{"id":83490,"date":"2020-10-16T06:41:55","date_gmt":"2020-10-15T23:41:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=83490"},"modified":"2020-10-15T13:06:48","modified_gmt":"2020-10-15T06:06:48","slug":"wawancara-dengan-asisten-bidan-tentang-pengalaman-mereka-melayani-pasien","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wawancara-dengan-asisten-bidan-tentang-pengalaman-mereka-melayani-pasien\/","title":{"rendered":"Wawancara dengan Asisten Bidan tentang Pengalaman Mereka Melayani Pasien"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Resi dan Siti, dua perempuan yang saya wawancarai, berprofesi sebagai asisten bidan itu capek. Sebab, banyak tugas yang harus mereka kerjakan. Mulai dari bikin laporan, observasi pasien, melayani pasien, dan lain sebagainya. Namun, hal menyebalkan yang bikin capek hati adalah ketika ada pasien enggan dilayani sama mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bertanya kepada mereka, mengapa perihal pasien enggan dilayani oleh asisten bidan marak terjadi. Hal ini sengaja saya tanyakan karena saudara perempuan saya profesinya asisten bidan juga dan mengalami masalah serupa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siti menjawab, \u201cJadi, pasien datang ke praktik bidan itu suka melihat sosok bidannya dulu siapa. Nah, ketika ibu bidan nggak ada, otomatis dilayani sama asisten bidan. Tapi, begitu melihat asisten bidannya masih muda, pasien mengekspresikan seolah nggak mau dilayani sama aku.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Resi, \u201cPasien sering kali menilai bahwa asisten bidan itu minim pengalaman. Sebab, profesi asisten bidan ini kan biasanya buat orang-orang yang baru lulus kuliah kebidanan. Jadi, karena dinilai minim pengalaman, mereka enggan dilayani oleh saya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut mereka, pasien seharusnya menyadari bahwa mereka bisa keterima kerja di praktik bidan dari hasil belajar selama kuliah. Mereka mengikuti SOP yang ada. Dan meski minim pengalaman tapi mereka berhati-hati juga, lalu paham betul akan pekerjaannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBagaimana jika pasien keukeuh enggan dilayani sama kalian. Cara menanggapinya?\u201d tanya saya lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAku mah semaunya pasien aja mau dilayani sama siapa. Lagian kalau aku paksa, bakalan nggak enak. Ngelayaninya juga enggak hati ke hati. Paling aku suruh datang lagi pas ada jadwal ibu praktik,\u201d jawab Siti. Dan Resi setuju.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBaik. Bisa kalian ceritakan pengalaman kalian dalam melayani pasien?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka kemudian menceritakan pengalamannya. Katanya, meski tujuan pasien datang ke praktik bidan biasanya bertanya-tanya seputar kebidanan, lalu memeriksa kehamilan, terus suntik KB, kontrol KB, imunisasi bayi, dan memeriksa bayi kalau sakit. Tapi, sering kali ada saja pasien yang suka tanya-tanya dengan pertanyaan nyeleneh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPertanyaan nyeleneh seperti apa?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPertanyaan nyeleneh semacam hal-hal tabu gitu lah. Tapi, buat aku enggak tabu,\u201d jawab Siti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cContohnya, Resi?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMisal, ibu-ibu yang pasang KB IUD. Dia takut si KB IUD-nya itu kemana-mana. Jadi berubah tempat. Padahal, mau kemana pun tidak akan menembus rahim. Terus ibu-ibu yang tidak mau berhubungan sama suaminya karena takut hamil. Padahal, bisa pakai KB. Pertanyaan kayak gitu lah\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSupaya tidak tabu bertanya atau membahas hal semacam itu memang sebaiknya pasien bagaimana, Siti?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSupaya nggak tabu sebaiknya pasien konsultasi aja langsung sama bidan. Jangan nanya ke sesama ibu-ibu. Biasanya kalau nanya ke sesama ibu-ibu infonya suka nggak valid. Nggak usah malu-malu membahas hal-hal tabu menurut aku mah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baik, pertanyaan berikutnya, apakah semua praktik bidan memerlukan asisten bidan. Kalau iya, apa alasannya. Resi menjawab bahwa dalam praktik bidan itu sebenarnya tidak semua bidan memerlukan asisten. Tapi, rata-rata bidan memakai jasa asisten dalam praktiknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Resi, alasan praktik bidan membutuhkan asisten yaitu jika misalnya ibu bidan pergi bekerja ke puskesmas, otomatis tidak ada yang jagain