{"id":83059,"date":"2020-10-13T14:33:50","date_gmt":"2020-10-13T07:33:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=83059"},"modified":"2020-10-13T14:35:51","modified_gmt":"2020-10-13T07:35:51","slug":"sobat-narimo-ing-pandum-perlu-menerima-kritik-soal-upah-jogja-yang-memang-rendah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sobat-narimo-ing-pandum-perlu-menerima-kritik-soal-upah-jogja-yang-memang-rendah\/","title":{"rendered":"Sobat Narimo ing Pandum Perlu Menerima Kritik Soal Upah Jogja yang Memang Rendah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Debat tentang upah di Yogyakarta selalu menyenangkan. Maksudnya, selalu ada opini yang berseberangan tentang hal ini. Satu pihak ingin UMR di Yogyakarta naik, tapi yang satunya nggak ingin karena satu dua alasan yang\u2026 begitulah. Tapi, di antara alasan yang begitulah itu, ada satu yang paling sering dilontarkan hingga jadi meme. Alasan tersebut yaitu adalah \u201cnarimo ing pandum\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkatnya narimo ing pandum berarti menerima, ikhlas atas apa pun yang terjadi. Dikasih penderitaan ya tetap bersyukur, dikasih gaji UMR ya tetap dinikmati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja memanglah sebuah anomali. Saya begitu mencintai Jogja hingga saya membuat banyak alasan untuk tetap tinggal dan menderita di kota ini, pun saya mempunyai banyak alasan bahwa kota ini sebenarnya tidak terlalu menyenangkan untuk ditinggali. Mana yang menyenangkan dari bagian kota yang berisi kenangan bersama orang yang sudah lalu dan klitih sepanjang malam?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan tentu saja, upah yang murah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, itulah ajaibnya. Upah kota ini begitu mengenaskan, bahkan saya tidak bisa mengatakan layak. Tiap ada yang mengkritisi upah, sobat narimo ing pandum selalu berdiri menghadang. Tidak ada yang lebih romantis dari seseorang yang tetap mencintai meski disakiti. Iya, saya tahu itu bodoh, tapi biarlah saya sebut ini romantis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hati, saya ingin sekali memberi tahu orang-orang yang selalu meneriakkan narimo ing pandum tiap ada orang mengkritisi upah Jogja yang rendah bahwa niat mereka baik. Niat mereka\u2014kalian sobat narimo ing pandum, dengarkan baik-baik\u2014adalah memperbaiki taraf hidup di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benar, di Jogja masih bisa ditemukan menu di bawah sepuluh ribu rupiah yang mengenyangkan. Kalau harga tak berubah, di bawah flyover Janti ada angkringan yang sekali makan plus es teh hanya perlu bayar enam ribu rupiah. Bagi penghuni sekitar UNY, ada warung Mak Kasan yang murahnya nggak masuk akal. Plus, angkringan Pak Panut yang terletak di Klebengan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk catatan, angkringan Pak Panut bukan milik rektor UGM, meski punya nama yang sama. Pak Panut angkringan pro mahasiswa kere, rektor UGM pro Omnibus Law.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, wahai sobat narimo ing pandum, warung-warung tersebut tidak bisa dijadikan argumen bahwa upah Jogja tidak layak dikritik. Saya minta kalian bayangin gini aja, bayangkan setiap hari makan di angkringan Pak Panut, kita mau dapat nutrisi dari mana?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu baru satu alasan, belum alasan lain yang lebih logis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini, dalam hidup, kita nggak hanya mengurusi perut. Ada listrik yang harus dibayar, ada kuota yang harus diisi, dan sewa rumah yang harus dilunasi. Upah Jogja yang sekarang, saya yakin tidak bisa memenuhi itu semua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebentar, saya sepertinya harus beritahu bahwa upah Jogja yang saya maksud adalah UMR Jogja yaitu dua juta rupiah. Kalau kamu kerja di Jogja dan digaji tujuh juta, kamu nggak bisa ngomong narimo ing pandum. Kui akeh, jingan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, dengan angka yang hanya segitu, yang sebenarnya tidak merepresentasikan kebutuhan sebenarnya di Jogja, kehidupan akan terasa berat. Mungkin kalian merasa gaji segitu cukup, tapi ini lebih dari sekadar perkara cukup nggak cukup, ini masalah layak nggak layak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalangan akademisi hingga buruh sepakat bahwa upah di Jogja memang tidak layak. Sebagai kota yang besar, tidak selayaknya kota ini punya upah yang rendah. Baik, upah yang rendah membuat banyak investor tertarik, tapi nggak serendah ini juga kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kalian yang menolak orang mengkritisi upah, tahan dulu. Coba pikir begini, kalau upah ini dikritisi, lalu pemerintah mendengarkan dan upah jadi naik\u2026 bukankah itu berarti penghasilan kalian juga naik?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ayo coba pikir lagi. Katakanlah Anda digaji Rp1,8 juta. Setelah dituntut, upah kalian naik jadi Rp2,5 juta, sesuai standar kelayakan. Bukankah kenaikan Rp700 ribu itu lumayan? Kalian bisa membeli kebutuhan yang kalian tunda karena gaji tak mencukupi. Mungkin kalian bisa beli kulkas baru, atau tak perlu berutang untuk membayar kos kalian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kebetulan Anda sudah berkeluarga dan pasangan kalian bekerja, dengan hitungan di atas, keuangan kalian bertambah Rp1,4 juta per bulan. Bayangkan, setidaknya itu bisa menambah nutrisi untuk keluarga kalian. Mungkin juga bisa dipakai untuk membayar SPP anak yang kadang tersendat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sobat narimo ing pandum takut karena upah naik, harga-harga ikut naik, wajar. Tapi, saya kok nggak yakin harganya naik secara signifikan. Beras lima kilogram yang biasanya Rp60 ribu tidak tiba-tiba naik jadi seratus ribu rupiah. Kalau pun naik, kalian punya uang yang cukup untuk membeli karena upahnya sudah naik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi sobat narimo ing pandum sekalian, saya yakin bahwa tuntutan naiknya upah itu bukan karena orang-orang tersebut pengen beli Ninja, bukan. Tapi, semua itu semata agar mereka dan kita-kita ini hidup secara layak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Catat, hidup secara layak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang yang kalian maki dengan kata-kata tak punya malu karena numpang hidup, nggak tahu diri, nggak bisa nerima pemberian Tuhan, itu berjuang tak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk kalian yang memaki mereka. Terdengar klise dan heroik, tapi kenyataannya memang seperti itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahan libido menghujat dan mengusir mereka. Jogja tak akan kehilangan ke-Jogja-annya hanya karena upah yang naik dan daya beli yang meningkat. Justru, kota ini akan semakin menyenangkan karena orang yang hidup di bawah garis layak makin berkurang.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tilik-adalah-contoh-bagaimana-orang-kota-masih-gagap-dalam-melihat-desa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tilik adalah Contoh Bagaimana Orang Kota Masih Gagap dalam Melihat Desa<\/a> dan artikel\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/rizkyprasetya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rizky Prasetya<\/a>\u00a0yang lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rasanya saya ingin sekali memberi tahu orang-orang yang selalu meneriakkan narimo ing pandum bahwa kenyataannya upah Jogja memang rendah.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":8893,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[218,6094],"class_list":["post-83059","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-buruh","tag-umr-jogja"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83059","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=83059"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83059\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8893"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=83059"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=83059"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=83059"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}