{"id":83618,"date":"2020-10-19T07:32:38","date_gmt":"2020-10-19T00:32:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=83618"},"modified":"2020-10-19T09:08:17","modified_gmt":"2020-10-19T02:08:17","slug":"lingkaran-oligarki-yang-mati-membuat-boruto-masih-memiliki-harapan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lingkaran-oligarki-yang-mati-membuat-boruto-masih-memiliki-harapan\/","title":{"rendered":"Lingkaran Oligarki yang Mati Membuat Boruto Masih Memiliki Harapan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak ragu mengatakan bahwa anime Boruto adalah sebuah kesalahan fatal. Ketika kita disajikan karya luar biasa bernama Naruto dengan segala hiruk pikuk masa kelam, anime Boruto keluar dengan perasaan hambar yang cenderung membuat jijik. Bisa dikatakan, hadirnya Boruto, murni sebagai perusak gegap gempita manisnya kisah Naruto yang ditutup dengan baik dan benar\u2014walau tidak seutuh-utuhnya benar juga, sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pun saya akan bersepakat bahwa anime Boruto, tak lebih seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Chibi Maruko Chan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan kisah hidup anak SD ala mereka. Dunia mereka dengan segala problematika jajanan dan imajinatif. Malahan, menurut saya pribadi, kisah Maruko lebih menggugah ketimbang sekelompok anak ninja yang tidak tahu arah dan tujuannya mau apa. Bisa dibilang, anime Boruto tujuannya seperti sinetron Indonesia, kejar rating belaka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa saya tega bilang seperti itu? Sebagai orang yang pernah menangis manakala melihat Naruto berteriak guna menyadarkan bangsatnya ego Sasuke, saya merasa dipermainkan dengan anime ini. Anime <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Boruto: Naruto Next Generations<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang sembilan puluh sembilan persen hanya filler. Saya rasanya ingin bilang, &#8220;Sudah, cukup, jangan bikin saya kecewa lebih dalam.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, dikutip dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kincir<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam sebuah siaran dari VizMedia, Masashi mengaku lepas tangan dengan cerita di dalam anime ini dan lebih merasa puas dengan akhir yang telah dia buat di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Naruto: Shippuden<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Masashi Sensei pun mempercayakan kelangsungan waralaba ini kepada dua penulis, yakni Mikio Ikemoto dan Ukyo Kodachi. Mereka merupakan &#8220;orang dekat&#8221; Masashi dan jadi asisten kala Naruto\u00a0 masih dikembangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asumsi saya pribadi mengenai Boruto hanya sebagai alat peras rating dan penjualan, dipertegas melalui filler (hampir semua filler, sih) di mana Boruto terjebak di zona waktu, di mana Naruto masih Genin. Mereka masih belum bisa lepas dari masa emas Naruto, di mana sisi kuat karakter yang satu ini terus dihajar habis-habisan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Manga yang penuh filler, cenderung sangat membosankan. Apalagi, konflik yang dihadirkan begitu sepele dan di luar konteks dari manga (walau beberapa sengaja dibuat sebagai jembatan menuju cerita di manga). Boruto, selalu dihadapkan tembok besar bernama Naruto. Kedua nama ini akan terus dibandingkan, apalagi dalam segi penceritaan dan kualitas konflik yang dihadirkan. Padahal, potensi dari Boruto ini sangat luar biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika boleh berbicara secara adil, saya masih berharap banyak melalui Ukyo Kodachi. Dengan satu catatan, stop saja animenya, fokus kerjakan manga dan buat cerita dengan sepenuh hati. Jangan lupa, selain pakai hati, pakai juga otaknya. Mengapa saya berbicara seperti ini? Lantaran, apa yang ia upayakan, sudah merubah banyak sistematis jagat Naruto secara keseluruhan. Dan langkah terbaik adalah menyelesaikan dengan hormat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejatinya, banyak plot menarik dalam manga yang bisa ia kembangkan. Ketimbang berkutat mengeluarkan musuh-musuh yang powernya kelewat sakti, fokuskan saja dahulu kepada generasi Naruto dalam masa transisi pascaperang. Politik, kuasa, kekuatan negara, bisa dikaji lebih jauh di sini. Apa lagi sebuah negara &#8220;pasca merdeka&#8221;, pasti banyak problem yang dihadapinya. Buat Naruto &#8220;sengsara&#8221; akan kesibukan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat alasan mendasar