{"id":81319,"date":"2020-10-09T06:16:34","date_gmt":"2020-10-08T23:16:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=81319"},"modified":"2020-10-08T15:18:56","modified_gmt":"2020-10-08T08:18:56","slug":"jurusan-sastra-rusia-dan-stereotip-komunis-yang-melekat-di-dalamnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-sastra-rusia-dan-stereotip-komunis-yang-melekat-di-dalamnya\/","title":{"rendered":"Jurusan Sastra Rusia dan Stereotip Komunis yang Melekat di Dalamnya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKamu ini berani-beraninya masuk Sastra Rusia, Rusia itu kan komunis! Dulu Mbah Kakungmu itu ikut perang lawan PKI kok kamu malah masuk Sastra Rusia?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kira-kira begitu yang disampaikan pakdhe saya ketika saya bercerita bahwa saya melanjutkan studi saya di jurusan Sastra Rusia, Universitas Padjadjaran. Dalam acara kawinan saudara sepupu Ayah saya, pakdhe saya tiba-tiba menanyakan jurusan saya di Universitas Padjadjaran. Ketika saya jawab Sastra Rusia, beliau kaget dan mengatakan hal tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beliau mencak-mencak juga bukan tanpa alasan, sebab apa yang beliau katakan itu ada benarnya. Mbah saya dulu ikut menumpas PKI di daerah Kedu, yang mana tentu saja tak akan saya bahas lebih detailnya karena saya bukan Tim Gabungan Pencari Fakta. Namun, beliau pun salah ketika menyebutkan \u201cRusia itu komunis\u201d yang seakan-akan beliau menyuruh saya untuk ujian SBMPTN lagi tahun depan karena jurusan saya menyesatkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stereotip orang terhadap jurusan Sastra Rusia memang tidak bisa dipisahkan dari Uni Soviet. Negara adidaya yang berideologi komunis yang punya sejarah yang cukup panjang dalam percaturan politik internasional. Yaaah, setidaknya cukup panjang untuk mencuci otak Pakdhe saya akan Rusia yang udah nggak komunis lagi, setidaknya sejak bubarnya Uni Soviet pada 1991.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketakutan masyarakat Indonesia terhadap komunisme tentunya tak lepas dari 2 peristiwa besar yaitu pemberontakkan PKI di Madiun pada 1948 dan G30S\/PKI pada 1965. Kala itu, akhir pemerintahan Orde Lama memang sedikit condong ke Blok Timur yang dipegang Uni Soviet dan Cina, dua negara penganut komunisme terbesar di dunia. Agaknya sejarah akan komunisme tersebut berbekas kepada para sesepuh-sesepuh kita yang sedari kecil dididik oleh Departemen Penerangan untuk menyaksikan film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pengkhianatan G30S\/PKI<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Arifin C. Noer.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Angkatan 70-an hingga 90-an awal mungkin merasakan hal tersebut. Sepengalaman ibu saya, tiap kali Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober, TVRI selalu menayangkan film tersebut. Penanaman pemahaman bahwa \u201cPKI itu komunis, komunis itu ateis\u201d agaknya juga berasal dari sini. Brainwash terselubung itulah yang membuat masyarakat di era tersebut mengamini klaim akan jahatnya komunisme di Indonesia. Nah, Pakdhe saya mungkin tidak tahu (atau menolak untuk tahu) bahwa Rusia sudah tidak lagi menerapkan komunisme. Pasca runtuhnya Uni Soviet, Rusia bertransformasi menjadi negara yang menganut ideologi liberal dan kapitalis, meskipun Rusia kala itu layak disebut \u201cposer\u201d alias mencoba agak lebih kapitalis meskipun nuansa komunisnya masih sangat terasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usaha saya menjelaskan kepada pakdhe saya bahwa Sastra Rusia tidak mempelajari apalagi mengagendakan bangkitnya komunisme juga cukup berat. Beliau berujar, \u201cKamu ini nggak ngerasa aja bahwa kamu selama kuliah disusupi paham yang bertujuan untuk merongrong NKRI!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah tuduhan yang cukup serius yang sebenarnya bisa saya tanggapi, \u201cLho, sakjane Pakdhe iki sing uwis di-brainwash karo Orba!!1!\u201d tapi tidak saya katakan karena saya takut kualat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pun akhirnya menjawab \u201cPakdhe, saya ini belajar sastra dan linguistik Rusia. Bukan belajar tentang bagaimana melakukan kudeta terhadap NKRI\u201d. Namun, jawaban tersebut sepertinya tidak memuaskan beliau karena beliau malah memasang raut muka yang seakan ingin menerkam saya. Karena situasi tatap-tatapan tanpa suara seperti di lagu Jamrud itu sangat tidak menyenangkan, saya kembali menambahkan \u201cKan Pakdhe tahu, saya dari kecil memang suka belajar bahasa\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, beliau bukannya mengiyakan, malah menimpali saya dengan \u201cKan bahasa yang bagus banyak, kenapa nggak bahasa Arab aja?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yang lulusan Madrasah selama 12 tahun dan dalam-tanda-kutip mampu berbahasa Arab dengan baik pun ingin sekali membalas dengan \u201cBAHASA YANG NGGAK BAGUS TUH GIMANA SIH PAKDHE\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, sebelum saya emosi karena harga diri jurusan kuliah saya dihina-hina oleh seseorang yang bahkan (setelah saya telusuri) tidak kuliah, ibu saya datang dan menyelamatkan saya dari mulut toksik saudara yang ternyata benar adanya. Ibu saya kemudian membahas hal lain seperti <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">bagaimana kans juara MU di tangan Ole Gunnar Solksjaer <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0kabar keluarga di kampung dan pertanyaan basa-basi template lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat kami pulang, ibu saya bilang bahwa Pakdhe\u00a0 merupakan orang yang sering membagikan berita-berita provokatif seperti propaganda anti-Cina di grup WhatsApp keluarga. Saat itu pula saya merasa kasihan terhadap pakdhe saya ini karena beliau dicuci otaknya dua kali. Satu oleh rezim Orde Baru, yang kedua oleh broadcast grup WhatsApp bapak-bapak.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mewakili-kesalnya-vanuatu-kepada-negara-saya-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mewakili Kesalnya Vanuatu kepada Negara Saya Sendiri<\/a><\/strong><\/p>\n<div>\n<div><span class=\"ctaText\">Baca Juga:<\/span>\u00a0\u00a0<span class=\"postTitle\">Ketika Prof. Mahfud MD Membual Soal Pelanggaran HAM<\/span><\/div>\n<\/div>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0<i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Stereotip orang terhadap jurusan Sastra Rusia memang tidak bisa dipisahkan dari Uni Soviet dan komunis. Pakdhe saya sempat mencak-mencak.<\/p>\n","protected":false},"author":1064,"featured_media":70266,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3636,887],"class_list":["post-81319","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-konflik-keluarga","tag-mahasiswa-sastra"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81319","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1064"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81319"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81319\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/70266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81319"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81319"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81319"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}