{"id":82641,"date":"2020-10-15T06:10:34","date_gmt":"2020-10-14T23:10:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=82641"},"modified":"2020-10-14T20:10:45","modified_gmt":"2020-10-14T13:10:45","slug":"surat-terbuka-untuk-pak-azis-syamsuddin-terima-kasih-pak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surat-terbuka-untuk-pak-azis-syamsuddin-terima-kasih-pak\/","title":{"rendered":"Surat Terbuka untuk Pak Azis Syamsuddin: Terima Kasih, Pak!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang terhormat, Pak Azis Syamsuddin, Wakil Ketua DPR RI. Selamat istirahat dengan puas setelah sukses memimpin sidang paripurna pengesahan RUU Cipta Kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga Anda selalu diberi limpahan rahmat yang dalam dan luas oleh Tuhan dan tidak terusik oleh suatu hal apa pun. Tidak seperti saya atau orang kecil lain, yang meski sudah dilimpahi rahmat Tuhan, masih saja mengeluh karena terganggu oleh sesuatu yang nggak tahu apa manfaatnya: hasil sidang sembunyi-sembunyi di Senayan itu, Pak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa basa-basi, Pak Azis Syamsuddin, dengan surat ini saya ingin mengungkapkan rasa terima kasih secara tulus. Rasa ini hadir setelah saya membaca di banyak media perihal pernyataan Anda sebagai respon kekecewaan rakyat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin Anda belum tahu rakyat yang kecewa itu rakyat yang mana, maka dengan senang hati saya tunjukkan. Itu lho, Pak Azis Syamsuddin, rakyat yang mendorong Anda untuk duduk di kursi malas DPR. Kursi yang empuk, yang siapa pun bisa ngantuk jika mendudukinya. Barangkali, Anda termasuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh, maaf, Pak. Kok jadi ngomongin kursi ya? Maklum ya, Pak, tanggung. Saya kan ingin juga duduk di kursi tersebut. Apalagi kursi gaming, Pak, wah itu idaman sekali. Soalnya bisa membuat kita tahan kerja sambil live streaming tanpa tertidur. Pokoknya kerja, kerja, kerja!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Haduh malah ngelantur. Sory, Pak Azis Syamsuddin. Kembali ke soal pernyataan Anda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih ingat kan pernyataan yang mana? Pernyataan Anda yang berbunyi, &#8220;Jika kecewa dengan teman-teman di DPR, ya, rakyat nggak usah memilih mereka dan partainya lagi di pemilu mendatang,&#8221; itu, Pak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Leres, Pak Azis Syamsuddin. Saya jadi tercerahkan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">untuk golput lagi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> lebih hati-hati dalam memilih wakil saya di DPR, sungguh. Pernyataan Anda bagai cahaya di kegelapan nasib saya sebagai buruh rumah sakit swasta, Pak Azis. Bahkan, saking silaunya cahaya tersebut, saya jadi gelap lagi karena mampu\u00a0 membutakan pandangan saya di masa depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, paling tidak Anda sempat membuat cerah walau hanya sekejap, nggak suram melulu. Jadi, tetap saja saya merasa harus berterima kasih kepada Anda. Dan ini jadi terima kasih saya yang pertama, ya, Pak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, saya ingin berterima kasih karena dengan pernyataan Anda itu saya jadi nggak lagi merasa berdosa. Pasalnya di pemilu 2019, sesungguhnya saya golput, Pak. Hehehe. Saya mendapat perasaan demikian saat itu, setelah membaca tulisan Romo Magnis di Kompas (12\/3\/2019).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beliau itu, Pak, bilang kalau golput merupakan dosa dan amoral karena memberi peluang bagi yang terburuk untuk berkuasa. Wah, sebelum mendapat pencerahan dari Anda, saya agak cemas. Pikir saya, \u201cDuh gimana ya, kalau saya masuk neraka karena golput, apa nggak diketawain tuh saya, oleh para penghuni dan penjaganya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan bahkan, sebenarnya dengan kecemasan akibat tulisan Romo Magnis itu, Pak Azis, saya juga sempat berniat nggak golput lagi. Saya membayangkan bagaimana jika yang terburuk benar-benar berkuasa, hancur dong kita <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kayak sekarang<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata niat