{"id":82008,"date":"2020-10-08T06:06:38","date_gmt":"2020-10-07T23:06:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=82008"},"modified":"2020-10-07T13:37:34","modified_gmt":"2020-10-07T06:37:34","slug":"mustahil-oasis-dan-duo-gallagher-reuni-tapi-i-said-maybe","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mustahil-oasis-dan-duo-gallagher-reuni-tapi-i-said-maybe\/","title":{"rendered":"Mustahil Oasis dan Duo Gallagher Reuni, tapi &#8216;I Said Maybe&#8217;"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam konten Ngobam Gofar Hilman, Naga eks vokalis band Lyla mengungkapkan alasan dia keluar sesimpel \u201ckarena tidak ada lagi perseteruan.\u201d Sebab, perdebatan ego itulah yang melahirkan banyak karya besar. Lalu bagaimana dengan Oasis band asal Inggris yang saya yakin pembaca auto sing along jika membaca \u201cso Sally can wait.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang terjadi pada mereka justru sebaliknya, bubar karena terlalu banyak berantem. Memang benar karya besar mereka lahir di saat mereka sudah berseteru, sejak awal Oasis terbentuk dari sebuah band bernama The Rain. Tapi, perseteruan yang hingga kini belum menemui titik terang terbilang absurd, bukan karena mereka (Noel dan Liam) beda visi soal band, bukan soal konsep, cuma permasalahan kelakuan Liam dan kesabaran Noel yang habis. Eh bukan cuma ding.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Band Oasis bubar setelah Noel Gallagher tidak kuat menghadapi kelakuan konyol adiknya, Liam Gallagher yang terbilang sangat barbar dan sering meninggalkan Oasis ketika tour. Puncak perseteruan keduanya terjadi pada Agustus 2009, ketika keduanya bertengkar di backstage.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu \u201cLive Forever\u201d yang konon merupakan balasan dari \u201cI Hate Myself and I Want to Die\u201d milik Nirvana, justru jadi karma buat band mereka sendiri. Nyatanya Oasis juga mengakhiri hidupnya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, walau band ini telah mati secara resmi, tapi karya mereka abadi, begitu juga perseteruan Noel dan Liam. Hingga kini, keduanya lebih sering menyindir lewat Twitter hingga di beberapa wawancara juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Titik temu itu sebenarnya ada, ketika Liam mengakui penyesalannya pada 2017 silam serta menyatakan ingin reuni dengan Oasis. Paling anyar, ketika masa pandemi tahun ini, sekaligus untuk pertunjukan amal. Bukan pertama kalinya Liam begitu. Dari sekian bujukan sang adik, kakaknya selalu memegang pendirian untuk tidak akan reuni dengan Oasis. Kekeh banget. Noel memang sudah hampir 10 tahun untuk menyatakan dia benar-benar menyesal, bahkan ia menghilangkan ke-Oasis-an di lagu-lagunya kini, seolah mengatakan bahwa dia sudah move on.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak awal, Noel terlihat lebih gengsian ketimbang Liam. Tengok bagaimana Noel pernah menolak tampil di perhelatan Olimpiade 2012 yang dihadiri musisi legend se-Britania Raya karena nggak mau ketemu Liam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Event sebesar itu, yang bahkan Paul McCartney saja menolak untuk dibayar, ditolak begitu saja oleh Noel. Tengok juga bagaimana di beberapa wawancara soal kemungkinan reuni, dengan singkat, jelas, dan padat Noel menyatakan, \u201cNggak akan.\u201d Bagi para fans, kata-kata Noel ini mungkin lebih menyebalkan dari balasan chat yang cuma \u201cG\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau lebih banyak merengek dan menurunkan gengsi, harus diakui Liam memang lebih sering memancing keributan ketimbang Noel terutama di Twitter. Kesimpulannya, Liam lebih sering minta maaf walaupun memang kesalahan itu dia bikin sendiri, sementara Noel adalah orang yang percaya bahwa daripada minta maaf lebih baik nggak usah bikin kesalahan. Bahkan mungkin lebih buruk, sebenarnya kesempatan terakhir Liam untuk mengubah sikapnya adalah sebelum mereka bubar 2009 lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Noel tetaplah Noel dengan pendiriannya kini, sementara Liam tetaplah Liam dengan kebengalannya. Walaupun jujur saja, dari sekian banyak orang yang mengharapkan Oasis reuni, harus diakui juga sebenggal-benggalnya Liam, saya kira kini dia lebih baik. Lihat saja bagaimana dia tak lagi menggajul beberapa penonton yang memeluknya saat konser di Jakarta 2018 silam, yang bahkan membuat saya deg-degan sendiri walau via layar YouTube.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya cukup pesimis dengan kemungkinan reuni mereka. Sekalipun Liam bernafsu untuk membentuk kembali Oasis. Bahkan kalaupun mentok pada opsi tanpa Noel, ya percuma. Sebab, Oasis adalah Liam dan Noel, tak mungkin tanpa satu di antarannya. Noel sebagai otaknya, sementara Liam adalah si Bengal. Lewat Noel banyak karya tercipta, lewat Liam lagu itu tersampaikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tak mungkin menyukai Noel tanpa suara dan penampilan Liam yang membranding lagu cinta-cintaan seolah tetap manly. Tak mungkin juga menikmati kebengalan Liam tanpa karya jenius Noel. Seperti yang pernah dikatakan Noel pada Liam, &#8220;Aku yang bikin lagu, kau yang jadi Bintangnya.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, masa pandemi sekarang adalah momentum mereka kembali seperti saat menciptakan \u201cLive Forever\u201d untuk meyakinkan dunia bahwa hidup itu harus dijalani tanpa ketakutan. Ditambah, Oktober ini tepat 25 Tahun \u201c(What\u2019s The Story) Morning Glory\u201d dirilis, album yang melahirkan karya terpopuler mereka \u201cWonderwall\u201d dan \u201cDon\u2019t Look Back In Anger.\u201d Setelah channel YouTube resmi Oasis me-remastered lagu-lagu Oasis, saya juga berharap kedua Gallagher juga di-remastered. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Because maybe, you\u2019re gonna be the one that saves me.<\/span><\/i><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-klasik-yang-seharusnya-nggak-dipakai-lagi-saat-malas-mandi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Alasan Klasik yang Seharusnya Nggak Dipakai Lagi Saat Malas Mandi<\/a>\u00a0dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dicky-setyawan\/\">\u00a0Dicky Setyawan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0<i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oktober ini tepat 25 Tahun \u201c(What\u2019s The Story) Morning Glory\u201d dirilis, Liam tetap bengal dan Noel tetap keras kepala untuk tidak reuni.<\/p>\n","protected":false},"author":783,"featured_media":82128,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4356,248],"class_list":["post-82008","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-band-rock","tag-musik"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82008","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/783"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=82008"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82008\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/82128"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=82008"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=82008"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=82008"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}