tempat praktik. Tidak ada yang mengerjakan observasi kalau ada pasien yang mau melahirkan. Sebab yang mau melahirkan dan setelah melahirkan harus diobservasi. Dan observasi itu kadang memakan waktu lama dan tidak kenal waktu. Oleh karena Resi dan Siti melakukan tugas-tugas tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih dari itu, Resi bilang bahwa dalam undang-undang (sekarang) sudah tidak boleh menolong persalinan sendirian. Namun, harus ada asisten bidan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, Resi dan Siti sudah bekerja lebih dari satu tahun. Resi meluruskan kepada saya dan bagi kebanyakan orang yang belum tahu bahwa sebenarnya asisten bidan itu adalah bidan. Hanya saja, belum punya tempat praktik sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas saya bertanya kepada mereka berdua, \u201cKalau begitu, Siti punya cita-cita pengin punya tempat praktik bidan sendiri, ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, tapi belum percaya diri, sih, A\u2019. Sebab tugas kita nyelamatin nyawa orang lain. Ibu sama bayinya. Terus kalau mau buka praktik sendiri, pengalaman doang nggak cukup. Harus sekolah lagi sampai profesi (aturan baru). Harus punya alat, ngajuin tempat praktik. Masih panjang banget pokoknya. Tapi, serius, kalau keinginan mah ya pengin sih punya tempat praktik sendiri\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cResi?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, Aamiin. Saya juga begitu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBaik Resi dan Siti, saya penasaran, kalian pernah denger kan kalau bidan suka dikait-kaitkan sama lelaki yang berseragam. Tentara, misalnya. Apa benar, apa gimana, sih?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya pernah, sih. Tapi, faktanya tidak begitu. Itu tergantung kitanya aja. Tapi, sebagian ada temen-temen yang harus sama lelaki berseragam.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSiti??\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNggak, kok. Sama penulis juga boleh, kok.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLanjut, ya. Terakhir, menurut kalian kenapa asisten bidan keberadaannya layak dihargai? Silakan, Resi..\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSebab asisten-asisten bidan baru seperti kita kan bakal jadi penerus bidan senior di masyarakat. Mau tidak mau, masyarakat sebaiknya menghargai kita. Lebih tepatnya, konteksnya itu memercayai keberadaan kita. Soalnya kalau udah percaya sama kita, masyarakat juga bisa deket sama kita. Salah satu hal yang saya sukai jadi asisten bidan ini bisa sharing pengalaman sama sesama wanita. Asyik gitu kalau udah ngobrolin kehamilan, bayi dan lain-lain..\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOke, Resi dan Siti, hatur nuhun atas waktunya..\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai penutup, Siti menyampaikan pesan kepada saya untuk teman-teman yang seprofesi dengan dirinya. Kata Siti, \u201cSemangat ya buat buat kalian yang masih jadi asisten. Sabar. Pelan-pelan. Aku tahu ini sulit, kok. Meski lelah tapi lelah kalian lillah. Percayalah, ada kebahagiaan tersendiri ketika kalian melihat pasien yang kalian tolong selamat dan berbahagia atas kelahiran bayinya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bertanya-langsung-alasan-buruh-garut-ikut-demo-omnibus-law-cipta-kerja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Bertanya Langsung Alasan Buruh Garut Ikut Demo Omnibus Law Cipta Kerja<\/a> dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-ridwansyah\/\">\u00a0Muhammad Ridwansyah<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wawancara saya kali ini dengan asisten bidan. Baru dengar profesi ini ya? Artikel ini akan menjabarkan seperti apa profesi ini sebenarnya.<\/p>\n","protected":false},"author":867,"featured_media":83557,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9195,428,4542],"class_list":["post-83490","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-asisten-bidan","tag-bidan","tag-wawancara"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83490","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/867"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=83490"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83490\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83557"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=83490"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=83490"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=83490"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}