{"id":83937,"date":"2020-10-19T11:55:42","date_gmt":"2020-10-19T04:55:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=83937"},"modified":"2020-10-19T11:58:03","modified_gmt":"2020-10-19T04:58:03","slug":"suka-tidak-suka-zinedine-zidane-memang-pelatih-yang-miskin-taktik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/suka-tidak-suka-zinedine-zidane-memang-pelatih-yang-miskin-taktik\/","title":{"rendered":"Suka Tidak Suka, Zinedine Zidane Memang Pelatih yang Miskin Taktik"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan ini, kritikan cukup kencang berhembus pada sosok Zinedine Zidane. Sebagian besar kritikus\u2013yang banyak di antaranya merupakan Madridista\u2013mengatakan bahwa Zidane adalah pelatih beruntung yang miskin taktik. Agak sedikit aneh memang, mengingat Zidane adalah pelatih yang berhasil menjuarai tiga gelar Liga Champions beruntun. Tapi, kok, masih ada yang kontra dengan taktik Zidane ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan tanpa alasan memang, kritikan ini disinyalir bermula dari pola permainan Madrid yang monoton dan sudah mulai bisa ditebak. Ini bisa dilihat dari setiap pertandingan bahwa alur serangan Madrid begitu-begitu saja dan kerap kesulitan membongkar pertahanan lawan. Zinedine Zidane hanya memainkan komposisi pemain dengan segala macam utak-atik formasi yang acap kali tidak berguna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi pihak yang pro, Zinedine Zidane tetap dianggap dewa yang sukses menjelma menjadi pelatih top di dunia. Raihan berbagai macam trofi\u2013termasuk hattrick UCL\u2013dari dua periode kepelatihannya di Madrid adalah bukti. Tapi, nyatanya, kita tidak menafikan fakta bahwa sejak awal, Zidane mewarisi skuat bintang lima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu hal yang dianggap sakral dari Zinedine Zidane adalah kemampuannya menjadi seorang motivator yang ulung. Zidane terkenal bisa mengatasi berbagai macam krisis di ruang ganti Madrid. Hampir tidak ada isu tak sedap yang muncul dari internal tim di era kepelatihan Zidane.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun punya skuat mewah, tapi Zidane datang ketika Madrid sedang dalam periode buruk. Pada 2016, Madrid sedang hancur lebur di era Rafa Benitez. Kemudian Zidane didapuk mengisi kursi pelatih yang kosong setelah Benitez dipecat. Dengan berbagai macam trofi yang diraih, Zidane terhitung sukses di periode ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu setelah Zinedine Zidane mengundurkan diri pada akhir Mei 2018, Madrid menunjuk Julen Lopetegui sebagai pelatih. Ini adalah masa transisi setelah hengkangnya Cristiano Ronaldo ke Juventus. Dan benar saja, Madrid hancur di tangan Lope. Pelatih berkebangsaan Spanyol tersebut hanya bertahan empat bulan sebelum akhirnya digantikan oleh Santiago Solari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Madrid saat era Solari pun tidak lebih baik. Setelah disingkirkan Ajax Amsterdam di 16 besar Liga Champions, Solari dipecat setelah hanya menjabat kurang lebih lima bulan saja. Dan Madrid, berhasil merayu Zidane untuk kembali mengambil alih kendali tim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kembalinya Zidane disambut baik oleh banyak penggemar. Zidane berhasil memperbaiki kondisi ruang ganti dengan menyatukan berbagai macam ego dari tim yang bertabur pemain bintang. Ini adalah suatu kemampuan khusus dan menjadi sebuah kelebihan yang dimiliki Zidane. Kita tahu, di Madrid, kerap ada seorang pemain yang berselisih dengan pelatih. Tapi, dengan nama besar dan karismanya, Zidane mampu meredam hal tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ternyata, hal inilah yang luput dari pengamatan penggemar. Kesuksesan Zidane berasal dari keharmonisan tim yang ia bangun, ditambah skuat mewah dengan Cristiano Ronaldo berada di dalamnya. Zidane tidak punya suatu pendekatan taktis yang secara khusus identik dengannya. Selayaknya Juergen Klopp dengan gegenpressing-nya atau Pep Guardiola dengan tiki-taka yang melegenda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi sebuah masalah apabila