{"id":82173,"date":"2020-10-08T06:33:13","date_gmt":"2020-10-07T23:33:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=82173"},"modified":"2020-10-08T01:41:43","modified_gmt":"2020-10-07T18:41:43","slug":"sok-edgy-di-tengah-isu-omnibus-law-biar-apa-bos","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sok-edgy-di-tengah-isu-omnibus-law-biar-apa-bos\/","title":{"rendered":"Sok Edgy di Tengah Isu Omnibus Law biar Apa, Bos?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demonstrasi yang menolak UU Cipta Kerja atau Omnibus Law di banyak daerah, boleh dan bahkan wajib dianggap sebagai gerakan yang mewakili kita semua. Mewakili saya, kamu, atau siapa pun yang nggak bisa ikut turun ke jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemarahan, ketidakpuasan, dan semua energi yang melawan keputusan pemerintah dan DPR, terwakili oleh mereka: sebenar-benarnya wakil rakyat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, ada saja beberapa orang yang meremehkan dan mempertanyakan efektivitas demonstrasi di media sosial. Adalah mereka yang bertanya-tanya, \u201cGimana hasil demonya? Pasti capek ya, teriak-teriak, marah-marah, keringetan?\u201d Atau mereka yang mengunggah unggahan seperti, \u201cKoar-koar kok di story, DPR nggak follow akunmu dan nyimpen kontakmu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali, mutual atau unggahan yang lewat di lini masa media sosial kalian ada yang bernada meremehkan macam itu. Jika ada dan membuatmu gemas juga, berarti kita satu frekuensi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka yang menunggah unggahan seperti itu, sebenarnya muncul bukan hanya pada gerakan kali ini. Pada gerakan #ReformasiDikorupsi tahun lalu, bahkan mungkin pada setiap aksi yang mampu menjadi arus dan menyeret simpati rakyat (kecuali gerakan 212), orang-orang dengan pemikiran sejenis itu selalu ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menduga, mereka ini bukan buzzer pendukung pemerintah (buzzerRp), melainkan murni mencoba \u201cmbedani\u201d gerakan yang mewakili banyak orang. Sebab, bisa dikatakan, gerakan ini sudah menjadi arus mainstream, mereka mencoba menjadi pencetus unpopular opinion.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sungguh menggemaskan mereka ini, ya. Nggak tahu diri sedang dibela hak-haknya. Dan karena itu, saya ingin menunjukkan kenorakan dan kesia-siaan mereka yang berusaha menjadi beda di tengah embusan kencang perlawanan kepada oligarki.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, mereka kerap menilai bahwa demonstrasi yang dilakukan merupakan kesia-siaan semata. Bagi mereka, demonstrasi cuma menghasilkan baju yang basah, tenggorokan kering dan perih, atau hal percuma lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, Bosku, walaupun demonstrasi nanti pait-paitnya nggak bisa membatalkan Omnibus Law, bagi mereka yang turun ke jalan, kesia-siaan itulah yang membuat mereka merasa hidup. Sebab, mereka memperjuangkan suara rakyat, yang sering dianggap suara Tuhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daripada kamu, hidup kok apatis dan dipenuhi kesia-siaan.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, soal opini mereka yang menyatakan bahwa demo itu selalu marah-marah. Ya, memang. Wong kebangetan pemeritah itu, kok. Siapa yang nggak marah saat harta, nyawa, dan martabatnya terancam coba? Kemarahan orang-orang terhadap kebijakan ngawur pemerintah itu, sama halnya dengan kemarahan pada kekerasan aparat: nggak bisa dihindari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka nggak sampai di pemikiran itu, mungkin karena kepalanya berada di surga dan penuh dengan ilusi perundingan damai untuk menyelesaikan masalah ini. Akan tetapi, pemerintah dan DPR saja nggak mau berunding kok. Itulah kenyataan yang nggak mereka sadari, bahwa seluruh badan kita, termasuk mereka,\u2014dari kaki hingga tulang cervical\u2014berada di neraka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau mungkin, mereka melahap mentah-mentah ungkapan bahwa kemerdekaan didapatkan melalui perundingan dan bukan hanya aksi massa, yang berakibat pada kecacatan berpikirnya untuk menghilangkan aksi massa yang sama pentingnya dalam revolusi kemerdekaan dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perundingan dan aksi turun ke jalan itu sama pentingnya. Jangan mentang-mentang yang disorot selalu para perunding, kamu serta merta meremehkan sebuah aksi!<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, saya mengatakan bahwa mereka hidup dengan kesia-siaan di poin pertama, karena usahanya untuk menjadi beda itu terlihat \u201ctrying so hard to be edgy\u201d wqwqwq~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wagu tur ramashook!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melawan arus atau menjadi beda, bagi mereka mungkin sangatlah keren. Tapi, mereka lupa, gerakan ini adalah arus yang melibatkan banyak simpati orang-orang, apalagi di akar rumput, sehingga usaha mereka itu jangankan keren, nampak saja belum. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Malahan, mereka hanya terkesan menginginkan keeksisan secara ekstrem, ingin dianggap lebih dan berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Unpopular opinion-mu nggak bisa berlaku, salah tempat, dan pansos banget, Bos! Lagian, unpopular opinion itu bertujuan untuk memberi pandangan baru terhadap suatu hal. Bukan untuk keren-kerenan!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kamu ingin terus dianggap dan eksis, jadi Tuhan saja sana. Eh, tapi jangan, ding. Nanti kamu punya kekuasan dan malah memanfaatkannya untuk berbuat jahat kayak pemerintah.<\/span><\/p>\n<p><b>Keempat<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, segala usaha mereka itu sama rendahnya dengan buzzer pendukung Omnibus Law. Bahkan, mereka lebih merugi. BuzzerRp kan dibayar, meski nggak tau duitnya halal apa haram. Tapi, paling tidak buzzerRp bisa makan. Lah mereka? Nggak dapat apa-apa. Dapat kerennya nggak, norak iya!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan yang terakhir, jika Mas Prabu mengajak menertawakan buzzerRp, saya akan mengajak siapa pun untuk bergidik najis pada mereka yang berusaha\u2014meski sekecil apa pun\u2014\u201cmbedani\u201d karena dianggap keren sehingga mencederai perlawanan terhadap kezaliman pemerintah. Sebab, mereka bukan lagi sampah, tapi lebih rendah dari sampah!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lupakan-kinerja-terawan-mari-kita-bahas-gelar-beliau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Lupakan Kinerja Terawan, Mari Kita Bahas Gelar Beliau<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/fadlir-rahman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Fadlir Rahman<\/a>\u00a0lainnya<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Demonstrasi yang menolak UU Cipta Kerja atau Omnibus Law di banyak daerah, wajib dianggap sebagai gerakan yang mewakili kita semua.<\/p>\n","protected":false},"author":933,"featured_media":75529,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1807,9091,5479,9046],"class_list":["post-82173","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-demonstrasi","tag-edgy","tag-omnibus-law","tag-uu-cipta-kerja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82173","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/933"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=82173"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82173\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/75529"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=82173"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=82173"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=82173"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}