{"id":81456,"date":"2020-10-05T14:28:30","date_gmt":"2020-10-05T07:28:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=81456"},"modified":"2022-01-26T12:29:33","modified_gmt":"2022-01-26T05:29:33","slug":"mata-pelajaran-bahasa-daerah-itu-lebih-sulit-daripada-bahasa-inggris","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mata-pelajaran-bahasa-daerah-itu-lebih-sulit-daripada-bahasa-inggris\/","title":{"rendered":"Mata Pelajaran Bahasa Daerah Itu Lebih Sulit daripada Bahasa Inggris"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika saya menulis tentang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-indonesia-adalah-mata-pelajaran-paling-sulit\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">betapa sulitnya mata pelajaran Bahasa Indonesia<\/a>, banyak yang berkomentar bahwa pelajaran Bahasa Daerah sebenarnya juga sama sulitnya. Saya jadi berpikir dan mengingat masa-masa sekolah dulu. Benar juga, ya. Pelajaran Bahasa Daeran itu juga sama sulitnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mapel Bahasa Indonesia sulit karena banyak yang nggak paham konteksnya, maka lain halnya di mapel Bahasa Daerah. Di sini, justru malah banyak yang nggak paham sama bahasa daerahnya sendiri, termasuk saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di daerah saya, Madura, terdapat tiga tingkatan dalam berbahasa. Pertama, engghi-bunten yang merupakan tingkatan paling tinggi, bisa dibilang bahasa paling halusnya dari bahasa Madura. Biasa digunakan dalam percakapan bersama orangtua, guru dan sesepuh. Kedua, engghi-enten yang tingkatannya di bawah engghi-bunten. Terakhir, enja\u2019-iyya yang biasanya sering saya gunakan sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, di tiap mapel Bahasa Madura, tingkatan bahasa yang dipakai selalu yang paling tinggi. Sedangkan, saya hampir nggak pernah sama sekali menggunakan bahasa tersebut. Kenal saja nggak! Paling mentok biasanya cuma pakai engghi-enten. Itu pun hanya sedikit yang saya tahu. Jadilah sejak SD hingga lulus SMA, nilai mapel Bahasa Daerah dan muatan lokal saya nggak pernah tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, mapel Bahasa Inggris jauh lebih gampang. Seenggaknya, saya bisa lihat kamus kalau nggak paham. Lah, kalau Bahasa Daerah? Saya harus nyari ke mana?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kasih alasan kenapa mapel ini buat saya adalah mapel yang paling sulit. Berikut alasannya.<\/span><\/p>\n<h4><b>Nggak pernah digunakan dalam kehidupan sehari-hari<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika pertama kali masuk kuliah, saya sempat mengalami syok mendadak saat bertemu dengan teman-teman dari Sumenep. Bahasa yang mereka gunakan, dialek dan iramanya, sungguh jauh berbeda dengan yang saya gunakan di Bangkalan. Padahal, kami sama-sama orang Madura, lho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman saya yang dari Sumenep juga sama syoknya saat mendengar percakapan saya dengan orangtua yang menggunakan bahasa enja\u2019-iyya. Menurutnya, nggak sopan menggunakan bahasa seperti itu\u2014yang seharusnya digunakan dalam percakapan bareng teman\u2014untuk mengobrol dengan orang tua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya mau gimana lagi, sejak kecil saya hampir nggak kenal sama bahasa Madura dengan tingkatan yang lain. Di daerah saya, kami sudah terbiasa bercakap-cakap menggunakan bahasa enja\u2019-iyya. Nggak pernah ada yang ngajarin tingkatan bahasa Madura lainnya. Paling mentok, hanya bilang \u201cengghi\u201d atau \u201cbunten\/enten\u201d kalau mau menyatakan ya dan tidak ke orang-orang sepuh yang nggak dikenal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, saya dan teman-teman seringkali merasa kesulitan saat menghadapi mapel Bahasa Daerah. Saking frustasinya, saya pernah mikir gini saat ujian: ini Bahasa Madura daerah mana sih? Kenapa saya sebagai orang Madura nggak kenal bahasa-bahasa dalam kertas ujian ini? Maksud pertanyaan dalam soal-soal ujiannya saja saya banyakan nggak pahamnya, saking nggak kenalnya sama kosakatanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi kalau ketemu sama Hanacaraka. Haduh, saya sudah mau nangis kalau sudah ketemu tulisan-tulisan itu. Sampai sekarang, saya masih hafal sama pengucapannya, tapi blas nggak tahu tulisannya kayak apa.