{"id":81295,"date":"2020-10-06T14:38:39","date_gmt":"2020-10-06T07:38:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=81295"},"modified":"2020-10-06T15:01:53","modified_gmt":"2020-10-06T08:01:53","slug":"katanya-semarang-kota-besar-tapi-kok-terminal-busnya-kayak-gitu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/katanya-semarang-kota-besar-tapi-kok-terminal-busnya-kayak-gitu\/","title":{"rendered":"Katanya Semarang Kota Besar, tapi kok Terminal Busnya kayak Gitu?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bau amis tercium di sepanjang jalur perhentian bus. Para penumpang yang baru turun, terlihat seperti segerombolan domba yang keluar dari kandangnya. Mereka menyebar ke mana-mana, melirik ke kanan dan ke kiri mencari angkutan selanjutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesekali, terlihat seorang calo mendekati salah seorang penumpang yang tampak kebingungan. Menawarkan tiket bus dengan harga yang mencekik. Tanah yang becek dan kadang tergenang banjir, menambah kesan kumuh Terminal Terboyo kota Semarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sebelah barat, terlihat sebuah bangun cukup besar berdiri di perbatasan kota Semarang. Bangun tersebut tampak rusak, sepi, dan terlihat seperti rumah hantu, hanya beberapa bus dalam kota yang keluar masuk bangun tersebut. Terminal Mangkang yang didirikan sejak 2009 itu, kini hanya menjadi bangunan kosong yang lapuk dan menyeramkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Terboyo di ujung timur dan Terminal Mangkang di sebelah barat, itulah dua terminal antar kota di Semarang. Dua Terminal yang harusnya menjadi tempat menyambut para pendatang, entah itu wisatawan atau perantauan, malah terlihat sangat miris dan menyedihkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya selalu berkeyakinan bahwa keramahan sebuah kota bisa termanifestasikan melalui kondisi terminal busnya. Saya punya alasan kuat kenapa bisa berkeyakinan seperti itu. Terminal bus adalah lokasi awal yang didatangi oleh sebagian besar para pendatang. Mereka yang merantau mencari pekerjaan, menempuh pendidikan, merintis jejak karir, hingga sekadar berlibur akan turun di terminal bus untuk memulai langkah awal dalam memulai pengalaman baru mereka di sebuah kota.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesan pertama akan muncul ketika seorang pendatang tiba di terminal bus di kota tersebut. Kelelahan selama dalam perjalanan dalam busakan sedikit hilang ketika disambut dengan keramahan sebuah terminal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keramahan sebuah terminal bisa ditinjau dari fasilitasnya. Mulai dari fasilitas ruang tunggu yang nyaman dan bersih, ruang toilet yang tidak jorok, penempatan setiap bus antar kota yang tertib dan rapi, ruang keberangkatan bersistem zonasi, bersih dari calo tiket bus, aman dari tindak kriminalitas, dan terintegrasi dengan angkutan dalam kota.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua itu akan menghadirkan kesan positif bagi pendatang saat pertama kali menginjakan kaki di sebuah kota. Para pendatang akan merasa disambut dengan ramah ketika sebuah terminal busmampu menghadirkan fasilitas-fasilitas tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, Semarang, dengan predikatnya sebagai ibu kota provinsi yang masyarakatnya memiliki tingkat mobilitas yang cukup tinggi terlihat tidak pernah menjadikan Terminal sebagai prioritas dalam menyambut para pendatang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semarang seperti mengeksklusifkan diri dengan hanya fokus pada terminal-terminal kecil dalam kota dan membiarkan para pendatangnya terbengkalai dan menjadi mangsa para calo di Terminal antar kotanya yang kumuh itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski sebenarnya Terminal Terboyo telah dialih fungsikan oleh Pemkot Kota Semarang sebagai terminal peti kemas, dan terminal busnya dipindah ke Terminal Penggarong, tapi ketidakjelasan kebijakan dari pihak Pemkot terutama Dishub membuat Terminal Penggarong seperti anak baru yang dikucilkan oleh teman-temannya. Bus-bus yang datang dari luar kota tetap memilih Terminal Terboyo sebagai lokasi ngetem untuk mencari penumpang. Sementara Terminal Penggarong terlihat sepi dengan bangkai-bangkai bus yang memenuhi pekarangannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai kota besar yang menjadi ibu kota provinsi, Semarang harusnya malu dengan kota-kota lainnya di Jawa Tengah. Malu dengan Bawen yang mampu menghadirkan Terminal Bawen yang elegan, malu terhadap Kota Solo dengan terminal Tirtonadinya yang didapuk sebagai terminal terbaik dan terlengkap se-Indonesia, malu dengan Terminal Bulupitonya Purwokerto yang begitu tertib.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlebih ketika Surabaya dengan Terminal Purbayanya mampu berbenah dan kini menjadi terminal yang begitu mewah, Semarang masih begitu nyaman dengan kekumuhan dan kejorokan yang diperlihatkan melalui terminal-terminalnya. Begitu tega menyambut para pendatangnya dengan suasana terminal yang bus-busnya tak beraturan di pinggir jalan, calo yang mengancam dompet para pendatang yang terlihat polos, dan pemandangan banjir yang selalu menghantui ketika musim penghujan tiba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota Semarang adalah destinasi yang sering didatangi oleh orang dari luar daerah. Mereka yang bekerja, membawa harapan positif ketika tiba di Semarang, mereka yang menempuh pendidikan membawa cita-cita yang ingin diwujudkan, mereka yang ingin berlibur membawa tekanan hidup yang ingin dihilangkan. Semua itu harusnya disambut dengan fasilitas dan kejelasan dari terminal-terminal bus yang menyambut mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Semarang tetap nyaman dengan terminal-terminalnya sekarang, jangan salah apabila di benak para pendatang, Semarang adalah kota yang tidak ramah karena menyambut tamunya dengan terminal yang terlihat seperti sebuah tambak ikan. Berbau amis, banjir, dan kumuh.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sumber gambar: Akun Twitter<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/twitter.com\/detikcom\/status\/954315204627644416?s=20\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">@detikcom<\/span><\/i><\/a><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yang-suka-mengeluh-one-piece-sering-break-adalah-pembaca-nggak-tahu-diri\/\"> <b>Yang Suka Mengeluh One Piece Sering Break Adalah Pembaca Nggak Tahu Diri!<\/b><\/a><b> dan tulisan<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhamad-iqbal-haqiqi\/\"> <b>Muhammad Iqbal Haqiqi<\/b><\/a><b> lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">di sini.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika Semarang tetap nyaman dengan terminalnya sekarang, jangan salah apabila di benak para pendatang, Semarang adalah kota yang tidak ramah.<\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":81862,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[115,4652,405,9048,9049],"class_list":["post-81295","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-jogja","tag-semarang","tag-surabaya","tag-terminal-bis","tag-terminal-terboyo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81295","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81295"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81295\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/81862"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81295"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81295"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81295"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}