{"id":83845,"date":"2020-10-20T07:32:05","date_gmt":"2020-10-20T00:32:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=83845"},"modified":"2020-10-18T11:38:14","modified_gmt":"2020-10-18T04:38:14","slug":"9-lagu-band-post-hardcore-yang-paling-romantis-sekaligus-dramatis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/9-lagu-band-post-hardcore-yang-paling-romantis-sekaligus-dramatis\/","title":{"rendered":"9 Lagu Band Post-Hardcore yang Paling Romantis Sekaligus Dramatis"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika musik hardcore mulai melemah dalam skena indie Amerika, muncul Fugazi yang dengan cepat mengambil alih senyum lebar skena ini. Dengan memadukan distorsi gitar dari grunge, drum yang cepat layaknya hardcore, dan juga vokal yang penuh dengan teriakan namun bersahutan dengan clean-vokal yang mengembangkan suasana, hadirlah post-hardcore. Ia dikatakan sebagai pencerahan hardcore dari kacamata mainstream.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari segi kepenulisan lirik, terdapat perbedaan yang lebar dari post-hardcore ketika pertama kali muncul dengan \u201cera emas\u201d ketika menginjak medio 2010. Yang paling anyar, post-hardcore kadang timbul tenggelam dengan rumpangnya istilah emo dalam kacamata musikalitas. Post-hardcore digambarkan dengan lirik yang puitis, memikat, dan mudah dirasakan oleh para remaja pada eranya masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan kini, ketika post-hardcore mulai meredup dan mulai pudar\u2014alih-alih menyebutnya dengan mati dan hilang\u2014saya ingin mengambil kembali beberapa memori indah mengenai musik ini. Terlebih, lagu mereka yang bertemakan cinta, tak kalah sendu dari lagu-lagu pop yang mengudara dengan hebat di langit Amerika saat itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau lagu romantis dan kesannya bucin setengah mati, mereka tak akan lupa membawa pakem-pakem post-harcore seperti teriakan, distori tebal, dan ketukan drum yang cepat. Ini membuat bingung, niatnya mau nge-bucin atau mau marah-marah.<\/span><\/p>\n<h4>#1 I See Stars, \u201cWonderland\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu ini mengisahkan tentang seorang pria atau wanita yang rela melakukan apa saja demi kebahagiaan pasangannya. Namun, lambat laun, ia sadar bahwa cara ini adalah kesalahan fatal. Dibuktikan dengan bucinnya penggalan lagu ini ini, \u201cYou ask why I&#8217;m so blue. I&#8217;ve been holding my breath for you\u201d. Dan dituntaskan dengan growl dari Zach Johnson, \u201cSUFFOCATION IS NOT LOVE!\u201d<\/span><\/p>\n<h4>#2 A Day to Remember, \u201cIf It Means a Lot to You\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu ini sangat cocok untuk kawula muda yang sedang menjalankan hubungan jarak jauh. Lagu ini memang pengalaman Jeremy McKinnon, sang vokalis, yang berjarak dengan pacarnya karena kesibukan tour dari A Day to Remember. \u201cTil everyone is singing la, la la la, la la la\u201d maknanya menjadi amat dalam ketika kesibukan (seorang vokalis menghibur penggemarnya), menentukan kebahagiaan sepasang kekasih.<\/span><\/p>\n<h4>#3 Sleeping With Sirens, \u201cAll My Heart\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Clean-vocal dari Kellin Quinn memang menunjang untuk membawakan lagu-lagu romantis. Apalagi lagu yang satu ini. Sleeping With Sirens mendedikasikan untuk seluruh cinta dengan gejolak masa muda. Kellin menganggap bahwa cinta, makin lama, makin kehilangan sumber dayanya. Maka dari itu, lagu ini hadir sebagai penambah bara, agar cinta para penggemarnya tetap terjaga seperti saat mereka muda.<\/span><\/p>\n<h4>#4 Sleeping With Sirens, \u201cIf I\u2019m James Dean, Then You\u2019re Audrey Hepburn\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cThey say that love is forever, your forever is all that I need. Please stay as long as you need,\u201d begitu yang Kellin Quinn teriakan. Lagu bucin yang menyenangkan dan kata beberapa reviewer, tak menjatuhkan harkat maskulinitas. Halah, maskulinitas, kalau mau menyatakan perasaan dan kebutuhan kepada pasangan ya nyatakan saja. Nggak ada yang salah.