{"id":82162,"date":"2020-10-09T06:17:47","date_gmt":"2020-10-08T23:17:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=82162"},"modified":"2020-10-09T22:24:54","modified_gmt":"2020-10-09T15:24:54","slug":"kalimat-siap-bang-jago-dan-tanda-bahwa-kita-sukar-menerima-kritik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalimat-siap-bang-jago-dan-tanda-bahwa-kita-sukar-menerima-kritik\/","title":{"rendered":"Kalimat &#8216;Siap, Bang Jago!&#8217; dan Tanda bahwa Kita Sukar Menerima Kritik \u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang terjadi pada Najwa Shihab terkait pelaporan oleh Ketua Umum Relawan Jokowi Bersatu pada kepolisian merupakan sebuah gambaran pelik bahwa memang orang Indonesia sulit menerima kritik. Untungnya Mbak Nana beruntung karena laporan itu ditolak polisi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pelaporan dengan menggunakan pasal karet sebagai ujung dari sebuah ketidakterimaan terhadap kritik memang bukan barang baru. Seperti pada kasus pelaporan<\/span><a href=\"https:\/\/www.hitekno.com\/internet\/2019\/12\/04\/172116\/kritikus-film-cine-crib-diancam-sutradara-ternama-angkat-bicara\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Cine Cribs<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang pernah mengkritik keras salah satu film Indonesia, eh lalu dicap tidak cinta karya anak bangsa dan dianggap \u201cantek aseng\u201d. Meski perfilman kita sebenarnya sudah mulai cukup membaik, tapi kasus tersebut menandakan bahwa dunia kritik kita jauh dari kata membaik\u2014padahal film atau karya seni lainnya sangat butuh kritik supaya bisa lebih baik ke depannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain dari kasus pelaporan itu pun, sebenarnya watak orang Indonesia yang tidak bisa menerima kritik tercermin dalam perdebatan di sosial media, apalagi Twitter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari pengamatan saya, dalam setiap debat di Twitter atau di media sosial mana pun, jarang sekali berujung baik. Tidak ada yang berusaha memahami kritik satu sama lain. Dalam perdebatan, ada beberapa jurus pamungkas yang selalu digunakan untuk menanggapi kritik. Sayangnya \u201cjurus\u201d ini justru menurut saya makin menggambarkan bahwa watak orang Indonesia itu ternyata emang sukar sekali menerima kritik.<\/span><\/p>\n<h4><b>Kalimat yang diawali atau diakhiri dengan \u201cNo offense\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam memulai atau mengakhiri suatu argumen, biasanya kalimat andalan ini digunakan untuk membalas suatu kritik yang kadang justru melebar dari persoalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun kalimat itu memang bertujuan baik agar kritik tidak diambil secara personal alias fokus terhadap persoalan di dalam kritik tanpa embel-embel pertemanan atau hubungan apa pun, kalimat tersebut malah melenceng. \u201cNo offense\u201d menjadi suatu pembenaran untuk melukai seseorang secara barbar dan tidak ada satu pun celah bagi seseorang untuk membalas argumennya. Tentu saja kalimat tersebut jadi nggak sehat sama sekali untuk dunia kritik kita.<\/span><\/p>\n<h4><b>\u201cLebay\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata \u201clebay\u201d ini sering kali berkelindan dengan kata-kata \u201celah gitu doang dipermasalahin\u201d. Tentu saja ini menandakan bahwa orang-orang yang merespons sebuah kritik dengan kata \u201clebay\u201d, sangat alergi dengan yang namanya kritik. Orang-orang seperti ini biasanya cuma pengin hal-hal indah di dunia mereka tanpa ada hal-hal yang bertentangan dengan apa yang mereka yakini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata ini juga terbukti ampuh bikin orang jadi malas mengeluarkan pendapatnya karena malah dikatain lebay, bukannya &#8220;ditanggepin&#8221; kritiknya. Padahal setiap pendapat yang memang bukan merujuk pada sifat pribadi seseorang di ranah media sosial, menurut saya penting.<\/span><\/p>\n<h4><b>Setiap istilah yang diawali dengan \u201csok\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jurus paling ampuh untuk memenangkan sebuah perdebatan atau ciri-ciri orang yang tidak menerima kritik adalah dengan merespons pakai kata-kata yang diawali kata \u201csok\u201d. Baik kritik sindiran atau langsung, sebaiknya ditanggapi atau mending gausah ditanggepi sekalian. Sebab orang-orang yang justru menanggapi sebuah kritik dengan menyerang sifat pribadi seseorang dengan mengatakan bahwa orang itu ngesok seperti sok pinter, sok edgy, sok keren, malah menandakan bahwa seseorang itu tidak punya argumen balasan. Kalau masih ada yang bilang gitu, saya saranin nggak usah ditanggepin, lebih baik mencelupkan kepala ke dalam comberan ketimbang mendengarkan dia ngomong.<\/span><\/p>\n<h4><b>\u201cSemuanya tergantung perspektif masing-masing\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimat yang ini sebenarnya agak lucu sih. Bukannya kalo kritik dan perdebatan itu memang saling mengadu perspektif ya? Kalau nggak mau ngadu perspektif ya nggak usah debat wqwqwq. Tapi, mungkin orang Indonesia bijak-bijak, jadi daripada bermusuhan gara-gara memberi kritik yang sebenarnya konstruktif, lebih baik berdamai saja lah. Sesuai pelajaran PPKN~<\/span><\/p>\n<h4><b>\u201cSiap, Bang Jago!\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimat ini awalnya cukup positif, dalam artian dari amatan saya, kalimat ini emang dipakai buat nyindir orang-orang yang pas debat atau menanggapi kritik malah jadi jauh keluar konteks.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, setelah beberapa kali disampaikan, kalimat ini malah jadi menyebalkan dan tidak sesuai dengan tujuan awal. Kalimat tersebut menjadi sebuah penangkal paling tokcer untuk terhindar dari kritik. Kalimat ini menjadi fatality paling final terfinal untuk mengakhiri sebuah perdebatan. Kalau di Mortal Kombat ini tuh udah kaya momen Subs Zero nge-fatality Scorpio, dingin sekaligus menghancurkan~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah kira-kira kata-kata yang menandakan bahwa emang kita sulit menerima kritik. Padahal, kritik dalam setiap persoalan adalah pilar paling penting. Bahasa adalah sebaik-baiknya media untuk menyampaikan kritik, dan oleh karena itu kata-kata dalam merespons kritik, mengkritik, dan berdebat akan selalu menjadi gambaran tentang bagaimana watak kita. Kendati demikian, banyak kritik yang memang destruktif dan terkesan mengarah ke sifat personal seseorang, tapi setidaknya kita masih memiliki tiga pilihan ketimbang menggunakan kalimat di atas: menerima dengan ikhlas, menanggapi, atau membiarkannya terbawa angin.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kemunculan-akun-polisimaba-menunjukkan-bahwa-ospek-lebih-baik-ditiadakan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kemunculan Akun @polisimaba Menunjukkan Ospek Lebih Baik Ditiadakan<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ananda-bintang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ananda Bintang<\/a>\u00a0lainnya.\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kritik adalah pilar penting untuk berbenah. Sayang, kita justru sering pakai &#8220;jurus&#8221; yang menandakan kita sulit menerima kritik.<\/p>\n","protected":false},"author":604,"featured_media":80379,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6743,102],"class_list":["post-82162","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-anti-kritik","tag-media-sosial"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82162","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/604"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=82162"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82162\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/80379"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=82162"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=82162"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=82162"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}