{"id":81455,"date":"2020-10-06T07:31:20","date_gmt":"2020-10-06T00:31:20","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=81455"},"modified":"2020-10-05T21:37:39","modified_gmt":"2020-10-05T14:37:39","slug":"jangan-iri-jadi-siswa-kelas-unggulan-itu-sebetulnya-nggak-enak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-iri-jadi-siswa-kelas-unggulan-itu-sebetulnya-nggak-enak\/","title":{"rendered":"Jangan Iri! Jadi Siswa Kelas Unggulan Itu Sebetulnya Nggak Enak!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat SMA, saya menghabiskan masa-masa itu dengan menjadi siswa kelas unggulan. Banyak teman-teman saya yang merasa iri karena saya bisa masuk dalam jajaran siswa top di sekolah. Pasalnya, di kelas ini sebagian besar siswanya adalah anak-anak dengan IQ tinggi, nilai rapor SMP menanjak, dan rata-rata berada di peringkat 1-10 semasa SMP.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, mereka yang berada di kelas unggulan juga mendapatkan keuntungan dengan diajar oleh guru-guru top pilihan kepala sekolah. Nilai KKM juga di atas rata-rata kelas-kelas lainnya. Dibebaskan untuk nggak ikut ekstrakurikuler, dan terpenting fasilitas kelasnya biasanya lebih oke daripada kelas lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, bagi saya menjadi siswa kelas unggulan nggak melulu menyenangkan, malah lebih banyak nggak enaknya. Tiga tahun masa SMA, saya nggak benar-benar punya memori menyenangkan. Otak rasanya hanya dipaksa belajar sampai mau meledak. Bahkan, di satu waktu, saya pernah berharap agar diberikan sakit agar bisa sehari saja bolos sekolah secara legal. Hehehe.<\/span><\/p>\n<h4>#1 Jam pelajaran yang banyak bikin stres dan pusing<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kelas unggulan, biasanya jam pelajaran untuk beberapa mata pelajaran akan ditambah. Seperti Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Kimia, Fisika, Biologi, dan Matematika. Jika kelas lain biasanya cuma dapat 4 jam pelajaran dalam seminggu, maka di kelas unggulan bisa 6 jam pelajaran. Membayangkan kembali masa-masa itu saja sudah membuat saya pusing.<\/span><\/p>\n<h4>#2 Jam pulang yang lebih lama dari kelas lainnya<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berhubung kelas unggulan mendapatkan banyak tambahan jam pelajaran, maka sudah dipastikan jam pulangnya agak molor. Jika kelas lainnya pulang pukul 1 siang, di kelas ini bisa pulang pukul 3. Kalau kelas lainnya hanya ada satu kali jam istirahat, khusus di kelas ini ada dua kali jam istirahat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja, dari pukul 7 pagi sampai pukul 3 sore kepala terus-menerus dijejali dengan berbagai teori dan ilmu\u2014yang saat itu saya masih belum paham apa gunanya, apa nggak stres, tuh? Saking puyengnya, saya sampai banyak yang nggak paham apa saja yang diterangkan oleh guru-guru yang silih berganti masuk ke kelas. Seringnya dalam pikiran saya hanya memikirkan satu hal: kapan jam pulang tiba, ya?<\/span><\/p>\n<h4>#3 Dimusuhi kelas lain<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pikir, saya adalah satu-satunya orang yang nggak suka dengan kelas unggulan ini meskipun saya termasuk di dalamnya. Ternyata, ada kelas-kelas lainnya yang juga nggak suka dengan kelas unggulan. Saya baru mengetahui fakta tersebut saat pembagian rapor yang sekaligus pembagian majalah sekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kolom pesan-pesan, terdapat sebuah pesan anonim yang mengatakan agar anak-anak dari kelas unggulan nggak perlu sombong, soalnya di muka bumi ini kita semua sama. Haduh, setelah membaca pesan anonim di majalah sekolah tersebut\u2014yang tentunya juga dibaca oleh seluruh siswa dari kelas 1 sampai 3 beserta para guru, saya rasanya sudah mau muntab. Emangnya siapa juga yang sombong?! Yang ada malah stres, nih.