bahwa tugas Naruto sebagai Hokage masa transisi ini super sibuk dengan urusan administrasi negara. Jika hal itu sudah runtut, maka alasan Naruto yang di-nerf besar-besaran ini (bahkan sempat dikalahkan oleh anak kecil dalam satu bagian) ada alasan logisnya. Setali dengan kajian dalam manga, Naruto lelah mengurusi urusan negara, sampai-sampai hal vital berupa tenaga dan kekuatan ninja ia tinggalkan begitu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ingat Naruto, tugas negara itu berat. Jangan sekalipun pakai bunshin untuk mengerjakan tetek bengek urusan administrasi negara. Makanya, jangan kebanyakan pencitraan. Atau dari sisi ini, bangun saja cerita yang berkaitan, yakni muntabnya Boruto melihat kinerja sang ayah yang nggak becus ngurus negara. Kan cocok tuh, jadi alasan Boruto nggak mau jadi Hokage semakin kuat.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/twitter.com\/Eno_Bening\/status\/1315929132425859072\">https:\/\/twitter.com\/Eno_Bening\/status\/1315929132425859072<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tertarik dengan opini Eno Bening. Jika mau buat Boruto (sedikit) diperhitungkan. Jika mau lho, ya. Mbok menowo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat Boruto jadi orang yang membangkang sekalian. Ia menjabarkan sistem oligarki nggak sehat dari hokage pertama sampai ayahnya. Jelaskan pula bahwa sistem seperti ini terus terjadi, lama-lama terbentuk semacam dinasti. Boruto hadir di garda terdepan, mengusulkan adanya demokrasi yang lebih sehat dan adil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sinilah muncul pertentangan antara penasehat desa, Naruto, dan Boruto. Keberpihakan Sarada akan dipertanyakan menengok ia ingin menjadi Hokage. Namun, di malam yang khusyuk, Sarada tersadar bahwa jika tidak ada sistem demokrasi, klannya, Uchiha, sampai kapan pun akan terus diinjak-injak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Boruto ketika masa Jonin, menyebutkan bahwa masa kecil ayahnya tidak seberapa menyedihkan. Tidak sekelam apa yang dibicarakan dalam biografi dan film khusus yang dibuat untuk melanggengkan masa baktinya. Ia adalah anak dari Hokage Keempat, mendapat perlindungan Hokage Ketiga, memiliki chakra yang nggak terhingga pula. Nah, jika ini digunakan dalam cerita, pasti penikmat Naruto akan ikut menyimak. Sambil mengernyitkan dahi, bakal ngedumel sendiri, ini bocah kok bisa-bisanya ngomong begini?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang terdengar simpel, tapi begitu menohok. Ketimbang ambil setting cerita anak-anak kecil sok asyik padahal nggak ada apa-apanya ketimbang arc Naruto lawan Zabuza.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaannya, apakah Ukyo Kodachi sanggup? Ketika Masashi Sensei percaya, saya yakin orang itu akan memenuhi ambisinya. Apalagi, masih banyak hal menarik di masa transisi Konoha yang bisa dikaji lebih jeli oleh Ukyo Kodachi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anime stop saja, lah. Namun, jika memang harus ada guna menunjang sektor finansial, buat adil saja. Ketika anime pangsa pasarnya bocah-bocah, buat manga menjadi makin pelik dan realistis sebagai penghormatan bagi para penggemar Naruto yang kini mungkin sudah punya anak dan cucu. Kan begitu. Pasalnya, harapan selalu ada, walau mulai menipis tentunya.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar:\u00a0<a href=\"https:\/\/www.viz.com\/boruto\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Viz.com<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/boruto-beli-gacha-melulu-uang-sakunya-emang-berapa-sih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Boruto Beli Gacha Melulu, Uang Sakunya Emang Berapa, sih?<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya akan bersepakat bahwa anime Boruto, tak lebih seperti Chibi Maruko Chan dengan kisah hidup anak SD ala mereka.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":83730,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[5555,2778],"class_list":["post-83618","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-boruto","tag-naruto"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83618","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=83618"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83618\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83730"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=83618"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=83618"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=83618"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}