1-7, pemberitaan dari Facebook cuma dapat nilai 2,55 sementara Twitter 2,56. Nilai ini masih kalah dari penilaian terhadap berita dari hasil wawancara (4,7), konferensi pers (4,33) dan surel (4,25).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMenariknya,\u201d kata mas Wisnu dalam naskahnya, \u201cskor untuk media sosial tersebut naik ketika para responden diberi tahu bahwa sumber dari media sosial yang digunakan sudah diverifikasi oleh jurnalis.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konteks yang dimaksud dalam artikel tersebut tampaknya memang berbeda dari pengalaman saya. Artikel itu menyinggung soal sumber konten-konten seperti polling<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">sebagai sumber primer jurnalistik, sementara objek yang sedang saya cari tahu cuma sebatas kutipan pernyataan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, saya sudah dapat poin yang dimaksud mantan redaktur saya. Bahwa memang tidak apa-apa saya berusaha melakukan verifikasi atau sekadar minta izin karena toh itu akan meningkatkan kredibilitas tulisan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang kemudian tidak kalah menarik, dalam tulisannya, Mas Wisnu juga mengutip<\/span><a href=\"https:\/\/reutersinstitute.politics.ox.ac.uk\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">riset Reuters Institute<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang menyatakan bahwa jumlah jurnalis yang mengandalkan sumber media sosial tengah meningkat drastis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Riset tersebut membuat saya juga sedikit memahami posisi pandang editor saya yang menganggap verifikasi bukan persoalan besar. Barangkali, blio memang menilai bahwa si Epidemiolog yang saya maksud di awal sudah cukup kredibel. Platform Facebook dan Twitter toh tak dapat dimungkiri membuat arus informasi mengalir lebih cepat dan media dituntut lebih gesit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, pikiran saya jatuh ke sebuah perenungan baru. Berpijak pada 2 riset itu, artinya ramai-ramai mengutip media sosial sama dengan menjatuhkan kredibilitas sendiri. Bukankah ini sama artinya media sedang merusak dirinya sendiri atas nama adu kecepatan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Renungan itu membuat saya mulai pesimistis. Saya khawatir bila kelak apa yang saya kerjakan sekarang justru mencederai dan menjerumuskan publik ke dalam gagasan-gagasan yang keliru. Padahal, sejak awal saya sendiri bercita-cita kerja jadi wartawan karena ingin memberi pencerahan dan informasi sebaik mungkin kepada orang-orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Renungan itu, kemudian mengantarkan saya untuk mengibaratkan kebiasaan mengutip media sosial tanpa izin sebagai sesuatu yang makruh. Kalau kata guru ngaji saya sewaktu SD, makruh adalah hal yang dianjurkan ditinggalkan dalam ajaran agama, namun tidak berdosa bila dilakukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengutip media sosial tanpa verifikasi barangkali memang tidak atau belum menimbulkan konsekuensi. Tak ada pula hukum yang tegas melarangnya. Namun, tampaknya memang sudah saatnya budaya semacam ini dihindari jurnalis-jurnalis seperti saya. Kecuali bila kami memang ingin meruntuhkan kredibilitas diri sendiri.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasib-anarko-sudah-jatuh-tertimpa-tangga-pula\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nasib Anarko: Sudah Jatuh Tertimpa Tangga pula<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengutip media sosial sebagai bahan tulisan sama dengan menjatuhkan kredibilitas si penulis sendiri. Tapi, kadang terpaksa dilakukan.<\/p>\n","protected":false},"author":1086,"featured_media":29255,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6,8],"tags":[1013,102],"class_list":["post-83958","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-featured","tag-jurnalistik","tag-media-sosial"],"modified_by":"Anggi Thoat Ariyanto","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83958","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1086"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=83958"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83958\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29255"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=83958"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=83958"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=83958"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}