{"id":80857,"date":"2020-10-02T06:24:15","date_gmt":"2020-10-01T23:24:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=80857"},"modified":"2020-10-01T16:26:29","modified_gmt":"2020-10-01T09:26:29","slug":"borok-pemuka-agama-lain-tidak-perlu-dicari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/borok-pemuka-agama-lain-tidak-perlu-dicari\/","title":{"rendered":"Borok Pemuka Agama Lain Tidak Perlu Dicari"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Isu SARA memang tidak pernah habis diperdebatkan. Di luar perkara teologi, mencari-cari borok agama lain sering dianggap sebagai \u201cmembela\u201d agama sendiri. Banyak orang berusaha melindungi kemurnian agamanya dengan membahas aib agama lain. Terutama jika ada pemuka agama yang dianut terlibat kasus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, membongkar borok pemuka agama lain tidak lantas membuat pemuka agama yang dianut bersih. Menurut saya, perilaku ini hanyalah bentuk argumentum ad hominem yang kekanakan. Selain itu, membongkar borok pemuka agama lain hanya membiaskan pandangan kebejatan yang dilakukan pemuka agamanya sendiri. Dan menurut saya, cara pikir yang demikian sangat berbahaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman pribadi perihal \u201cbersaing mencari borok\u201d ini terjadi di dalam keluarga. Kebetulan, keluarga saya adalah penganut agama Nasrani yang kaku. Ketika<\/span><a href=\"https:\/\/tirto.id\/korban-pelecehan-seksual-bersuara-gereja-katolik-mengkhianati-saya-fXAZ\"> <span style=\"font-weight: 400;\">kasus pelecehan seksual oleh seorang pastor paroki di Tomang<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> menyeruak, beberapa anggota keluarga saya tidak percaya bahkan berkonspirasi tentang framing untuk menjelekkan agama. Duh, untung keluarga sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika penyintas pelecehan berani bersuara, imajinasi konspiratif tadi gugur sudah. Saya pikir keluarga saya bisa menerima kenyataan dan berpikir jernih. Yang terjadi malah makin menyebalkan. Mereka membangun narasi bahwa yang dilakukan pastor tadi masih mending daripada<\/span><a href=\"https:\/\/www.google.com\/amp\/s\/amp.tirto.id\/duduk-perkara-skandal-kasus-kekerasan-seksual-di-pesantren-jombang-exjo\"> <span style=\"font-weight: 400;\">pelecehan seksual yang terjadi di sebuah pesantren<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Sontak saya tekankan bahwa tidak ada pelecehan yang lebih mending dari pelecehan yang lain. Sekali lagi, untung keluarga sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain dari internal keluarga, memburu borok agama lain juga saya temukan di berbagai tongkrongan. Yang paling saya ingat adalah bahasan tentang kisruh izin pendirian<\/span><a href=\"https:\/\/osf.io\/bt7sq\"> <span style=\"font-weight: 400;\">rumah ibadah Buddha di Tangerang<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Salah satu pengunjung yang duduk di seberang saya berargumen bahwa pelarangan itu belum seberapa. Dia malah membandingkan dengan tragedi Rohingya. Untung, saya tidak kenal dia. Jika kenal, saya tidak hanya sekedar tertawa mengejek sampai dia dengar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Anda sering kepo isi kolom komentar media sosial, kasus berburu borok agama lain lebih subur dan menyebalkan. Setiap ada kasus yang melibatkan pemuka agama, selalu saja ada komentator yang membahas borok agama lain. sudah terlihat tujuannya: agar agamanya tidak nampak kotor di depan agama lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, melindungi borok pengikut agama sendiri adalah perbuatan yang tidak sehat. Apa gunanya melindungi sebuah kasus demi menjaga \u201ckesucian\u201d agama yang dianut? Jika pemuka agamanya memang brengsek, ya dia brengsek sebagai manusia. Untuk apa melindungi borok si pemuka agama atau oknum tertentu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melindungi borok ini hanya seperti menaburi bangkai dengan bunga. Busuknya bangkai tidak akan hilang. Kasus yang melibatkan pemuka agama yang ditutup-tutupi tidak akan memberi solusi apa pun selain perasaan \u201ctak berdosa\u201d. Dan ini memunculkan bias yang berujung pada pemakluman bagi pemuka agama yang bermasalah baik pelecehan seksual, korupsi, bahkan penghilangan nyawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa bahayanya jika pemakluman pada pemuka agama tetap berlangsung? Saya khawatir agama akan dimanfaatkan sebagai perlindungan dalam melakukan tindak kejahatan pada kemanusiaan. Jika sudah seperti ini, mau ke mana lagi manusia menaruh harapan untuk mencapai kehidupan yang tenteram dan bermartabat? Berpasrah pada kerang ajaib?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Institusi agama bukanlah produk yang \u201cselalu suci\u201d. Institusi ini berisi banyak manusia yang tidak selamanya bersih. Melindungi orang brengsek dalam agama apa pun hanyalah memelihara kebrengsekan mereka. Seperti memelihara kanker dalam tubuh. Dari luar terlihat sehat, namun dari dalam menggerogoti diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan tetap melindungi mereka, sama saja melindungi monster yang kelak bisa makin parah lagi perilakunya. Seperti membela pelaku pelecehan seksual. Jika sang pastur tetap dilindungi dengan alasan menjaga kesucian ini, mau berapa banyak manusia yang dikorbankan untuk memuaskan nafsu bejatnya. Begitu pula dengan pelecehan yang dilakukan pemimpin ponpes dan pemuka agama lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang terakhir, mencari borok pemuka agama lain tidak akan membuat pemuka agamamu terlihat lebih bersih. Jika ada cacat pada pemuka agama yang anda anut, ya akui saja. Tuntut pelaku untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Jangan malah dilindungi dengan mencari-cari kasus pemuka agama lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayang sekali, perilaku ad hominem ini masih subur dan dianggap wajar. Membahas dan membandingkan borok pemuka agama lain dipandang sebagai aksi bela agama. Menurut saya jika perilaku kekanakan seperti tetap dijaga, malah kasus kejahatan yang melibatkan pemuka agama akan makin subur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejatinya, siapa yang perlu berlindung pada agama? Manusia yang merindukan ilahinya, atau bajingan tengik yang mencari pembenaran dari kejahatan yang dilakukan?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/barista-hari-ini-gaya-terdepan-standar-operasi-belakangan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Barista Hari Ini: Gaya Terdepan, SOP Belakangan<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dimas-prabu-yudianto\/\">Prabu Yudianto<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Isu SARA memang tidak pernah habis diperdebatkan. Di luar perkara teologi, mencari-cari borok agama lain sering dianggap sebagai \u201cmembela\u201d agama sendiri. Banyak orang berusaha melindungi kemurnian agamanya dengan membahas aib agama lain. Terutama jika ada pemuka agama yang dianut terlibat kasus. Padahal, membongkar borok pemuka agama lain tidak lantas membuat pemuka agama yang dianut bersih. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":80912,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[78,39,8997,8996],"class_list":["post-80857","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-agama","tag-kejahatan","tag-oknum","tag-pelaku"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80857","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=80857"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80857\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/80912"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=80857"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=80857"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=80857"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}