{"id":83519,"date":"2020-10-19T07:34:19","date_gmt":"2020-10-19T00:34:19","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=83519"},"modified":"2020-10-16T21:00:22","modified_gmt":"2020-10-16T14:00:22","slug":"nasib-anarko-sudah-jatuh-tertimpa-tangga-pula","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasib-anarko-sudah-jatuh-tertimpa-tangga-pula\/","title":{"rendered":"Nasib Anarko: Sudah Jatuh Tertimpa Tangga pula"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu saya pernah menonton film Prancis yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Les Anarchistes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Film bertema drama-politik ini mengisahkan seorang polisi bernama Jean yang ditugaskan oleh instansinya untuk menyusup ke dalam suatu perkumpulan anarkis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tugasnya yakni untuk mengawasi dan membuka tabiat para anarkis ini kepada pihak kepolisian. Namun, Jean justru masuk lebih jauh ke dalam lingkaran anarkis yang membuatnya bimbang dan dilema untuk mengkhianati instansinya atau mengkhianati persahabatan dalam circle anarkis tersebut. Apalagi Jean terlanjur mencintai salah satu anarkis bernama Judith.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sampai di akhir film tidak ada tanda-tanda kemenangan anarkis untuk sebuah upaya pemberontakan terhadap sistem, kapitalisme, dan orang-orang borjuis. Ini sama dengan para anarkis di dunia nyata yang nasibnya sungguh ironis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin cita-cita mereka yang sangat ilusif atau memang sistem yang mereka lawan ini begitu kuat sehingga mereka tidak berdaya. Atau malah ideologi mereka sudah terlalu usang dan terpinggirkan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini semakin diperparah ketika stigma kekerasan dan kerusuhan selalu dikaitkan dengan anarkisme. Dalam aksi 13\/10 yang digelar oleh Aliansi Nasional Anti Komunis dan gabungan ormas yang berujung rusuh di Jakarta, Kapolda menyebut bahwa anak-anak STM yang terlibat dalam aksi demo merupakan massa anarko\/anarkis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian Aksi Budaya di Yogyakarta juga mengusung tema \u201cmenolak kekerasan dan anarkisme\u201d pascakerusuhan demo di Malioboro yang menuntut pembatalan UU Cipta Kerja. Polisi juga menduga bahwa aktor yang memprovokasi sehingga terjadi kerusuhan merupakan sekelompok anarko.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga melihat video pada demo kemarin di Jakarta yang menuntut hal serupa. Ada satu video yang menunjukkan seseorang yang berbadan tegap, berotot ala orang-orang gym, dan tas selempang ala abang jago, sedang menumpuk road barrier untuk dibakar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, saya tidak yakin kalau seorang anarkis menghabiskan uangnya untuk sekadar disiplin tubuh demi proses menuju mitos tubuh ideal dengan bergantung pada pusat kebugaran seperti gym. Boro-boro pergi nge-gym, sohibun anarko saja memilih hidup dalam ketidakmapanan, kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam setiap kerusuhan demonstrasi, wacana yang ada selalu mengkambing hitamkan kelompok anarko. Mereka sudah susah, ditambah lagi dengan narasi yang diusung media maupun masyarakat yang belum sepenuhnya memahami anarkisme.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pihak kepolisian menuduh bahwa aksi demo kemarin ditunggangi oleh kelompok anarko. Bahkan SBY pun juga difitnah mendanai aksi demo. Apakah SBY termasuk ke dalam sohibun anarko?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa, wacana anarko sendiri selalu dikonstruksikan oleh media sebagai tokoh jahat atau dalang dari segala kekacauan maupun kerusuhan. Sekiranya hal inilah yang menyebabkan pemahaman sebagian besar orang terkait kelompok anarko sebagai tukang gawe rusuh. Ketika orang mendengar kata anarkis, maka mereka memahami bahwa telah terjadi suatu kerusuhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini hampir mirip ketika orde baru membangun wacana anti-komunis melalui media massa, buku, maupun film yang bertujuan untuk mengokohkan kekuasaan. Padahal mereka hanya ingin menutupi kebiadaban mereka saat membantai setengah juta warga yang tidak bersalah\u2014yang dituduh sebagai simpatisan PKI dan dibunuh tanpa diadili. Kita harus jeli melihat bagaimana wacana dan pengetahuan selalu diproduksi oleh yang berkuasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita ini seperti hidup di dunia matriks, di mana sistem pengetahuan kita diinstal oleh yang berkuasa. Siapa yang berkuasa? Mereka adalah orang-orang yang memiliki kuasa untuk mengontrol