{"id":83571,"date":"2020-10-16T07:35:50","date_gmt":"2020-10-16T00:35:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=83571"},"modified":"2020-10-16T00:55:39","modified_gmt":"2020-10-15T17:55:39","slug":"camilan-dan-makanan-yang-perlu-kamu-bawa-saat-mendaki-gunung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/camilan-dan-makanan-yang-perlu-kamu-bawa-saat-mendaki-gunung\/","title":{"rendered":"Camilan dan Makanan yang Perlu Kamu Bawa Saat Mendaki Gunung"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendaki gunung bukanlah sesuatu yang mudah. Diperlukan fisik yang prima sebelum melakukan kegiatan ini. Biasanya, pendaki gunung melatih fisiknya dua minggu sebelum keberangkatan untuk naik gunung, sembari mempersiapkan peralatan dan konsumsi yang akan dibawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah peralatan sudah jelas apa saja yang dibawa seperti sleeping bag, tenda, carrier, jaket waterproof, senter, dan lainnya. Kalau masalah konsumsi masih banyak pendaki pemula yang bingung dan bertanya-tanya, &#8220;Mau bawa camilan apa, ya, saat mendaki?&#8221; Lantaran saya sering ditanya masalah ini, kali ini saya akan berbagi informasi soal makanan dan camilan yang sering saya bawa saat mendaki dan mungkin ini bisa mencerahkanmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Langsung saja.<\/span><\/p>\n<h4>#1 Coklat pasta (Choki-Choki)<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau ini termasuk ke dalam kategori camilan. Ketika di tengah perjalanan, pasti ribet kalau harus membuka carrier lalu mengambil wajan dan gas. Oleh karena itu, Choki-Choki ini bisa menjadi solusi. Lantaran, ukurannya yang kecil, bisa disimpan di mana saja, dan mudah untuk dibawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya, saat saya mendaki, saya membawa satu box Choki-Choki sebagai penunda lapar sebelum mencapai pos pendakian. Harganya pun terjangkau. Satu box Choki-Choki harganya sekitar Rp20 ribu.<\/span><\/p>\n<h4>#2 Mi instan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ini termasuk ke dalam kategori makanan. Makanan satu ini tidak hanya berguna saat di kosan, tapi juga berguna saat di pendakian. Harganya yang murah dan cocok sekali dimakan saat di suasana dingin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mi instan biasanya dimasak saat sedang berada di pos pendakian. Kalau saya, saat mendaki biasanya membagi jatah per orangnya, satu orang mendapat jatah dua mi. Jadi, kalau ada lima anggota, berarti harus membawa sepuluh mi. Kalau mau lebih terasa solidaritasnya, tidak perlu dibagi-bagi jatah per orangnya, sekali masak langsung tiga mi dan dimakan bersama-sama. Kamu juga bisa menjadikan makanan ini sebagai camilan di tengah pendakian.<\/span><\/p>\n<h4>#3 Coklat batang (SilverQueen)<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu adalah kaum \u201csultan\u201d, kamu bisa membawa camilan ini ke pendakian. Camilan ini cocok untuk pendaki yang ingin terlihat mewah. Memang harganya termasuk mahal bagi sebagian besar pendaki, tapi camilan ini sangat ampuh untuk menunda lapar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbandingannya, satu potong kecil dari SilverQueen sama dengan dua Choki-Choki. Ukurannya juga pas kalau dibawa ke mana-mana. Saya membawa camilan ini hanya saat ada salah satu anggota tim yang habis gajian atau anggota yang memang sudah \u201csultan\u201d dari kecil. Kisaran harganya sekitar Rp20-25 ribu.<\/span><\/p>\n<h4>#4 Biskuit (Crispy Cracker\/Biskuat)<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Produk ini bisa termasuk ke dalam kategori camilan dan juga makanan. Pasalnya, hanya memakannya beberapa saja sudah kenyang. Ia cocok untuk pendaki yang solidaritasnya tinggi, karena isinya yang banyak sehingga bisa berbagi ke sesama pendaki. Saya biasanya membawa ini masing-masing satu dan dimakan saat sudah setengah perjalanan. Biasanya makanan ini bakal bertahan sampai turun gunung dan dibawa pulang. Kamu bisa mencoba membeli ini untuk dibawa ke pendakian.<\/span><\/p>\n<h4>#5 Gula jawa<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Camilan ini adalah opsi kalau kamu tidak mampu membeli SilverQueen. Sangat cocok untuk sobat misqueeen karena harganya yang sangat murah dan bisa mengganjal perut sampai ke pos pendakian bahkan sampai ke puncak gunung. Namun, jangan terlalu banyak dalam mengonsumsinya karena bisa menimbulkan penyakit. Lagipula, hanya memakannya secuil sudah bikin mual dan membuat selera makan berkurang. Saya biasanya membawa ini dengan perbandingan dua gula jawa untuk lima orang.<\/span><\/p>\n<h4>#6 Rokok<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah \u201ccamilan\u201d yang paling dibutuhkan bagi para perokok saat pendakian. Rokok adalah penghangat saat suasana sedang dingin. Kalau saya, rokok juga bisa untuk penyemangat saat berada di tengah pendakian. Jumlah rokok yang dibawa pun berbeda-beda tergantung seberapa kuat si pendaki untuk merokok. Saya biasanya hanya membawa tiga bungkus rokok dan satu plastik penuh berisi tembakau, untuk jaga-jaga kalau ada pendaki yang kehabisan rokok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah makanan atau camilan yang sering saya bawa saat mendaki gunung. Sebetulnya, masih banyak camilan atau makanan yang cocok menemani selama pendakian seperti madu dan roti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang dituliskan tadi, mendaki gunung harus dengan persiapan fisik yang matang, termasuk persiapan konsumsinya. Jangan sampai saat di tengah pendakian kamu kehabisan logistik dan ini membuatmu kebingungan. Memang, di beberapa gunung terdapat warung di setiap posnya. Akan tetapi, persiapan logistik tidak boleh diremehkan karena makanan di gunung semuanya mahal dan akan membuat dompetmu tipis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu adalah pendaki yang kreatif, kamu juga bisa mencampur berbagai bahan makanan menjadi satu. Namun, jangan mencampur bahan yang aneh seperti Biskuat dengan mi instan, hanya karena pengin kelihatan kreatif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, tetap patuhi peraturan basecamp pendakian. Jangan lupa untuk mempersiapkan surat yang harus dibawa saat ingin mendaki seperti SIMAKSI dan surat keterangan sehat. Oke?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUG <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/stop-menjelaskan-sensasi-naik-gunung-pada-mereka-yang-skeptis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Stop Menjelaskan Sensasi Naik Gunung pada Mereka yang Skeptis<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/risky-priadjie\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Risky Priadjie<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau kamu adalah kaum \u201csultan\u201d, kamu bisa membawa SilverQueen ke pendakian. Camilan ini cocok untuk pendaki yang ingin terlihat mewah.<\/p>\n","protected":false},"author":842,"featured_media":83600,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2948,462,265],"class_list":["post-83571","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-camilan","tag-makanan","tag-mendaki-gunung"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83571","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/842"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=83571"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83571\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83600"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=83571"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=83571"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=83571"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}