<\/span><\/p>\n<h4><b>Tergeser oleh Bahasa Indonesia<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, gencarnya orang tua yang ngajarin Bahasa Indonesia ke anak-anaknya sejak dini dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari lah yang bikin posisi bahasa daerah tergeser, tersingkir dan pelan-pelan dilupakan. Alhasil, sejak kecil udah fasih berbahasa Indonesia, tapi sama sekali nggak paham bahasa daerahnya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, jangan kaget kalau banyak yang nggak paham sama pelajaran Bahasa Daerah di sekolah.<\/span><\/p>\n<h4><b>Guru yang nggak kompeten<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai hari ini, mata pelajaran Bahasa Daerah masih eksis aja di kurikulum Pendidikan Indonesia. Meskipun sebenarnya, tenaga pendidiknya benar-benar kurang memadai. Saya pernah menjumpai lowongan guru Bahasa Daerah dengan kualifikasi S1 Bahasa Indonesia. Hah? Bingung nggak tuh?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi, rata-rata guru Bahasa Daerah yang saya temui sejak SD hingga SMA bukanlah guru Bahasa Daerah yang sebenarnya. Melainkan ada yang dari jurusan Bahasa Indonesia, PKN, Sejarah, dan terkadang IPA. Lah, jangan salahin muridnya kalau mereka nggak paham. Gurunya saja kadang juga sama bingungnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah seorang Waka Kesiswaan curhat bahwa mencari guru Bahasa Daerah itu sulit, makanya mereka menerima guru-guru yang sekiranya se-linier dengan ilmu-ilmu humaniora. Hmm, sulit atau emang nggak mau usaha nyari, sih?<\/span><\/p>\n<h4><b>Dianggap nggak penting, kuno, dan ketinggalan jaman<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah dengar nggak ada les tentang Bahasa daerah? Jarang banget, kan? Di kampus saya, yang meskipun basisnya di Madura, bahkan nggak ada tuh jurusan Bahasa Madura. Kenapa bisa nggak ada? Tentu saja karena dianggap nggak penting, kuno, dan ketinggalan zaman. Tantangan untuk mengadakan jurusan Bahasa Madura usahanya juga besar banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi, banyak orangtua dan anak muda yang mikir, emang apa gunanya belajar Bahasa Madura? Sekarang, coba bayangkan kalau banyak yang punya pikiran kayak gitu, tinggal menunggu 10-20 tahun lagi untuk bahasa lokal jadi punah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, jangan heran kalau saya lebih milih ketemu mapel Bahasa Inggris. Seenggaknya, fasilitas kamusnya ada, lengkap, gurunya juga kompeten dan benar-benar lulusan Bahasa Inggris. Bahkan ada kamus elektroniknya juga. Gimana dengan Bahasa Daerah? Wassalam~<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lagu-dangdut-satu-lagu-sejuta-penyanyi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Lagu Dangdut: Satu Lagu Sejuta Penyanyi<\/strong><\/a>\u00a0<b><\/b><b>dan tulisan<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/siti-halwah\/\">\u00a0<b>Siti Halwah<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0<i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahasa Daerah itu adalah mapel yang paling sulit. Ya gimana, akses kamusnya susah, pengajarnya kadang nggak kompeten. Huh, sedih.<\/p>\n","protected":false},"author":200,"featured_media":32704,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2519,1164,361,5020,9022],"class_list":["post-81456","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-daerah","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-inggris","tag-madura","tag-tingkatan-bahasa"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81456","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/200"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81456"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81456\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/32704"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81456"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81456"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81456"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}