{"id":81217,"date":"2020-10-08T06:31:08","date_gmt":"2020-10-07T23:31:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=81217"},"modified":"2020-10-07T15:19:51","modified_gmt":"2020-10-07T08:19:51","slug":"penting-tapi-kadang-dilupakan-kursi-tunggu-di-tempat-belanja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/penting-tapi-kadang-dilupakan-kursi-tunggu-di-tempat-belanja\/","title":{"rendered":"Penting tapi Kadang Dilupakan: Kursi Tunggu di Tempat Belanja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya termasuk anak lanang yang manut sama pesan ibu. Setelah menikah, ibu berpesan pada saya untuk belikan pakaian istri tiap bulan. Kebanyakan perempuan memang senang dengan fashion. Demi sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, saya turuti pesan ibu sekalian menyenangkan istri. Setiap bulan, saya pasti turuti istri. Mau ditemani belanja, ke mana pun dia inginkan, gas aja. Momen inilah yang bikin sadar pentingnya kursi tunggu di tempat belanja. Begini, saya ceritakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali dua kali memang, okelah bisa ngintil istri muter-muter toko. Tapi saya baru sadari ternyata kaum hawa itu punya daya tahan luar biasa kalau sudah berada di toko. Meski di rumah sambat capek lah, pegel lah, males lah. Tapi, kalau sudah di toko, hyuh, ibarat baterai Alkaline yang tahan lama. Tentu ini berbanding terbalik dengan saya. Bagi saya, kalau mau ke toko pakaian ya seperlunya saja beli apa. Begitu yang dicari sudah didapat, ya sudah langsung ke kasir dan pulang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bikin males lagi tuh. Kalau dimintai pertimbangan, &#8220;Mas, mending warna ijo atau merah ya?&#8221; Saya jawab serius awalnya, &#8220;Kayaknya ijo lebih pantes, dik.&#8221; Eh dia jawab lagi, &#8220;Masa iya sih? Kayaknya merah lebih sesuai.&#8221; Ya jadinya saya iyakan saja, tapi nanti dia bilang saya nggak jelas kasih jawabannya. Yah, terserahlah. Tak lama kemudian, ternyata yang dibawa kasir justru warna kuning. Hyuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya tiap kali diajak belanja, saya hanya gugurkan pesan ibu hanya sekadar antarkan istri saya ke toko. Sampai sana saya sebisa mungkin cari tempat duduk. Sambil buka google atau medsos. Awalnya nggak banyak tuh toko yang sediakan kursi tunggu, padahal ini penting banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seiring berjalannya waktu saya bersyukur. Semakin banyak toko yang menyediakan tempat duduk. Dan ternyata, nggak cuma saya. Banyak &#8220;driver&#8221; lain yang juga duduk menanti sang ratu berbelanja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini merupakan bentuk penyerapan aspirasi yang sangat tepat sekali oleh para pemilik toko. Ternyata banyak kaum adam merasakan siksaan yang sama seperti saya. Bosan lah, males lah. Bahkan sekelas Aa Gym pun pernah curhat di salah satu kajiannya bahwa dia pernah diminta istrinya duduk di kursi tunggu depan sebuah toko hanya sebagai penanda bahwa istrinya akan balik lagi ke toko itu setelah bandingkan harga di toko lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, gimana lagi. Beginilah salah satu bukti pengorbanan cinta para lelaki selain dengan pasrah menggendong tas mini cantik milik wanitanya meski badannya kekar macho. Jadi kalau lihat ada cowok cangklong tas cewek, jangan buru-buru dicap melambai. Lihatlah, bersamanya ada si pemilik tas itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa para wanita harus bersyukur dengan pengorbanan yang luar biasa dari para lelaki ini. Mungkin penderitaan yang dialami para lelaki nggak separah berdiri di atas bara api. Kita bosen aja kayak nungguin bis kota habis pulang kerja. Lelah iya, lapar mungkin, bosan bisa jadi, tapi mau nggak mau ya hanya bisa menanti bis kota entah kapan datangnya. Untuk itulah peran kursi tunggu di toko-toko baju sangat krusial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi pemilik toko, keberadaan kursi tunggu untuk para lelaki ini bisa dikatakan sama pentingnya dengan keberadaan tempat parkir. Bayangkan toko tanpa tempat parkir pasti jadi sepi pembeli. Nah, dengan menyediakan kursi tunggu, para lelaki akan turut merekomendasikan toko tersebut kepada pasangannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Simpel saja. Kursinya tidak perlu ada tambahan meja, air minum, atau mungkin ruang merokok. Cukup kursi tunggu saja yang panjang, bisa di dalam atau di luar toko. Kalau kasih wi-fi mungkin bisa lebih nyaman sih. Semoga dengan ini, curahan hati suami yang kayak FTV ini bisa menjadi semacam SOP bahwa semua toko yang menjual kebutuhan wanita memiliki kursi tunggu untuk para lelaki. Sebab kami nggak keberatan mengantar pasangan untuk belanja, namanya juga sayang. Kami hanya butuh sandaran saja saat menunggu.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cara-menentukan-bayi-kita-kelak-laki-laki-atau-perempuan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Cara Menentukan Bayi Kita Kelak Laki-laki atau Perempuan<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/alqaan-maqbullah-ilmi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Alqaan Maqbullah Ilmi<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keberadaan kursi tunggu untuk para lelaki saat menemani belanja ini bisa dikatakan sama pentingnya dengan keberadaan tempat parkir.<\/p>\n","protected":false},"author":1040,"featured_media":3008,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4503,268],"class_list":["post-81217","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-belanja","tag-tips-belanja"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81217","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1040"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81217"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81217\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3008"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81217"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81217"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81217"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}