{"id":82016,"date":"2020-10-11T06:55:03","date_gmt":"2020-10-10T23:55:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=82016"},"modified":"2020-10-09T15:42:54","modified_gmt":"2020-10-09T08:42:54","slug":"makan-di-warteg-harusnya-menduduki-puncak-klasemen-rekomendasi-kuliner","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makan-di-warteg-harusnya-menduduki-puncak-klasemen-rekomendasi-kuliner\/","title":{"rendered":"Makan di Warteg Harusnya Menduduki Puncak Klasemen Rekomendasi Kuliner"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bicara murah meriah, warteg sudah pasti berjaya di puncak klasemen. Tak tergoyahkan meskipun bersaing dengan ampera padang dan soto ayam dorong. Saat kos dulu, saya dan teman-teman suka main \u201cmurah-murahan\u201d. Aturannya, makan di warteg yang sama, pesan sesuai keinginan, nanti siapa yang bayarnya lebih mahal \u201cdihukum\u201d jajanin gorengan. Buat anak kos yang kudu hidup hemat, camilan setelah makan itu jadi privilese yang luar biasa. Seperti makanan penutup yang menyempurnakan kenikmatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang saya suka bertanya-tanya, kenapa ya makan di warteg itu bisa nikmat banget? Padahal kalau dipikir jenis makanannya kan sama saja dengan masakan rumahan. Buat saya, masalahnya bukan di rasanya yang enak atau nggak enak. Tapi, memang warteg punya beberapa hal yang menjadi daya tarik. Berdasarkan pengalaman ngoprek warteg sana-sini, berikut hasil analisa saya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Menu kasat mata dan tak kasat mata<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain tumpukan lauk siap saji yang sukses bikin nelen ludah, di beberapa warteg juga menyediakan menu-menu yang invinsible alias tak kasat mata. Menu \u201csiluman\u201d ini biasanya berupa nasi goreng, mie goreng, mie rebus, soto ayam, sup daging, atau sekadar telur mata sapi panas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uniknya, menu ini biasanya ada kalau ditanya. Atau bisa juga dikala kebingungan mau pilih lauk apa, si ibu warteg akan dengan sigapnya menawarkan menu tak kasat mata ini ke kita. Maksud si ibu yang awalnya pengin jadi problem solver saat melihat kita kebingungan, malah jadi trouble maker di kala duit di kantong cuma ada ceban. Duh si Ibu, kan kita jadi pengin pesan semua!<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Kehadiran es teh manis<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makan di warteg itu kudu minum es teh manis. Buat saya, es teh manis di warteg punya sensasi rasa unik yang mengejutkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau rasa manisnya sinting alias maniiiiiss banget, tapi ada rasa yang khas. Kadang saking manisnya ampai harus ditambah air putih lagi setengah gelas. Di lain kesempatan, es teh manis yang saya pesan gulanya nggak larut-larut sampai nyaru apa saya lagi minum bubble-tea-wannabe ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman saya, tiap warteg punya resep es teh manis sendiri. Ada yang sudah menyiapkan teh di gentong dan tinggal tambah air putih dingin saja. Tapi, ada juga yang pakai teh celup. Justru saat mereka pakai teh celup, saya jadi dapat referensi teh untuk saya bikin di rumah. Sebab biasanya, teh celup yang mereka pakai sangat anti mainstream. Dari yang rasanya cuma pahit aja, sampai teh rasa vanila dan rasa coklat. Saya yakin, teh celup yang mereka pakai juga bukan barang mahal.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Banyak gratisan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian termasuk orang yang efisien alias itung-itungan atau pelit, makan saja di warteg! Karena di sini kalian bisa dapat banyak, tapi bayar sedikit. Wahai warteg mania yang nggak pernah nyadar akan hal ini, ketahuilah bahwa kalian termasuk orang-orang yang nggak bersyukur!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di beberapa warteg yang saya datangi, biasanya selain makanan yang telah saya pilih, saya juga mendapatkan tambahan gratisan berupa: air putih (kadang teh), kuah sayur, dan sambal. Kalau sudah kenal sama si ibu, kadang suka \u201cdiimbuhin\u201d potongan ikan tongkol yang kecampur di sambel, atau tempe potongan kecil. Keuntungan ini yang nggak bisa kalian dapatkan di resto. Pesan sambal aja bayar 5 ribu perak, minta air putih dikasih air kemasan botol pula. Gimana ngarep dikasih ikan yang nggak sengaja kecebur lautan cabe? Mimpi kali yee\u2026.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Zaman saya kuliah dulu, warteg juga jadi alat untuk menaikan gengsi di antara teman-teman. Pokoknya belum trendy kalau si ibu warteg belum kenal makanan favorit kami di sana. \u201cTelur dadar cabe dan sayur lodeh kan?\u201d atau,\u201dNasi setengah, ikan asin, sayur asem kuah banjir?\u201d Duh, kalau baru melangkah masuk terus si ibu warteg udah \u201cmenyapa\u201d dengan komposisi lauk andalan kita itu, jadi berasa jumawa (juara makan di warung, kata komik Lupus). Dagu naik, hidung kembang kempis, berasa artis. Asli!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa alasan di atas sudah cukup mengantarkan kegiatan makan di warteg sebagai puncak klasemen dari segala rekomendasi kuliner yang sering digaungkan itu. Mau senyeleneh apa pun orang-orang cari makanan, kembalinya selalu ke warteg lagi warteg lagi. Ya, namanya juga terlanjur nyaman.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JU<\/b><strong>GA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pekerjaan-yang-bukan-tanggung-jawabmu-sebaiknya-ditolak-biar-nggak-stres\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pekerjaan yang Bukan Tanggung Jawabmu Sebaiknya Ditolak biar Nggak Stres <\/a><\/strong><b>dan tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dessy-liestiyani\/\"><b>Dessy Liestiyani<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Makan di warteg sudah pasti berjaya di puncak klasemen. Tak tergoyahkan meskipun bersaing dengan ampera Padang dan soto ayam dorong.<\/p>\n","protected":false},"author":680,"featured_media":13371,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[438,3343],"class_list":["post-82016","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kuliner","tag-warteg"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82016","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/680"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=82016"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82016\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13371"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=82016"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=82016"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=82016"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}