{"id":80620,"date":"2020-10-02T05:23:08","date_gmt":"2020-10-01T22:23:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=80620"},"modified":"2020-10-01T14:51:11","modified_gmt":"2020-10-01T07:51:11","slug":"pembelaan-atas-stigma-orang-tua-yang-menyekolahkan-anaknya-di-pondok-pesantren","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pembelaan-atas-stigma-orang-tua-yang-menyekolahkan-anaknya-di-pondok-pesantren\/","title":{"rendered":"Pembelaan Atas Stigma Orang Tua yang Menyekolahkan Anaknya di Pondok Pesantren"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap orang tua pasti menginginkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Begitu pun dengan pertimbangan untuk menyekolahkan anaknya di pondok pesantren atau tidak. Berbagai stigma yang dilekatkan kepada anak-anak yang disekolahkan di pondok pesantren mengakibatkan orang tua jadi berpikir-pikir lagi alias ragu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang pernah mondok selama enam tahun, rentetan pertanyaan miring soal kredibilitas pondok pesantren sebagai penjamin mutu pendidikan sering saya terima dari lingkungan pertemanan bahkan lingkungan keluarga sekalipun. Saya dulu mondok memang atas dasar kemauan orang tua, tetapi saya juga bahagia menjalaninya dengan catatan: asal uang bulanannya banyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pondok pesantren tentu bukan pilihan satu-satunya yang terbaik bagi orang tua untuk mendidik anak-anaknya, mengingat setiap orang tua dapat memaknai proses pendidikan sesuai nilai-nilai kehidupan yang mereka junjung selama ini. Faktor lingkungan dan background pendidikan orang tua juga sangat berpengaruh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang tua yang menyekolahkan anaknya ke pesantren kadang dianggap malas mendidik dan merasa sudah tidak sanggup mendidik sendiri. Akhirnya diserahkan kepada pesantren begitu saja. Sebenarnya anggapan ini tidak dapat dibenarkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian orang tua juga boleh tidak setuju. Anak yang masih berusia 12-17 tahun dan disekolahkan di pesantren masih perlu didampingi langsung oleh orang tua. Tujuannya untuk menumbuhkan karakter dan nilai-nilai dalam keluarga yang seharusnya asih jadi identitas sang anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita tidak bisa menghakimi apa yang menjadi keputusan orang lain hanya karena anggapan kebenaran versi kita sendiri. Saya curiga dengan mental orang Indonesia, jangan-jangan mentalnya rivalitas. Apa saja bisa dianggap kompetisi termasuk pilihan tempat untuk mendidik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut beberapa cecaran penghakiman yang biasanya dialamatkan kepada orang tua yang menyekolahkan anaknya di pesantren.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama,<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> ngapain anaknya disuruh mondok, mau jadi apa nanti? Kan kerjaannya cuma ngaji doang. Sebagai orang tua, justru kita tidak boleh menuntut anak untuk \u201cjadi apa\u201d. Seperti nasihat lama dari Ali Bin Abi Thalib, \u201cJangan paksa anakmu untuk menjadi seperti dirimu, karena mereka tidak terlahir di zamanmu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tenang, Bun, di pondok pesantren itu kegiatannya tidak hanya mengaji. Kalau hanya mengaji itu bukan mondok namanya, melainkan tahlilan sebagaimana yang biasa dilakukan warga Nahdliyin. Perlu diketahui bahwasannya pondok pesantren tak ubahnya sekolah seperti sekolah pada umumnya, hanya porsi pelajaran agama Islamnya memang lebih banyak daripada di sekolah umum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menyekolahkan anak baik di pesantren atau bukan tujuannya untuk menuntut ilmu, bukan untuk mencari pekerjaan atau menuntut anak untuk memiliki profesi tertentu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lha dipikir pondok pesantren iki \u201cJob Fair\u201d po piye to?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Urusan anak bekerja sebagai apa itu bonus dari disiplin ilmu yang mereka tekuni. Apabila tujuan orang tua menjadikan anaknya hafiz atau hafizah ya memang harus di pondok pesantren, bukan sekolah umum karena porsi belajar Al-Qur&#8217;annya berbeda.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua,<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> kok tega nggak kasian apa, masih kecil kok anaknya sudah disekolahin di pondok?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anggapan ini sering ditemui di tengah masyarakat. Seolah-olah orang tua menjauhkan anak dari kasih sayang keluarga. Justru ketika seseorang sedang berjauhan dengan seseorang yang ia sayang, bukankah keberadaanya semakin bermakna? Harapan-harapan orang tua kepada anak juga semakin besar. Dari sini antara orang tua dan anak sebetulnya juga sedang belajar keikhlasan. Ikhlas berpisah dengan bagian dari hidup kita demi tujuan mulia.<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">dan yang terakhir adalah, percuma kalau rajin ngaji dan salatnya cuma pas di pesantren aja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tujuan pondok pesantren adalah mendidik dan mencetak. Dalam mendidik, sesuatu yang belum baik bisa menjadi baik, yang awalnya tidak tahu menjadi tahu begitupun dalam mencetak, tidak menjamin semua hasilnya akan sama persis sesuai adonan atau komposisi yang sudah disediakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hal ini peran orang tua sangat dibutuhkan ketika anak-anak sedang berada di rumah sebagai bentuk sinergitas dengan pihak pesantren. Ada tugas orang tua untuk mengajarkan istiqamah, yaitu tetap memantau kebiasaan-kebiasaan yang sudah anak dapatkan ketika di pesantren sehingga kesadaran anak bisa terbentuk melalui pembiasaan, bukan karena keterpaksaan. Bukankah nanti yang dimintai pertanggungjawaban atas pendidikan anak tetaplah orang tua? Bukan pimpinan pondok pesantren apalagi pengurus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa pun keputusan orang tua untuk menyekolahkan anak adalah baik, tidak perlu sebagai tetangga apalagi keluarga memberikan cercaan pertanyaan miring. Untuk bisa betah dan nyaman di pesantren, baik anak-anak dan orang tua akan melewati fase yang tidak gampang.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/urban-farming-itu-tidak-hanya-siram-lalu-nunggu-panen-seperti-di-shopee\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Urban Farming itu Tidak Hanya Siram Lalu Nunggu Panen seperti di Shopee<\/a><\/strong>\u00a0<strong>atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/hypatia-sabti-abdullah\/\">Hypatia Sabti Abdullah<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang tua yang menyekolahkan anaknya ke pesantren kadang dianggap malas mendidik dan merasa sudah tidak sanggup mendidik sendiri.<\/p>\n","protected":false},"author":779,"featured_media":1881,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[954,505],"class_list":["post-80620","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-parenting","tag-pondok-pesantren"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80620","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/779"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=80620"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80620\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1881"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=80620"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=80620"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=80620"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}