<\/span><\/p>\n<h4>#4 Nggak boleh neko-neko karena jadi contoh teladan siswa kelas lainnya<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siswa kelas unggulan itu udah kayak wajah sekolah, jadi contoh dan teladan bagi siswa dari kelas lainnya. Bangga? Nggak! Yang ada saya malah capek karena nggak bisa neko-neko kayak siswa kelas lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau nyoba pakai gelang-gelang cantik, terus main kucing-kucingan sama guru BP\/BK pas upacara, eh, malah kena tegur. Lalu, embel-embelnya, \u201cKamu itu anak kelas unggulan, harusnya jadi contoh.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hadeuh, anak kelas unggulan juga masih siswa SMA kali. Sesekali juga mau nyoba neko-neko gitu, ngerasa jadi siswa SMA yang sebenarnya, dan menikmati masa-masa putih abu-abu.<\/span><\/p>\n<h4>#5 Persaingan ketat sesama teman sekelas untuk berebut kursi<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kursi di sini bisa berarti kedudukan dan posisi aman. Di kelas unggulan biasanya menganut sistem gugur\/eliminasi. Lima peringkat terbawah akan tersingkir dan masuk ke kelas-kelas biasa lainnya. Posisi mereka akan digantikan oleh para siswa peringkat satu dari kelas-kelas non-unggulan. Kalau emang pintar sih, ya nggak akan khawatir. Lah, yang kapasitas otaknya kayak saya ini yang deg-degan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang paling saya ingat dari sistem gugur ini adalah teman-teman saya yang menahan tangis karena harus keluar dari kelas unggulan, lalu masuk ke kelas biasa. Rasanya udah kayak pecundang yang kalah di medan perang. Merasa terbuang dan harus mendapatkan tatapan kasihan oleh anak-anak dari kelas lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Celakanya, saya bahkan nggak sempat ikut berduka untuk teman-teman saya ini karena keburu deg-degan dan khawatir sepanjang sisa semester tersebut. Pasalnya, nilai saya berada di peringkat dua puluh lima. Hanya dua tingkat lebih tinggi dari peringkat lima orang anak lainnya yang harus tereliminasi dan gugur.<\/span><\/p>\n<h4>#6 Beban moral dan gengsi yang bercampur menjadi satu<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi siswa kelas unggulan itu beban moralnya tinggi banget. Terkadang, saya sering merasa bersalah hanya karena lebih banyak nggak pahamnya akan teori-teori yang diajarkan oleh para guru dengan kecepatan super itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sering juga timbul keinginan untuk menghadap ke Waka Kesiswaan, sekadar meminta dikeluarkan dari kelas unggulan agar saya bisa bernapas. Namun, rasa gengsi membuat saya bertahan. Saya juga memutuskan untuk masuk jurusan IPA hanya karena gengsi hampir seluruh teman-teman dari kelas unggulan ada di jurusan itu. Padahal, sebenarnya saya lebih suka sama Bahasa Indonesia. Hadeuh, capek banget emang di kelas unggulan ini.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dua-tipe-murid-yang-diingat-guru\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Dua Tipe Murid yang Diingat Guru<\/strong><\/a><b><\/b>\u00a0<b><\/b><b>dan tulisan<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/siti-halwah\/\">\u00a0<b>Siti Halwah<\/b><\/a><b> lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0<i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi saya menjadi siswa kelas unggulan nggak melulu menyenangkan, malah lebih banyak nggak enaknya. Jadi, kalian nggak perlu iri, deh!<\/p>\n","protected":false},"author":200,"featured_media":81721,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9028,176],"class_list":["post-81455","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kelas-unggulan","tag-siswa"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81455","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/200"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81455"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81455\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/81721"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81455"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81455"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81455"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}