{"id":81467,"date":"2020-10-09T06:59:48","date_gmt":"2020-10-08T23:59:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=81467"},"modified":"2020-10-08T20:08:37","modified_gmt":"2020-10-08T13:08:37","slug":"alat-politik-itu-bisa-apa-saja-termasuk-air-tawar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alat-politik-itu-bisa-apa-saja-termasuk-air-tawar\/","title":{"rendered":"Alat Politik itu Bisa Apa saja, Termasuk Air Tawar"},"content":{"rendered":"<p>Hal paling menjengkelkan saat masa kecil saya, selain omongan orang soal rambut keriting adalah jargon iklan \u201csumber air su dekat\u201d milik Aq*ua. Walau sebenarnya iklan itu tidak dibuat di tempat saya setidaknya ada sedikit kemiripan dengan kondisi kami di pelosok yang berjuang bertaruh nyawa untuk mendapatkan air tawar. Bukan air bersih sebagaimana persoalan yang dihadapi manusia-manusia di kota besar.<\/p>\n<p>Di desa pesisir macam desa saya ini memang keberadaan air tawar merupakan barang langka. Bahkan setelah kami melakukan pencarian di seluruh pelosok pulau yang luasnya hanya sekira 25 km<sup>2<\/sup> itu serta pencarian di berbagai gua dan lubang besar lainya di tanah, hasilnya tetap nihil.<\/p>\n<p>Satu-satunya sumber air tawar yang biasa penduduk desa kami gunakan adalah air tawar di pulau seberang. Maka, jadilah sampai generasi saya masuk sekolah dasar, mengambil air di pulau seberang adalah pekerjaan tetap setiap dua atau tiga hari sekali.<\/p>\n<p>Air di desa saya dari dulu bahkan sampai saat ini menjadi isu seksi layaknya isu PKI saat September akhir atau isu agama saat masa kampanye. Pada masa-masa kampanye seperti sekarang ini, satu calon saja bicara soal isu air , bisa jadi hal ini yang akan mengantarkan orang tersebut menuju tampuk kepemimpinan.<\/p>\n<p>Tentu saja saya tidak lebay soal ini. Saat Kabupaten Wakatobi memasuki musim pilkada perdananya pada 2005, salah satu calon rupanya mengerti \u201cderita\u201d yang kami alami ini. Bagi kami yang masih polos akan cara-cara politik, ketika ada calon bupati menawarkan kemudahan apalagi menyangkut air, kami bahkan mungkin akan sujud di kakinya.<\/p>\n<p>Untuk diketahui saja, sumber air \u201cmilik sang calon bupati\u201d yang mengalir ke dua kecamatan di tempat saya itu sebenarnya perusahaan pribadi sang calon. Jadi begini, sebelum mencalonkan diri untuk jadi bupati, blio ini mengelola sebuah gua yang ada air tawarnya. Itu ya letaknya di pulau seberang.<\/p>\n<p>Maka jadilah sang calon memanfaatkan kondisi ini untuk mendulang suara. Dengan latar belakang yang sebenarnya tidak terlalu dekat dengan masyarakat desa kami, sang calon membawa isu air sebagai senjata pamungkas.<\/p>\n<p>Dalam hitungan detik, semua masyarakat yang sudah cukup umur untuk memilih, menandatangani nota kesepakatan. Cukup sederhana kesepakatannya, \u201cseluruh warga desa harus memilih si calon tersebut jika blio bisa mengusahakan air mengalir ke desa kami. Dan memang air tersebut sampailah ke desa kami hanya berselang tiga bulan. Bahkan sebelum diadakan pemilihan umum.<\/p>\n<p>Ya transaksi politik semacam ini memang wajar sih dalam politik, katanya. Sayangnya, warga desa yang memang belum matang dalam politik ini tidak mengantisipasi apa yang kemungkinan terjadi di masa depan.<\/p>\n<p>Hal yang tidak kami duga-duga terjadi. Setelah si calon bupati berhasil naik tahta, air mengalir mulai tidak merata ke desa kami. Sebelumnya, air tawar yang mengalir ke desa kami paling tidak, menjangkau hampir ke semua wilayah dusun. Namun, setelah menjabat sekira satu tahunan, air mulai nyandet. Padahal seluruh dusun awalnya sudah dipasangi pipa bahkan sudah masuk ke rumah-rumah. Sungguh pengeluaran yang sia-sia<\/p>\n<p>Pada titik nadir, masyarakat yang terdampak \u201cpenipuan\u201d ini resah. Bagaimana tidak, harus membeli pipa dan meteran air yang harganya saat itu tidak bisa dikategorikan main-main lha kok malah tidak dialiri air. Memangnya kami Avatar, bisa mengendalikan air sampai ke dalam rumah masing-masing?<\/p>\n<p>Masyarakat desa akhirnya melakukan protes beramai-ramai. Tidak demo, tapi menulis surat untuk sang bupati secara pribadi. Walau bagaimanapun, cara yang kami lakukan harus tetap elegan.<\/p>\n<p>Tapi, ya entah karena sudah jadi \u201corang\u201d atau merasa bahwa permasalahan air yang dihadapi desa kami ini hanyalah permasalahan kecil, kami tidak pernah mendapat tanggapan itu. Sampai pada sekira 2007, seluruh jaringan pipa yang mengarah ke desa kami benar-benar sudah tidak dialiri air sama sekali. Seluruh warga desa muak.<\/p>\n<p>Pada periode selanjutnya, sang bupati mencalonkan lagi. Masih dengan format yang sama, mengiming-imingi penduduk desa kami dengan mengalirnya air tawar ke desa. Namun, dengan tambahan sedikit bonus berupa\u00a0diskon harga air bagi seluruh penduduk desa tanpa terkecuali. Bagi penduduk yang sebelumnya belum berlangganan, jika mau, mereka juga akan mendapat kemurahan itu, termasuk diskon biaya pemasangan. Kampanye yang mirip-mirip marketing ala pengelola IndiHome gitu lah.<\/p>\n<p>Kata blio sih gitu. Nyatanya gimana? Hal itu tidak pernah terjadi. Seluruh masyarakat sudah tidak percaya dengan janji kampanye blio walau memang tetap tepilih juga untuk yang kedua kalinya.<\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-masa-kecil-memburu-keberadaan-markas-pki\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pengalaman Masa Kecil: Memburu Keberadaan Markas PKI<\/a><\/b>\u00a0<b>dan tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/taufik\/\"><b>Taufik<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semua hal bisa dijadikan sebagai alat politik, termasuk air tawar. Saya adalah saksi bagaimana air jadi alat mendulang suara dalam pemilu.<\/p>\n","protected":false},"author":50,"featured_media":82364,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9103,9104,19,5324,5972],"class_list":["post-81467","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-air-tawar","tag-janji-palsu","tag-pemilu","tag-pilkada","tag-suara"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81467","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/50"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81467"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81467\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/82364"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81467"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81467"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81467"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}