{"id":83384,"date":"2020-10-15T07:38:37","date_gmt":"2020-10-15T00:38:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=83384"},"modified":"2020-10-14T15:54:07","modified_gmt":"2020-10-14T08:54:07","slug":"menanti-demonstrasi-besar-yang-dilakukan-oleh-pasukan-revolusi-one-piece","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menanti-demonstrasi-besar-yang-dilakukan-oleh-pasukan-revolusi-one-piece\/","title":{"rendered":"Menanti Demonstrasi Besar yang Dilakukan oleh Pasukan Revolusi One Piece"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oda Sensei tampaknya membuat One Piece menjadi sedekat-dekatnya dengan realita. Entah maksud sebenarnya bagaimana, tapi melihat jalan ceritanya sampai detik ini, blio sungguh mahir mengangkat suasana dan aktual yang sungguh paripurna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lihat saja dari awal Oda Sensei membangun cerita. Misalkan dari zaman Raja bajak laut, Gol D. Roger, ketika hari pemenggalan kepalanya, seakan lamat-lamat ia berkata, \u201cAku akan tetap ada dan berlipat ganda.\u201d Dengan senyumnya yang khas, ia telah memberikan segalanya, entah itu semangat hingga harapan, kepada era berikutnya. Tidak hanya melalui topi jerami saja, melainkan pemikiran dan daya juangnya dalam mengungkap apa yang selama ini ditutupi oleh Pemerintah Dunia (World Government).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita nggak sampai sana saja. Gejolak politik, tetek bengek ekonomi, hingga permohonan untuk keadilan HAM bagi mereka yang hilang. Saya serius, One Piece meliputi sampai sejauh itu. Nyala api yang dibangun oleh Roger tetap terjaga hingga kini. Walau meredup, diterjang angin dengan hebatnya, api tersebut tetap ada, bahkan akan selalu bertambah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Roger dan kolega memang diburu sampai mati oleh Marine. Mereka tak ingin para anggota tersisa, yang paham akan fakta sebenarnya Abad Kekosongan yang penuh pelanggaran HAM, menelurkan sepercik ide kepada generasi yang daya ledaknya lebih besar. Jika nyala api yang diberikan Roger tidak bisa dipadamkan, setidaknya mereka menjaga agar apinya tidak merambat atau bahkan membesar. Dan cara menjaganya ini adalah kesalahan berikutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah Dunia seakan gali lobang tutup lobang. Mereka menutup rapat kasus HAM zaman lampau, dengan melanggar HAM yang baru. Pepatah lama yang hingga sekarang masih kerap ditemui relevansinya; sejarah dibuat oleh pihak yang menang. Dan Abad Kekosongan adalah luka permanen bagi pihak yang kalah. Mereka mengejar Roger dan kolega lantaran mengetahui fakta ini. Dan beberapa \u201corang hebat\u201d, anehnya menyatakan untuk bungkam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Abad Kekosongan sudah dijelaskan secara kasar dalam One Piece chapter 202. Sebuah \u201cKerajaan Besar\u201d yang dihancurkan oleh koalisi dua puluh kerajaan yang kemudian berevolusi menjadi Pemerintah Dunia yang mengendalikan alur politik dalam bentuk Reverie. Batu-batu poneglyph memberikan semacam fakta periode ini. Lagi-lagi, membaca poneglyph dianggap tindakan kriminal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Periode panjang ini berjalan sejak 900 hingga 800 sebelum alur cerita utama dimulai. Poneglyph diperkenalkan, para penyintas satu per satu diperlihatkan. Ketidakadilan justru datang silih berganti. Pasal-pasal karet diciptakan World Government untuk menyengsarakan rakyat. Bejat!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu dari sekian banyak nama yang memperjuangkan keadilan sejarah ini adalah Pasukan Revolusioner. Hadirlah Pasukan Revolusioner yang digawangi oleh Monkey D. Dragon. Dari segala lini masa sejarah, yang namanya \u201corang atas\u201d, pasti selalu alergi dengan hal-hal yang mengatasnamakan revolusioner. Si tua yang tidak mau membuka mata bahwa perubahan lambat laun pasti akan terjadi juga. Bagaimanapun ceritanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Target Pasukan Revolusi adalah menjegal Bangsawan Dunia yang korup, tapi jika target mereka adalah Tenry\u016bbito, jelas Pemerintah Dunia akan pasang badan. Setali dengan Marine yang menempel dari dua inang yang saya sebutkan sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehebatan Dragon hingga Sabo nyatanya hanya menghadirkan kebelum siapan untuk menggoyang Pemerintah Dunia dengan konfrontasi langsung. Mereka merayap, gerilya kota, hingga membumi hanguskan satu persatu tubuh Pemerintah Dunia dari dalam agar limbung dan kemudian memberangsak dengan kekuatan yang besar; perang. Langkah kecil tapi berarti, membebaskan budak dari Tequila Wolf contohnya. Mereka menjaga api tersebut. Mereka memberikan ancaman bahwa Pemerintah Dunia tidak bisa duduk dengan nyaman di singgasana kepalsuannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan terakhir yang mereka pilih tentu satu hal ini, ya, aksi massa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita tinggal menunggu daya ledak Pasukan Revolusi melalui meja makan bernama demonstrasi. Seluruh pasukan akan bergerak secara masif dan tentunya terstruktur. Komandan Pasukan dalam Pasukan Revolusi misalkan, yakni Karasu, Belo Betty, Morley, dan Lindbergh, bertugas melancarkan woro-woro melalui media sosial. Bisa saja, kan? Apa sih yang nggak bisa. Mereka bercuit di Twitter dan membangun tagar mulai dari #MosiTidakPercaya hingga #WorldGovermentKontol.