media. Apalagi media pemerintah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya kita harus memahami anarko terlebih dulu. Anarko atau anarkisme adalah ideologi yang mengusung prinsip masyarakat tanpa kelas. Anarkisme menekankan pentingnya kesadaran kolektif untuk hidup secara bersama-sama, persaudaraan, dan sukarela\u2014dan yang pasti tanpa kepemimpinan, hierarki, struktur birokrasi, dan pemerintahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka juga meniadakan kepemilikan pribadi atas properti. Mereka senantiasa melawan penghisapan kapitalisme, otoritas rezim yang sewenang-wenang, sistem yang menindas serta memperjuangkan pembebasan bagi kaum-kaum yang tertindas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anarkisme adalah ideologi penuh cinta, mengedepankan kebebasan dan memegang konsep gotong-royong. Mereka juga mengedepankan musyawarah bersama untuk menyelesaikan suatu masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tokoh yang pertama kali melabeli dirinya sebagai anarkis adalah Proudhon. Kemudian tokoh yang tidak asing bagi para anarko lainnya adalah Bakunin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian bisa mencari bukunya di toko buku terdekat. Kalau malas, kalian bisa search namanya di Google. Mencari gambar Anya Geraldine di Google saja mudah, apalagi hanya mencari identitas Proudhon atau Bakunin. Hehehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari itu, dalam aksi demonstrasi kemarin, memang sekiranya ada orang-orang yang sengaja menyusup ke dalam barisan demonstran dan memprovokasi sehingga terjadi kerusuhan. Dari kerusuhan itu media selalu membangun wacana bahwa anarkisme sama dengan tindakan kerusuhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian polisi yang menangkap sekelompok pemuda, entah itu pelajar, mahasiswa, pekerja ataupun pengangguran, menudingnya sebagai sohibun anarko. Dari sini dapat dilihat logika yang membangun konsep \u201cmusuh bersama\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkadang memang ada orang-orang yang mengusung simbol anarkisme sebagai bentuk perlawanan, tapi belum memahami substansi anarkisme itu sendiri. Nanti jika terjadi kekacauan jatuhnya malah digoreng sama media dan jadi kambing hitam atas aksi kerusuhan yang ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika saya boleh suuzan, saya akan berpikiran lain. Bisa saja pihak yang berkuasa sengaja mendanai sekelompok orang untuk menyusup ke dalam barisan demonstran dan sengaja melakukan provokasi. Tentunya hal ini bertujuan untuk mengaburkan substansi perjuangan yang akhirnya menyebabkan masyarakat menjadi antipati terhadap para demonstran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kerusuhan selalu dikaitkan dengan anarkis, apakah kita boleh menyebut bahwa peristiwa reformasi ditunggangi oleh para anarkis? Atau pelajar STM yang sering tawuran itu adalah sekumpulan anarko?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudahlah. Para anarkis ini sudah susah. Cita-cita ideologi anarkisme sendiri terlalu ilusif dan sulit untuk diwujudkan di dalam negeri ini. Apalagi mereka selalu dituduh sebagai biang keladi pada setiap kerusuhan. Dasar nasib para sohibun anarko, sudah jatuh tertimpa tangga pula!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalo-kampung-saya-ga-lagi-dilokdon-pengen-rasanya-lari-ke-jalan-ketawa-keras-keras-baca-berita-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kalo Kampung Saya Ga Lagi Dilokdon, Pengen Rasanya Lari ke Jalan Ketawa Keras-keras Baca Berita Ini<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/rizki-muhammad-iqbal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rizki Muhammad Iqbal<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wacana anarko sendiri seolah selalu dikonstruksikan oleh media sebagai tokoh jahat atau dalang dari segala kekacauan maupun kerusuhan.<\/p>\n","protected":false},"author":858,"featured_media":83804,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6232,6231],"class_list":["post-83519","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-anarkisme","tag-anarko"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83519","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/858"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=83519"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83519\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83804"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=83519"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=83519"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=83519"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}