seorang Zidane tidak mempunyai skema taktis yang tetap. Lihat saja bagaimana kini Zidane kesulitan mencetak gol karena tidak ada pemain tumpuan di lini depan. Zidane yang dulu, kerap mengarahkan serangan agar tertuju pada Ronaldo. Membiarkan Benzema membuka ruang agar Ronaldo lebih leluasa menerima umpan kreatif dari lini tengah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, kini Zidane seakan saklek dengan pola permainan seperti itu. Dia seperti tidak menyesuaikan keadaan dengan tidak adanya seorang Cristiano Ronaldo di dalam tim. Tidak ada perubahan berarti dari formasi yang ia terapkan. Ia kini bertumpu pada sosok Karim Benzema yang sebetulnya bukanlah tipe striker murni. Benzema bukan seorang target man yang bisa jadi tujuan akhir dari sebuah serangan. Benzema adalah tipe pemain false nine yang bertugas membuka ruang atau menjadi pemantul bola ke pemain lainnya. Saya juga tidak mengerti kenapa, tapi sepertinya Zidane alpa terhadap hal ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini pula yang membuat banyak orang menjadi suudzon pada Zidane. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki Benzema, Zidane selalu memainkannya sebagai pemain inti. Inilah yang menjadi anggap Zidane terlalu menganakemaskan Karim Benzema. Mentang-mentang sama-sama dari Perancis, bikin nepotisme seenaknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kritikan yang menyoal pada Benzema ini bermuara pada permainannya yang selalu repot turun ke belakang menjemput bola, sehingga kerap menyabotase area kreatif Toni Kroos dan Luka Modric di lini tengah. Ketika suplai bola telah dialirkan ke depan, Benzema selalu tidak dalam posisi. Entah itu melebar, atau bahkan berada di garis kedua. Apalagi, diperparah dengan Benzema yang sering membuang peluang yang seharusnya menjadi gol.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kekalahan melawan tim promosi, Cadiz CF, di kandang sendiri pada Sabtu malam (17\/10) juga menguatkan argumen Zidane adalah pelatih yang miskin taktik. Melihat bagaimana pergantian pemain yang sia-sia, alur bola yang hanya muter-muter di depan kotak penalti lawan, skema umpan terobosan yang hanya membuahkan offside, dan banyak lagi kejadian lainnya yang membuat Madridista kesal sendiri melihatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat fakta-fakta tersebut, saya setuju dengan argumen Zidane adalah pelatih yang miskin taktik. Segala kesuksesan yang sebelumnya ia raih tidak lebih dari hoki semata. Mungkin rada gimana gitu kalau saya mengatakan ini sekarang. Tapi, mohon maaf nih, kalau taktik njenengan pol mentok memasang Lord Vazquez dan Benzema, Papa Perez bisa habis kesabaran loh.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: Akun Twitter @realmadriden<\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pemain-naturalisasi-ketika-jadi-tuan-rumah-pildun-tapi-yang-main-bukan-orang-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pemain Naturalisasi: Ketika Jadi Tuan Rumah Pildun, tapi yang Main Bukan Orang Indonesia <\/a>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/fajar-hikmatiar\/\">Fajar Hikmatiar<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Belakangan kritikan kencang berhembus pada Zinedine Zidane. Sebagian besar kritik mengatakan Zidane pelatih beruntung yang miskin taktik.<\/p>\n","protected":false},"author":1047,"featured_media":83993,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1953,1922],"class_list":["post-83937","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-real-madrid","tag-zinedine-zidane"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83937","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1047"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=83937"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83937\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83993"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=83937"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=83937"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=83937"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}