{"id":82898,"date":"2020-10-13T06:21:29","date_gmt":"2020-10-12T23:21:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=82898"},"modified":"2020-10-12T20:42:40","modified_gmt":"2020-10-12T13:42:40","slug":"3-buku-yang-harusnyadisita-karena-berbahaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-buku-yang-harusnyadisita-karena-berbahaya\/","title":{"rendered":"3 Buku yang Harusnya Disita karena Berbahaya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari belakang negara dibuat sibuk menangkap beberapa provokator yang katanya &#8220;menunggangi&#8221; demonstrasi. Mereka sibuk juga mencari siapa dalang penyebar hoaks, entah hoaks macam apa. Mereka juga kalang kabut menangkap beberapa orang yang dianggap berbahaya, dengan barang bukti yang sangat berbahaya sealam raya, ya, apa lagi kalau bukan buku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buku ini sifatnya berbahaya betul, asal kalian tahu. Manusia yang membaca, konon bisa jadi pintar. Demi Blastoise yang mengeluarkan water cannon, betapa bahayanya barang ini. Lha piye, kalau masyarakat pintar, bisa-bisa para korporat, cukong, dan orang-orang gedongan nggak bisa lagi memperdaya masyarakat yang disebut rakyat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga kurang setuju dengan keberadaan buku. Selain buat cerdas, membaca atau membuat buku itu adalah proses meluruskan nalar. Ini sama sekali nggak cocok dengan sejarah bangsa yang bengkok-bengkok dan keadilan HAM yang entah belok ke mana. Buku ini sifatnya berbahaya. Daripada dibaca, mbok ya bakar saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalkan Ibu saya, sehabis membaca buku resep <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mustikarasa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, mosok ya blio bisa masak sayur bening. Wah, ini kebangetan, kan saya nggak suka sayur bening. Ini adalah contoh bagaimana barang ini sejatinya berbahaya. Bisa menambah ilmu, pemahaman, meluruskan nalar, daya ingat, olah pikir, dan paling berbahaya sifat kritis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sangat mendukung buku Tan Malaka dijadikan bahan bukti. Akhirnya, semesta mendengar keinginan saya. Filsuf Indonesia yang digandrungi anak muda karena materialisme, dialektika, dan logika ini sangat nggak cocok dengan jati diri bangsa yang sukanya saling serang di kolom komentar media sosial. Mosok yo harus membaca <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Aksi Massa, Gerpolek<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, hingga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Madilog<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Ucapkan persetan kepada kepintaran!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, selain buku Tan Malaka, harusnya kita mengembangkan integritas dalam larang melarang. Agar apa? Agar kita mempersempit bacaan kritis pemuda Indonesia. Agar kalo ada demonstrasi lagi, mudah untuk disalahin lantaran membawa barang bukti. Kan kita alergi sesuatu yang bikin pintar dan cerdas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari yang lalu ada yang membaca<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> RPUL<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Wah, ini udah kelewatan. Ibaratnya, buku ini sudah nggak bisa ditoleransi. Lha gimana, buku Tan Malaka yang isinya seputar kehidupan sosial saja dijadikan barang bukti, apalagi ini, memuat rangkuman tentang pengetahuan umum. Ada embel-embel &#8220;lengkap&#8221; pula.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buku ini sangat berbahaya karena bikin pintar anak-anak di bawah umur. Cakrawala ilmu mereka terbuka begitu lebar. Banyak asupan informasi yang belum mereka tahu sebelumnya. Kandungan pengetahuan dalam buku ini, lebih banyak ketimbang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Menuju Merdeka 100 Persen<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Sudah, nggak usah dikaji kandungan isinya, kan sesuatu yang mencerdaskan, itu berbahaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kawan saya juga dengan etel memamerkan sedang membaca <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Atlas<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Saya nggak habis pikir. Saya nggak tahu bagaimana kelanjutan hajat kehidupan kawan saya yang satu ini. Lho kok gitu? Apa salah Atlas? Ya, jelas salah karena Atlas ini berbahaya bukan main. Layak disita, dibakar, dan dijadikan barang bukti demonstrasi. Tolong serius sedikit, saya sedang nggak bercanda.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Atlas<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berisikan peta-peta berbagai negara dunia. Salah satunya ada peta negara Cina. Nah, Cina ini memegang erat paham komunis liberal wahyudi praktis! Barang ini bisa dijadikan bukti sebagai kebangkitan PKI yang membumi hanguskan keturunan terpelajar kita tempo lalu. Selain itu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Atlas<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga memuat peta Rusia, sebuah negara di mana komunisme adalah paham negaranya. Sungguh, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Atlas<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini amat berbahaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain penunjuk jalan yang bertuliskan &#8220;belok kiri jalan terus&#8221;, Atlas juga bisa jadi sumber kebangkitan PKI. Kan negara kita begitu alergi dengan partai yang lama mati. Apa lagi Atlas jelas-jelas memasang peta Cina, Rusia, bahkan Kuba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada buku lagi yang membuat saya resah bukan main. Yakni manual book merakit barang elektronik. Sejatinya, barang ini baiknya dilenyapkan saja. Selain ribet karena banyak bacaannya, juga sungguh berbahaya. Ya, merakit elektronik saja bisa, apa lagi merakit nalar dan kecerdasan. Sungguh, barang ini berbahaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas buku apa yang diperbolehkan? Buku dongeng. Selain mudah dicerna, nggak perlu mikir berlebihan, juga merupakan sarana terbaik untuk tidur. Ya, asal jangan baca saat rapat aja, sih. Nanti kalau tidur saat rapat, kan nggak lucu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buku itu bikin penguasa alergi, kawan. Lantas, untuk apa ada barang ini? Tidak perlu membaca terlebih dahulu, tidak perlu mengkaji kandungan isi, apa lagi membentuk pola pikir dan korelasi antara buku itu berbahaya bagi siapa. Langsung jadikan barang bukti saja. Sama seperti buku Tan Malaka yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Aksi Massa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Aksi Massa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ditunjukkan untuk kritik pemerintah kolonial saat itu. Bukan sebagai tanggapan atas gagalnya revolusi yang dikobarkan PKI. Lini masa kapan buku ini terbit dan untuk apa terbit itu sejatinya hal dasar lho. Bahkan itu adalah pemahaman dasar, nggak butuh membaca lembar demi lembar dulu atau bahkan mengkaji. Hal sederhana saja salah, apalagi kalau baca. Tapi, nggak masalah, kecerdasan adalah musuh, entah musuhnya siapa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harapan saya ya, tiga buku di atas, tolong ditindak tegas. Soalnya, tidak ada yang baik. Kecuali dongeng, biar bisa bobok siang. Hmm tapi sejatinya buku itu hal sehat. Terutama saat dibaca, dicerna menggunakan otak dan dirasa menggunakan perasaan. Masalahnya, saya nggak punya otak dan perasaan. Persetan dengan buku dan kecerdasan! Sita saja!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-pendemo-yang-usai-demonstrasi-pulang-ke-rumah-seorang-polisi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Saya Pendemo yang Usai Demonstrasi, Pulang ke Rumah Seorang Polisi<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pihak-pihak berwenang yang kemarin menyita buku itu melakukan kesalahan. Soalnya mereka tidak menyita ketiga buku yang saya sebutkan ini.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":67733,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9155,90,9156,3039,9154],"class_list":["post-82898","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahaya","tag-buku","tag-keamanan","tag-kecerdasan","tag-sita"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82898","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=82898"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82898\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/67733"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=82898"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=82898"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=82898"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}