{"id":82789,"date":"2020-10-12T07:33:30","date_gmt":"2020-10-12T00:33:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=82789"},"modified":"2020-10-12T01:26:00","modified_gmt":"2020-10-11T18:26:00","slug":"rating-sebuah-film-nggak-perlu-dipercaya-sampai-kita-nonton-filmnya-sendiri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rating-sebuah-film-nggak-perlu-dipercaya-sampai-kita-nonton-filmnya-sendiri\/","title":{"rendered":"Rating Sebuah Film Nggak Perlu Dipercaya Sampai Kita Nonton Filmnya Sendiri"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, persentase rating yang terpampang pada suatu film itu merepotkan. Seolah-olah menjelaskan bahwa keseluruhan elemen pada film dengan rating yang rendah itu jelek, tidak layak ditonton, dan kurang menarik. Berlaku sebaliknya juga untuk film dengan persentase rating yang terbilang tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah hal tersebut terbilang fair? Menurut saya, sih, nggak. Paling tidak untuk filmnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak masalah jika persentase rating hanya dijadikan gambaran penilaian suatu film. Tapi, untuk dijadikan penilaian secara utuh dan plek-plekan, sampai-sampai tidak mau menonton suatu film, rasanya berlebihan. Lah gimana, rating suatu film kan bisa diberikan oleh siapa pun. Artinya, besar kemungkinan penilaiannya akan sangat personal atas dasar suka-tidak suka, cocok-tidak cocok, dan sesuai selera atau tidak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu kenapa, tiap kali ingin menonton suatu film, saya tidak pernah melihat persentase rating dan menjadikannya sebagai patokan akhir penilaian. Nonton ya nonton aja gitu. Dan ini saya terapkan untuk semua genre film, termasuk anime. Tonton aja filmnya secara utuh, sampai selesai, tanpa memedulikan ratingnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada titik yang paling menyebalkan, penilaian yang dikonversi menjadi rating itu membelenggu. Bikin ragu. Bikin penikmat film jadi mikir ulang kalau mau nonton suatu film. \u201cSkip film ini, ah. Ratingnya kurang bagus. Kapan-kapan aja nontonnya.\u201d Begitu kira-kira gambarannya. Padahal, ditonton aja belum. Dilihat trailernya aja nggak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh paling sederhana, sering kali saya alami saat ingin menonton film di beberapa layanan media streaming digital seperti Netflix, Viu, juga Mola Tv.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada beberapa aplikasi tersebut, mungkin juga banyak aplikasi streaming digital lainnya, film dengan persentase rating yang rendah pun tetap bagus dan sangat layak untuk ditonton. Alur cerita, akting setiap karakternya, latar belakang tempat, semuanya terbilang mumpuni. Hanya karena pemberian rating yang bisa jadi tidak fair, semuanya jadi ambyar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Underrated. Film dengan rating rendah, diklaim kurang bagus hanya karena penilaian sebagian orang. Padahal, dibalik rating yang rendah itu, suatu film bisa jadi memanjakan dan menghibur para penontonnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan hanya film dengan rating rendah. Film dengan rating tinggi pun tidak luput dari cercaan jika secara keseluruhan tidak memenuhi ekspektasi para penonton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita terlalu banyak bertaruh dan menaruh harapan pada rating, sampai kita lupa bahwa esensi dari menonton film adalah fokus menonton tanpa berprasangka apa pun. Nikmati saja alur ceritanya dari awal sampai akhir, sambil makan camilan yang sudah disediakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika ditelusuri, pemberian kategori pada setiap film sudah lebih dari cukup dan rasanya akan jauh memberi manfaat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ditujukan untuk anak atau dewasa, lalu adanya rincian tentang genre, pastinya akan lebih berguna bagi para penikmat film sebagai informasi tambahan sebelum menentukan tayangan yang akan ditonton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan lain mengapa saya selalu mengabaikan persentase rating pada suatu film karena saya cukup yakin setiap film punya segmentasinya tersendiri. Jadi, semua film akan menemukan penikmatnya masing-masing. Dari sini, bisa saja rating menjadi bias karena ada potensi hanya akan dinilai baik oleh para penggemarnya, dan akan diberi nilai yang rendah oleh para non-penikmat yang bisa jadi juga para pembencinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkaca pada fenomena tersebut, hal ini bisa juga dijadikan suatu pertimbangan bahwa persentase rating pada suatu film pada akhirnya nggak penting-penting amat. Kalau bisa, sih, nggak perlu dipedulikan sama sekali. Nonton ya nonton aja gitu. Urusan apakah film yang ditonton menarik atau tidak, paling tidak secara personal, akan diketahui ketika sudah menontonnya sampai akhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan dibiasakan nggak jadi nonton suatu film hanya karena rating. Jangan. Sebab, kita belum tahu, apakah ada atau tidaknya hal menarik yang bisa kita temukan saat menonton suatu film. Hal menarik tersebut tentu saja baru bisa kita ketahui ketika sudah menonton filmnya sampai selesai. Bukankah, begitu?<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/merayakan-hadirnya-film-aneh-dengan-nonton-im-thinking-of-ending-things\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Merayakan Hadirnya Film Aneh dengan Nonton \u2018I\u2019m Thinking of Ending Things\u2019<\/strong> <\/a><b><\/b><b>dan artikel\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/setowicaksono\/\"><b>Seto Wicaksono<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tiap kali ingin menonton suatu film, saya tidak pernah melihat persentase rating dan menjadikannya sebagai patokan.<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":82805,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[28,890,4575],"class_list":["post-82789","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-film","tag-nonton","tag-rating"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82789","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=82789"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82789\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/82805"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=82789"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=82789"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=82789"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}