{"id":81688,"date":"2020-10-09T06:43:57","date_gmt":"2020-10-08T23:43:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=81688"},"modified":"2021-08-29T22:22:50","modified_gmt":"2021-08-29T15:22:50","slug":"grup-whatsapp-adalah-tempat-debat-kusir-paling-brutal-kedua-setelah-twitter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/grup-whatsapp-adalah-tempat-debat-kusir-paling-brutal-kedua-setelah-twitter\/","title":{"rendered":"Grup WhatsApp Adalah Tempat Debat Kusir Paling Brutal Kedua Setelah Twitter"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah jamak diketahui pengguna medsos bahwa Twitter adalah medsos yang penggunanya paling barbar dalam urusan debat kusir. Tak hanya itu, banyak aku dengan isi konten yang begitu liar. Yang bahkan jika diceritakan banyak orang yang akan terperangah dan mengatakan, &#8220;kok ada yang kayak gitu sih?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu siapa pun yang memutuskan untuk menggunakan twitter harus berpikir berulang-ulang jika tidak ingin naik pitam saban hari. Yang jelas, sebusuk-busuknya masyarakat Facebook dan Instagram, tidak sebusuk masyarakat Twitter. Bahkan, sering lho masyarakat Facebook marah karena keributan yang terjadi Twitter.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di manakah di dunia maya, area yang kebrutalannya di bawah Twitter? Twitter tetap nomor satu dalam urusan debat kusir barbar, tidak bisa disaingi lagi. Facebookkah? Instagramkah? Menurut saya, bukan. Jawabannya WhatsApp, khususnya WhatsApp grup. Ya, grup WhatsApp adalah tempat kedua yang brutal dan menyebalkan setelah Twitter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum kita ulas bagaimana sisi brutal dan menyebalkannya, kita bahas dulu perbedaan umum antara kedua platform itu. Begini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Twitter banyak orang yang tidak saling mengenal satu sama lain. Sebab, jangkauannya lebih luas. Maka banyak yang ngemis &#8220;mutualan yuk&#8221; setelah bikin thread rame. Itu menandakan follow dan follback di Twitter diawali dari tidak kenal dan setelah kenal pun, mungkin tidak kenal dekat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, jika satu pihak menghujat pihak lain, debat kusir sampai jungkir balik, ya wajar karena tidak kenal-kenal amat. Bebas-bebas aja. Tidak usah pakai hati banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa dikatakan bahwa di Twitter jiwa pengecut penggunanya memang cukup mencolok. Ibaratnya, lempar batu sembunyi tangan. Sebab, banyak juga akun-akun alter dan anonim yang banyak cingcong dan hujat sana-sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fakta tersebut dijadikan kesepakatan tidak tertulis tentang \u201ccara main\u201d Twitter. Yang jelas tidak boleh baper.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Grup WhatsApp tentu saja lebih privat. Untuk bisa saling membaca status saja harus saling simpan nomor. Dan biasanya kalau tidak kenal-kenal amat sama si pemilik nomor, atau si pemilik nomor tidak penting-penting amat, tidak akan disimpan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Normalnya, jika lebih privat dan saling kenal justru lebih bisa kondusif dong. Tapi, sayangnya tidak. Sebuah grup WhatsApp itu kondusif kalau anggotanya tidak begitu saling kenal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau saling kenal, praktik debat kusir lebih mungkin terjadi. Yang dimaksud grup WhatsApp tidak kondusif bukan tentang bercanda atau broadcast tidak pentingnya. Tetapi, kesalahpahaman yang berujung pada debat kusir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, saya pernah mengalami masalah di lingkungan dusun saya dan berkaitan dengan perhubungan sosial. Logikanya, grup whatsapp warga dusun normalnya kan untuk kepentingan publik dan warga dusun. <\/span><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, jelas untuk berbagi informasi penting tentang dusun. <\/span><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, diskusi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan dusun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya meminta solusi atas masalah tersebut di grup dusun. Anehnya, saya malah digas. Ngegasnya di luar konteks masalah. Lagian saya tahu betul, si orang yang ngegas adalah tipe yang cenderung kooperatif jika ada broadcast-an tidak penting bahkan cenderung mesum.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada hal-hal penting yang urgen untuk diselesaikan, tanggapan masyarakat grup WhatsApp bukan solusi, tetapi debat kusir. Sedangkan kalau ada broadcast-an tidak penting, walau membuat banyak pihak diam karena tidak suka, malah tidak ada yang berani ngegas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal itu muncul karena beberapa hal. Banyak orang yang tidak paham apa itu grup WhatsApp. Grup whatsapp berisi orang-orang yang lebih dekat dan lebih kita kenal, ia juga sebuah tempat untuk berkomunikasi intensif. Bukan untuk broadcast informasi tidak penting dan menyampaikan guyonan klise. Beda kalau sejak awal tujuan dibuat grup memang untuk hal-hal receh semacam itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau grup whatsapp saja bisa tidak efektif, ya ngapain bikin grup. Mending ikutan debat kusir di Twitter aja deh.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sulitnya-hidup-bertangga-dengan-orang-yang-tidak-paham-adab\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Sulitnya Hidup Bertangga dengan Orang yang Tidak Paham Adab<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dani-ismantoko\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Dani Ismantoko<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Twitter adalah medsos yang penggunanya paling barbar dalam urusan debat kusir. Kini, pengguna WhatsApp juga menyusul.<\/p>\n","protected":false},"author":774,"featured_media":69461,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12906],"tags":[1480,102],"class_list":["post-81688","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-media-sosial","tag-berdebat","tag-media-sosial"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81688","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/774"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81688"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81688\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/69461"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81688"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81688"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81688"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}