{"id":83682,"date":"2020-10-17T06:01:53","date_gmt":"2020-10-16T23:01:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=83682"},"modified":"2020-10-16T14:35:36","modified_gmt":"2020-10-16T07:35:36","slug":"saya-bukannya-anti-menikah-tapi-punya-pertimbangan-yang-kompleks","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-bukannya-anti-menikah-tapi-punya-pertimbangan-yang-kompleks\/","title":{"rendered":"Saya Bukannya Antimenikah, tapi Punya Pertimbangan yang Kompleks"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu perkara serius yang akhir-akhir ini menjadi fokus teman-teman Terminator cabang Jogja. Tidak lain adalah keyakinan teman-teman Terminator Jogja bahwa saya antimenikah. Keyakinan mereka soal ini berangkat dari foto profil WhatsApp yang pernah saya unggah beberapa waktu silam bergambar kartun sepasang pengantin dengan icon silang merah yang menutupinya. Macam rambu larangan begitulah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena masalah ini, tiap kali kumpul para Terminator entah di warung yang merakyat di bilangan Banguntapan atau di cafe yang Pak RT-nya oily itu, pembahasan satu ini tidak pernah alpa. Padahal, saya sudah memberikan begitu banyak pleidoi yang menyatakan bahwa saya masih mau beristri, berumah tangga, punya anak, dan sejumput kegiatan yang lazim dilakukan orang yang menjalin pernikahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepertinya memang dosa besar saya sendiri, berani-beraninya menjadikan gambar keren terlarang itu jadi foto profil. Sebab, sebenarnya bukan hanya teman-teman Terminator yang begitu kritis mencecer saya dengan pertanyaan seputar alasan saya tidak mau menikah atau antimenikah. Teman-teman saya di luar sirkel penulis Terminal Mojok juga mengkritik hal yang sama. Bahkan lebih parah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu saya luruskan bahwa itu gambar yang saya bicarakan sebenarnya hanya sebuah gambar lama. Saya mendapatkannya dari seorang teman yang (kemungkinan) mengalami tragedi besar dalam dunia percintaan. Saya lantas menyimpannya. Si pemilik gambar yang mengirimkannya kepada saya itu sedang menjalani hari yang sangat berat setelah ia ditinggal untuk menikah. Cerita yang sama juga saya alami dua tahun silam, ketika mantan calon memutuskan menikah dengan orang lain. Saya tidak terlahir langsung sebagai orang yang antimenikah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalannya adalah saya sedang tidak berada di fase itu. Saya sudah melalui fase pahit itu bahkan sebelum saya memiliki gambar keren laknat yang menyebarkan ideologi antimenikah tersebut. Saya tegaskan sekali lagi, walau sudah tua, mengalami fase jatuh bangun yang sakitnya tiada ampun, tetap tebersit keinginan untuk berumah tangga layaknya manusia normal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pencarian saya perkara menikah ini seperti kebanyakan orang, bermula ketika saya merasa sudah cukup matang untuk menjalani hari-hari dengan pasangan serumah. Intinya ketika itu, tidak perlu lagi pacar-pacaran macam anak remaja yang masuk masa puber. Dan itu kejadian sejak masih kuliah. Saya adalah satu di antara sekian orang yang percaya bahwa wajib menikah pada kondisi sudah \u201cmerasa\u201d matang macam saat itu. Walau ada fase pacaran barang sebulan atau dua bulan dengan calon, tetap saja komitmen sejak awal adalah berakhir di pelaminan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ketika pertama kali mengalami gagal melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius, patah hati saya berkepanjangan. Sekira setahun lebih saya tidak mau mengurusi perihal asmara. Intinya bagi saya, no woman no cry.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah mencoba membuka diri, kejadian yang sama berulang. Keraguan perihal menikah lalu muncul dan menghantui. Pada kondisi yang lebih ekstrim, saya masih tetap ingin menikah, tapi tujuannya lebih pada ingin membahagiakan orang tua. Namun, walau sebesar apa tuduhan orang-orang bahwa saya antimenikah, sebesar itu saya menampik. Saya tetap pro menikah. Cuma alasannya aja yang mungkin tidak bisa mereka nalar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, orang menikah, boleh dengan alasan apapun. Macam saya misalkan, mau menikah karena ingin melihat kebahagiaan ibu saya. Bahkan saya sendiri mendukung orang menikah, walau alasannya sekadar masalah ekonomi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu kutipan filsuf besar yang jadi pegangan saya mengenai pernikahan. Socrates pernah mencuit begini (misal dia punya akun Twitter), \u201cMenikah atau tidak menikah, kau akan menyesal. Dengan segala cara. Menikahlah, jika mendapatkan istri baik, kau akan bahagia, jika mendapatkan istri buruk, kau akan menjadi seorang filsuf.\u201d Saya mungkin tidak sedang bersiap dengan kondisi macam kutipannya Socrates. Bagi saya, menikah lalu menjalaninya dengan \u201cbaik\u201d atau buruk\u201d, tidak ada bedanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah melihat begitu kerasnya dunia, bagi saya, menikah menjadi hal yang sakralnya nggak main-main. Ada begitu banyak kenyataan yang mesti saya hadapi sebelum memutuskan \u201ckapan\u201d benar-benar siap lahir maupun batin. Melihat kenyataan bahwa teman-teman saya memiliki perjuangan mereka masing-masing yang tidak kalah hebat dari sebelum mereka menikah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bahkan berandai-andai, apakah kelak saya akan tetap berpikir dan bertindak secara waras (walau kadang orang bilang saya nggak waras) setelah memiliki pendamping hidup. Perkaranya, tidak lain, karena saya melihat hal serupa terjadi kepada teman-teman saya yang telah menikah. Begitu besar tekanan hidup yang mereka hadapi dan perjuangkan. Banting tulang untuk memenuhi kebutuhan susu anak juga tetap tidak berkurang tantangannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi aturan berbeda yang mungkin bisa saja saya temui kelak dari pihak keluarga bakal istri. Apakah ibunya mirip Bu Tejo yang mulutnya nggak bisa ngerem kalau ngomong? Apakah saudara lelakinya posesif pada adik perempuannya? Atau apakah bapaknya oily, mirip RT di dekat \u201ccafe yang kerja terus\u201d itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, pertimbangan untuk menikah sekarang ini begitu banyak dan muter-muter di kepala saya. Bukan perkara foto profil seperti yang dialamatkan teman-teman Terminal cabang Jogja kepada saya. Saya bukan kaum yang antimenikah.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sebagai-anak-kampung-yang-kuliah-saya-dianggap-master-of-everything\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Sebagai Anak Kampung yang Kuliah, Saya Dianggap Master of Everything <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/taufik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Taufik<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pertimbangan untuk menikah sekarang ini muter-muter di kepala saya. Saya bukan kaum antimenikah seperti yang orang-orang kira.<\/p>\n","protected":false},"author":50,"featured_media":59120,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[14,412],"class_list":["post-83682","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-menikah","tag-rumah-tangga"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83682","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/50"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=83682"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83682\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/59120"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=83682"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=83682"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=83682"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}