<\/span><\/p>\n<h4>#5 Pierce The Veil, \u201cKissing in Cars\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu ini seakan diperbolehkan menjadi official soundtrack bagi para pelaku cinta monyet. Sebuah cinta yang terjadi manakala usia masih belia, tapi tetap saja yang namanya cinta tidak bisa diganggu gugat. Suara dari Vic akan menjelaskan segala problematika dari putus dan nyambung, menyambut cinta yang lebih matang. Apalagi bagian ini, \u201csecond chances won&#8217;t leave you alone.\u201d<\/span><\/p>\n<h4>#6 Pierce The Veil dan Lindsey Stamey, \u201cHold On Til May\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu ini menjadi salah satu rujukan terbaik dalam album \u201cCollide With The Sky\u201d, tapi membawa efek gelap. Lagu ini menceritakan mengenai pasangan yang membawa cerita masing-masing dalam kehidupannya. Dan cerita tersebut, terkadang tidak selalu baik. Di sini, dengan sebuah nada romantis yang gelap, Vic mencoba menjadi pendengar yang baik alih-alih memerintah layaknya guru kehidupan.<\/span><\/p>\n<h4>#7 Memphis May Fire dan Kellin Quinn, \u201cMiles Away\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu ini juga untuk kalian yang sedang LDR. Menyediakan dua versi, full band dan akustik, rasanya Kellin Quinn dan Matty Mullins tak ingin menjauhkan dari kesan romantis dan kerinduan. Apalagi pada bagian awal, \u201cI pack my bags and say goodbye to my wife,\u201d duh, ambyar, Dek!<\/span><\/p>\n<h4>#8 Chiodos, \u201cLindsay Quit Lollygagging\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, yang nyanyi Chiodos, band post-hardcore yang terkenal dengan scream dan growl-nya. Dalam lagu ini, tak ada teriakan, tak ada distorsi gitar, apalagi hentakan drum. Namun, suara melengking tinggi khas Craig Owen tak menghilangkan ciri khas dari band yang bubar pada 2016 ini.<\/span><\/p>\n<p>#9 Alesana, \u201cAs You Wish\u201d<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu ini merupakan adaptasi dari film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Princess Bride<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kala Wesley berbisik \u201cas you wish,\u201d kepada Buttercup. Dan lagu ini menjadi pengiring perjalanan cinta mereka. Saya suka bagian ini dan rasanya tak akan pudar sampai kapan pun juga, \u201cI&#8217;ve slain the most unholy things, endured such terrific pain. Finally I&#8217;ll feel your caress again.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa lagu dari band-band yang mengusung \u201cmusik keras\u201d dalam tiap amunisi lagu-lagunya. Dan ternyata, ketika mereka disuruh untuk romantis, ternyata hasilnya brengsek juga!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-lagu-yang-tolong-sekali-jangan-pernah-dibuat-versi-koplonya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">6 Lagu yang, Tolong Sekali, Jangan Pernah Dibuat Versi Koplonya<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kini ketika post-hardcore mulai meredup dan mulai pudar, saya ingin mengambil kembali beberapa memori indah mengenai musik ini. <\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":83934,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9237,9236,3647],"class_list":["post-83845","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-lagu-band","tag-post-hardcore","tag-romantis"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83845","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=83845"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83845\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83934"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=83845"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=83845"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=83845"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}