saya nggak sepenuhnya tepat. Ya, karena bagi saya mereka semua itu buruk, Pak. Nggak ada yang terburuk. Semua sama bagi saya. Buktinya, yang terburuk pun\u2014karena nggak terpilih, katakanlah\u2014malah dipanggil untuk menjabat menteri di istana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, saya ingin berterima kasih, sebab dengan pernyataan Anda, saya merasa sudah benar untuk menolak diselenggarakannya pilkada serentak di tengah pandemi. Dengan begitu, saya jadi nggak ragu dan rikuh untuk tetap tidur di rumah karena takut korona, sementara TPS tetap buka dijaga tetangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan saya pun jadi nggak heran lagi jika sebagian besar teman Anda di pemerintahan atau partai, nggak ada angin maupun hujan, tiba-tiba peduli pada hak konstitusi rakyat untuk memilih. Padahal, mereka hanya peduli haknya untuk dipilih, sebenarnya. Apalagi setelah pernyataan Anda tersebut mencuat. Iya kan, Pak? Jujur saja. Jangan ada <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Omnibus Law<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dusta di antara kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keempat, saya terima kasih sekali. Berkat pernyataan Anda, gerakan golput yang cukup santer di pemilu 2019, akhirnya menemui jalan mulus dan nggak berlubang. Drama golput yang menuai pro dan kontra\u2014pro bagi yang menolak presidential threshold<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">dan kontra bagi yang ingin berkuasa\u2014akhirnya usai juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkat Anda, siapa pun yang menyuarakan atau bahkan mengkampanyekan golput saat pemilu kapan pun nantinya, menjadi sah dan wajar sebagai ekspresi politik belaka. Nggak usah ada gontok-gontokan lagi, ya. Apalagi sampai ngotot hanya karena nafsu berkuasa semata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum saya akhiri, sebenarnya saya ingin berterima kasih untuk yang kelima kalinya sehingga sempurna seperti rukun Islam dan Pancasila. Tapi, pertanyaannya, Anda bersedia, nggak? Sebab, syaratnya agak berat meskipun lebih berat kehidupan menjadi rakyat yang dipimpin Anda dan rekan-rekan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika mau, penuhi dulu tuntutan rakyat yang meminta 1) untuk didengarkan aspirasinya dan yang terpenting yaitu; 2) cabut Omnibus Law sampai ke akar-akarnya, kemudian; 3) tarik mundur aparat yang brutal dan; 4) usut tuntas kekerasan mereka terhadap demonstran, bagaimana pun caranya, karena; 5) poin pertama hingga keempat, kini sangat genting dan harus terpenuhi secepatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak berat-berat amat toh, Pak, bagi Anda? Pasti bisa, lah, demi kesempurnaan. Minta bantuan Bu Puan, ya nggak masalah. Ayolah, Pak Azis, saya tidak tahan lagi untuk berterima kasih kepada Anda!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sok-edgy-di-tengah-isu-omnibus-law-biar-apa-bos\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Sok Edgy di Tengah Isu Omnibus Law biar Apa, Bos?<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/fadlir-rahman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Fadlir Rahman<\/a>\u00a0lainnya<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pak Azis Syamsuddin, dengan surat ini saya ingin mengungkapkan rasa terima kasih secara tulus. Terima kasih karena apa? Ya masak nggak tahu.<\/p>\n","protected":false},"author":933,"featured_media":83113,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9192,3372,5479,9046],"class_list":["post-82641","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-azis-syamsuddin","tag-dpr","tag-omnibus-law","tag-uu-cipta-kerja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82641","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/933"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=82641"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82641\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83113"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=82641"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=82641"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=82641"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}