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ivankov, selaku dewan terhormat, bisa juga melancarkan aksi sporadis berupa berkomentar di akun @WorldGoverment_OP dengan puisi indah Wiji Thukul, \u201cApabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: LAWAN!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasukan Revolusi juga akan vis-\u00e0-vis dengan BuzzerRp dari World Government. Lha iya to, nggak asik kalau nggak ada lawan di media sosial. Terkadang, beberapa orang yang main media sosial, itu sudah melek, Bung. Bisa membedakan mana yang salah dan benar, mana yang hanya bermodalkan template belaka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di berbagai lini masa, video tindakan represif yang dilakukan oleh aparat\u2014Marine\u2014mulai berkeliaran. Mereka memukul, mementung, dan menendang para bajak laut muda yang baru saja beranjak dewasa. \u201cKEADILAN!\u201d teriak Monkey D. Luffy. \u201cKami di sini menuntut keadilan abad kekosongan dan muak dengan undang-undang karet yang kalian buat. Cukup badan saya saja yang karet, keadilan ya jangan!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua riuh bertepuk tangan. Sanji sedang meregangkan kaki, Zoro menyiapkan katananya, Jinbe sedang minum karena ikan sering dehidrasi di daratan. Mereka siap kapan saja. Turun ke jalanan. Water cannon? Tenang saja, Jinbe dan kolega malah senang jika disemprot air. Gas air mata? Tenang, Sanji sudah khatam babagan tangis dan derai air mata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Monkey D. Dragon selaku ayah Luffy dan ketua Pasukan Revolusi menangis melihat fakta\u2014masih ada generasi muda yang berani bersuara. Wind Granma, kapal Pasukan Revolusi, datang menuju Marie Joa. Tenry\u016bbito ketar-ketir dan bersembunyi di balik tubuh World Government. Asal kalian tahu, Tenry\u016bbito ini ternyata para cukong yang menyuplai uang untuk \u201cpihak atas\u201d. Melalui undang-undang licik inilah Tenry\u016bbito selalu hidup dengan tenang dan khidmat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelahnya adalah perjuangan yang perlu dilakukan. Sampai titik nadir bangsa ini, \u201cpihak atas\u201d yang korup dan tidak adil itu, perlu diberitahu apa itu sebuah perjuangan. Katanya, Tenry\u016bbito adalah keturunan langsung pemimpin hebat yang membangun dunia, kenapa bisa ia menghancurkan jagat yang dibangun dengan megah oleh kakeknya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi hati-hati saja ketika ada yang kebakaran. Entah fasilitas umum atau hutan ribuah hektar, bisa saja yang disalahkan Sabo, panglima aksi. Lho iya, kan? Sebagaimana penguasa yang memiliki semua akses, proses menyalahkan bisa berjalan dengan sukses. Gini lho, Sabo kan punya kekuatan Mera Mera no Mi atau mengeluarkan api.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga tak ada luka, sakit, perih, seperti apa yang dirasakan oleh Ibu Pertiwi jagat One Piece. Cukup kita sudahi sakit itu, keadilan harus menang. Pasal gomu-gomu harus musnah. Semangat mereka\u2014Pasukan Revolusi\u2014akan tetap ada. Bahkan berlipat ganda.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sekolah-superhero-pengecut-tutup-pagar-saat-murid-akan-konsolidasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Sekolah Superhero Pengecut, Tutup Pagar Saat Murid Akan Konsolidasi<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Abad Kekosongan sudah dijelaskan secara kasar dalam One Piece chapter 202. Sebuah \u201cKerajaan Besar\u201d yang dihancurkan oleh koalisi dua puluh kerajaan.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":83434,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1807,2583,103],"class_list":["post-83384","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-demonstrasi","tag-one-piece","tag-revolusi"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83384","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=83384"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83384\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83434"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=83384"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=83384"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=83384"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}