{"id":83204,"date":"2020-10-15T06:13:38","date_gmt":"2020-10-14T23:13:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=83204"},"modified":"2020-10-14T14:38:05","modified_gmt":"2020-10-14T07:38:05","slug":"anak-band-adalah-sinetron-dengan-judul-paling-aneh-yang-pernah-ada","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/anak-band-adalah-sinetron-dengan-judul-paling-aneh-yang-pernah-ada\/","title":{"rendered":"&#8216;Anak Band&#8217; Adalah Sinetron dengan Judul Paling Aneh yang Pernah Ada"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia memang bisa dibilang sebagai negara dengan segudang sinetron. Mulai dari sinetron bergenre azab, bergenre kehidupan suami istri, hingga sinetron fiksi ilmiah yang menggelikan dan membuat dahi mengernyit. Namun, pasar memang tidak pernah berbohong. Mau seaneh apa pun sinetron yang ditayangkan, akan ada cukup banyak orang yang menontonnya. Bahkan, sinetron yang aneh bisa mendapat rating dan share yang tinggi. Sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ganteng-Ganteng Serigala <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">adalah salah satu contoh bagaimana siteron yang sangat aneh dari segi cerita bisa mendapat penonton yang sangat banyak. Tunggu sampai kamu tahu sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Anak Band<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan ini tentunya tidak akan membahas sinetron<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> GGS<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karena selain anehnya keteraluan, sinetronnya pun sudah lama bungkus. Jadi, tidak ada untungnya juga. Sinetron yang akan dibahas adalah sinetron baru yang cukup mendapat perhatian banyak penonton televisi. Sinetron ini berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Anak Band<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang tayang di SCTV mulai 5 Oktober lalu pukul 19.40 WIB.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari judulnya saja, kita mungkin sudah mengerti apa yang diceritakan di dalam sinetron ini dan dan bagaimana dramatisasi klise yang ditambahkan. Pemerannya pun sangat familiar, yaitu duet Stefan William dan Natasha WIlona yang sudah pernah beradu akting di sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Anak Jalanan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang juga tidak kalah aneh itu<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ceritanya sederhana, yaitu Cahaya (diperankan oleh Natasha Wilona), seorang perempuan kelas menengah ke bawah, polos, pekerja keras, dan seorang tukang sayur keliling yang punya cita-cita menjadi penyanyi. Ia menggemari sebuah band populer The Junas, yang salah satu personelnya adalah Galang (diperankan oleh Stefan William). Galang merupakan vokalis dan gitaris band tersebut. Meskipun sudah terkenal dan digilai banyak penggemar perempuannya, dia tetap humble dan baik hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertemuan keduanya diawali dengan Cahaya yang sedang berjualan, dikejutkan dengan kedatangan Galang yang saat itu sedang menghindari kejaran penggemarnya. Dan, di sini lah ceritanya bermula. Sungguh sebuah cerita kehidupan musisi yang sangat usang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada dua hal sebenarnya yang patut disorot dari sinetron ini. Pertama, yaitu pemilihan judul \u201cAnak Band\u201d yang terkesan apa adanya dan seperti tidak ada opsi lain. Kita perlu mengerti bahwa judul itu salah satu fungsinya adalah untuk menarik perhatian penonton. Judul juga kalau bisa mengandung rasa penasaran bagi penonton. Lha kalau judulnya saja \u201cAnak Band\u201d ya sudah sangat kelihatan apa yang diceritakan dan bagaimana cerita anak band yang akan dipaparkan. Sudah pasti mengenai anak band yang populer, yang kisah cintanya bak Romeo dan Juliet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi penasaran bagaimana proses pemilihan judul dari sinetron ini. Mungkin saja tim penyusun sudah berusaha setengah mati mencari judul yang sangat bagus, enak didengar, dan dibaca, serta mengundang rasa penasaran. Tetapi, sebab dianggap terlalu ribet dan bertele-tele, judul tersebut ditolak dan harus diganti judul lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu ada salah satu orang nyeletuk, \u201cGimana ya caranya menjelaskan kehidupan anak band?\u201d Lalu orang lainnya membalas, \u201cYa judulnya Anak Band saja.\u201d Apesnya, judul tersebut melenggang tanpa ada koreksi apa-apa. Maka jadilah frasa \u201cAnak Band\u201d menjadi judul sinetron yang cukup aneh ini. Saya juga jadi penasaran, judul-judul apa saya yang sudah ditolak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal kedua yang perlu disorot adalah bagaimana potret kehidupan musisi yang sedang tenar diangkat dalam cerita. Dari beberapa episode yang terpaksa saya tonton, kehidupan musisi yang digambarkan dalam tokoh Galang ini sudah sangat usang. Mulai dari ketenaran yang berlebih, digandrungi penggemar perempuan, hingga kisah cinta yang klise pun ikut diangkat. Stereotip-stereotip musisi seperti ini seharusnya sudah selesai di akhir 90-an dan tidak perlu diangkat lagi. Kalau mau mengangkat kehidupan musisi, coba saja dengan bagaimana susahnya cari teman untuk main band, patungan sewa studio, pinjam alat musik sana-sini, atau fenomena musisi hijrah. Itu baru relate.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini membuktikan bahwa selama ini, stereotip musisi yang diangkat ke permukaan adalah musisi-musisi kelas atas, punya ketenaran luar biasa, punya latar belakang orang kaya, dan bisa mencukupi kebutuhan bermusiknya. Coba lah sekali-kali angkat kehidupan musisi kelas menengah yang masih bingung antara bekerja kantoran atau bermain musik, musisi yang masih bingung antara menabung atau membeli gitar baru. Mumpung sinetronnya masih berjalan, mungkin penulis skenario sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Anak Band<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bisa menambahkan saran saya ini ke dalam ceritanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi, namanya juga sinetron, pasti mereka membutuhkan drama-drama yang menjual. Musisi kelas atas dengan fasilitas dan ketenarannya sudah pasti menjual. Berbeda dengan musisi kelas menengah atau kelas bawah yang jangankan menjual, dianggap eksis saja jarang sekali. Saya juga menyarankan sekali lagi, kalau sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Anak Band<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> masih mempertahankan stereotip usang musisi, mending ganti judul saja.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: YouTube <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=yUWCvToXcuM\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kabarin Yuk<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/komeng-dan-jarwo-kwat-adalah-duet-maut-pelawak-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Komeng dan Jarwo Kwat Adalah Duet Maut Pelawak Indonesia <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/iqbal-ar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Iqbal AR<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau judulnya saja \u201cAnak Band\u201d ya sudah sangat kelihatan apa yang diceritakan dan bagaimana cerita anak band yang akan dipaparkan.<\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":83402,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4353,1997],"class_list":["post-83204","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-judul-sinetron","tag-program-televisi"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83204","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=83204"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83204\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83402"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=83204"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=83204"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=83204"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}