{"id":82635,"date":"2020-10-15T06:53:27","date_gmt":"2020-10-14T23:53:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=82635"},"modified":"2020-10-14T19:57:45","modified_gmt":"2020-10-14T12:57:45","slug":"jangan-katakan-ini-pada-penderita-covid-19-dan-keluarganya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-katakan-ini-pada-penderita-covid-19-dan-keluarganya\/","title":{"rendered":"Jangan Katakan Ini pada Penderita Covid-19 dan Keluarganya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di masa pandemi seperti ini, tertular Covid-19 menjadi sesuatu yang lumrah. Kenapa? Karena virus ini telah menyebar ke berbagai penjuru tanpa bisa benar-benar dideteksi. Penularannya pun sangat mudah. Jadi, terinfeksi Covid-19 menjadi semacam momok yang membayangi setiap warga Indonesia, termasuk saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan minggu lalu, virus itu mampir di keluarga saya. Suami saya positif Covid-19 dan harus dirawat di rumah sakit. Kami pun dibanjiri dukungan moral dan material dari keluarga dan teman-teman. Namun, di antara bentuk dukungan tersebut beberapa berupa kata-kata yang justru memperburuk suasana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak semua rasa simpati perlu diutarakan, kadang, lebih baik diam dan mendoakan kebaikan. Terutama jika Anda tidak terlalu akrab dengan orang tersebut. Jika pun Anda ingin mengungkapkan, pastikan tidak mengucapkan kata-kata berikut ini.<\/span><\/p>\n<h4><b>Kasihan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu kata yang paling mengganggu telinga dan hati saya adalah kata-kata \u201ckasihan\u201d. Kata-kata ini sebaiknya dipendam dalam hati, karena orang yang tertimpa musibah sungguh tak ingin dikasihani. Mereka\u2014dalam hal ini saya\u2014mungkin perlu bantuan dan dukungan, tapi bukan rasa kasihan. Ini justru memperburuk suasana hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaliknya, Anda bisa memilih kata-kata lain yang lebih menenangkan. Contohnya, \u201csemangat ya\u201d, dan mendoakan dengan kata-kata, \u201cSemoga Allah mudahkan\u201d, dan lain sebagainya. Ini jauh lebih baik.<\/span><\/p>\n<h4><b>\u201cKemarin si X meninggal gara-gara Covid-19\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Percaya tidak percaya, ada lho yang mengatakan hal ini kepada saya. Salah seorang kawan ada yang mengatakan bahwa X (salah satu tokoh masyarakat yang memang sudah tua) meninggal karena Covid-19.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah apa yang diharapkannya dengan mengatakan itu, mungkin ia berpikir itu hanya informasi biasa. Tapi, bagi saya, yang suaminya baru saja masuk rumah sakit karena Covid-19, tentu mendengar kabar ini jadi sangat mengganggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tolonglah ya, ceritakan hal yang bagus saja untuk membesarkan hati. Misal, ceritakan tentang orang yang sudah tua dan bisa sembuh dari Covid-19. Atau siapa saja kenalan yang sudah sembuh dari Covid-19 walaupun gejalanya parah. Ini akan membuat hati si penderita jadi lebih tenang.<\/span><\/p>\n<h4><b>Menceritakan kabar hoax<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini juga sempat saya dengar dari seorang kawan. Si kawan tiba-tiba menelepon setelah mendengar kabar tentang keluarga saya, kemudian bilang, \u201cAku kaget lho, aku kira bakal kayak di video-video itu yang blablabla.\u201d Intinya ia menonton video terkait Covid-19 yang menurut saya itu hoax.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya sih saya gemas sekali ketika mendengar dia bicara begitu. Tapi, daripada saya malah emosi, yaa saya dengarkan dan jawab seperlunya saja. Dan semoga tidak ada lagi yang mengalami hal yang sama dengan saya.<\/span><\/p>\n<h4><b>Menceritakan ulah nyebelin tetangga<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah menjadi rahasia umum kalau di negeri tercinta ini banyak stigma yang melekat pada penderita Covid-19, seolah tertular Covid-19 itu adalah aib dan orangnya harus dijauhi sejauh mungkin. Ada seorang kawan yang bercerita bahwa ketika ayahnya meninggal, tetangganya menjauh karena mengira ayahnya itu meninggal akibat Covid-19. Padahal sebenarnya bukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, saya sendiri tidak merasakan hal ini. Sebagai orang yang cukup ansos dan tidak kenal banyak tetangga, saya bisa dibilang tidak merasakan efek \u201cdijauhi tetangga\u201d. Namun, lagi-lagi, ada juga kawan yang bilang pada saya tentang hal itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEh, kemarin saya lihat ada ibu-ibu nunjuk-nunjuk ke arah sini (rumah saya), mungkin dia tahu,\u201d ucapnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Well, bagi saya sih kata-kata dia itu lebih mengganggu dibanding ulah si ibu-ibu yang dia ceritain. Karena saya sungguh tidak peduli dengan apa yang dilakukan tetangga terkait status kami yang positif. Jadi tidak perlulah melaporkan hal itu pada saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu bagaimana sebaiknya kita bersikap ketika ada teman atau tetangga yang positif Covid-19?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, lihat dulu, apakah kita cukup akrab dengan orang itu? Jika iya, beri dukungan dan semangat dengan menghubunginya. Tapi, jika tidak, cukup doakan. Mendoakan secara diam-diam itu baik, lho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, jika kita cukup akrab, tawarkan bantuan. Tanyakan apa keperluannya. Jangan juga langsung begitu saja memberikan sesuatu, padahal sebenarnya dia tidak butuh itu. Saya sendiri justru kewalahan menerima kiriman makanan dalam jumlah yang banyak, salah satunya buah-buahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya ingin mengirimkan makanan, tanyakan dulu makanan yang dia suka. Kalau kita cukup akrab, seharusnya dia tidak akan malu-malu bilang kalau memang perlu sesuatu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, menjadi pendengar yang baik. Di beberapa situasi, kita bisa membantu hanya dengan menyodorkan telinga secara tulus alih-alih banyak bicara.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/dsa\/esai\/kuliah-capek-capek-jadi-ibu-rumah-tangga-emang-kenapa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kuliah Capek-Capek Kok Cuma Jadi Ibu Rumah Tangga, Lha Emang Kenapa?<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/vidiyani-utari-tampi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Vidiyani Utari Tampi<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Suami saya positif Covid-19 dan harus dirawat. Kami pun dibanjiri dukungan. Namun, ada dukungan yang justru memperburuk suasana.<\/p>\n","protected":false},"author":910,"featured_media":62331,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[5468,228,9191],"class_list":["post-82635","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-covid-19","tag-keluarga","tag-pasien"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82635","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/910"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=82635"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82635\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/62331"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=82635"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=82635"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=82635"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}