{"id":80521,"date":"2020-09-30T12:23:07","date_gmt":"2020-09-30T05:23:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=80521"},"modified":"2020-10-01T14:03:40","modified_gmt":"2020-10-01T07:03:40","slug":"pengalaman-masa-kecil-memburu-keberadaan-markas-pki","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-masa-kecil-memburu-keberadaan-markas-pki\/","title":{"rendered":"Pengalaman Masa Kecil: Memburu Keberadaan Markas PKI"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak memasuki usia sekolah, seperti halnya anak sekolah lainnya, kami diwajibkan untuk menonton film <em>Penumpasan<\/em> <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pengkhianatan G 30 S PKI<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Imbauan ini bukan dari orang tua atau warga kampung, tapi dari guru di sekolah. Memang guru-guru saya ini dulu sangat tahu begitu pentingnya pelajaran sejarah PKI bagi generasi kami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkat cerita, jadilah pada setiap malam tanggal 30 September, saya dan teman-teman sekolah rela menahan kantuk hanya untuk menyaksikan film yang bercerita tentang malam biadab pembantaian para Jenderal itu. Biasanya memang tidak sampai di adegan akhir saat para Jenderal diangkat dari lubang buaya karena memang kami tidak selalu bisa begadang sampai di adegan itu. Ngantukin juga sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah dua atau tiga kali saya menyaksikan film <em>Penumpasan<\/em> <i>Pengkhianatan G 30 S PKI <\/i><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">itu, mulai tebersit rasa takut dan kesal. Takut karena beberapa adegan yang saya lihat sangat sadis bahkan mengalahkan film-film laga macam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tutur Tinular<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jaka Sembung<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang adegannya kadang sampai usus terburai. Belum lagi scoring-nya yang lebih mirip film horor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kekesalan tentu saja berangkat dari kebencian yang mengakar berkat pelajaran sejarah di sekolah yang menggambarkan anggota PKI sebagai pihak amoral. Belum lagi adegan-adegan sadistik yang ditampilkan melalui film <em>Penumpasan<\/em> <i>Pengkhianatan G 30 S PKI<\/i><\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Ini seperti memberikan legacy kepada saya dan beberapa teman untuk tidak hanya membenci PKI tapi juga memburu mereka secara terang-terangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah masuk kelas 4 SD, saya mulai punya pemikiran baru mengenai bagaimana memburu PKI yang setiap akhir September isunya diembuskan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk anak seusia saya waktu itu, membongkar fakta dan kebenaran mengenai keberadaan para loyalis dan simpatisan PKI adalah bentuk sikap pahlawan. Terbentuknya narasi \u201cPKI musuh negara\u201d membuat kami, anak-anak SD, merasa perlu melakukan sesuatu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya dan dua teman, ketika masuk pertengahan September, kami mulai mencari informasi keberadaan hantu komunis. Tentu saja tidak di perpustakaan sekolah karena semua buku di sana menceritakan keberadaan PKI itu di daerah Lubang Buaya, Jakarta. Tidak pula di kantor sekolahan dan ruang guru, karena ternyata walaupun mereka yang hampir tiap hari (setiap masuk September) bercerita layaknya mereka lihat langsung atau mengalami, nyatanya mereka juga nggak tahu menahu. Juga tidak di masjid-masjid atau tempat pengajian. Sebab, tentu sangat jelas, PKI tidak punya agama pasti mereka ya tidak akan sholat apalagi mengaji.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami tahu bahwa isu PKI selalu berembus saat ada kumpul bapak-bapak di Gazebo Dermaga atau saat ada acara main gaple. Maka jadilah kami selalu ke lokasi-lokasi itu. Mendengarkan secara seksama apa yang mereka ceritakan apalagi jika ada kabar soal hantu komunis. Walau kadang juga mereka cerita ya soal film \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bota-bota<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d yang menurut pengetahuan saya justru film bokep. Lha kok nyari info soal PKI malah tersesat sejauh ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kabar mengenai hantu komunis itu akhirnya kami dapatkan. Katanya, ada dua tempat yang dijadikan persembunyian. Satu di pantai yang letaknya di pulau seberang, satu lagi di tebing dekat laut yang jaraknya sekitar setengah perjalanan ke arah barat desa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Info paling penting dan krusialnya lagi, para anggota partai terlarang ini melakukan kegiatannya di malam hari. Melakukan pembunuhan, perampokan dan segala macam kejahatan lainnya di malam hari. Siangnya? Menurut info \u201cvalid\u201d itu, siang hari digunakan anggota PKI untuk \u201cmantap-mantap\u201d a.k.a. melakukan hubungan intim ramai-ramai. Sungguh sangat biadab, info itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demi memenuhi hasrat ingin tahu mengenai keberadaan para anggota PKI, jadilah saya dan teman saya yang awalnya cuma dua bertambah jadi tujuh. Filosofinya adalah kami bertujuh ibarat tujuh Jenderal yang menjadi martir dalam kejadian malam berdarah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 29 September malam, kami berangkat ke daerah tebing di sebelah barat desa. Mengendap-endap tentu saja, agar tidak ketahuan para antek komunis. Setelah agak dekat dengan lokasi yang dideskripsikan oleh si empunya cerita, kami memelankan langkah. Beberapa saat saja kami sudah sampai. Dannn, tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada anggota PKI, tidak ada Gerwani, tidak ada yang nyanyi-nyanyi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami masih menyimpan rasa penasaran. Setengah berbisik, teman saya memberi kode agar kami menunggu. Menurut teman yang akhirnya kami tahu ternyata juga sok tahu ini, antek komunis masih di perjalanan pulang dari merampok dan membunuh. Maka kami pun menunggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah agak lama menunggu, mungkin satu jam, tahulah kami bahwa dua orang teman kami mulai ada yang ngantuk bahkan tertidur. Padahal, para anggota PKI juga tidak tampak batang hidungnya dan memang tidak pernah ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suasana semakin tidak kondusif karena malam semakin larut dan teman lain yang bisa merasakan \u201ckehadiran\u201d makhluk halus mulai terlihat risih. Dalam hitungan satu-dua-tiga, kami berlari pulang ke arah desa. Sedangkan teman yang tertidur kami biarkan. Sampai sekitar jam 11 malam seluruh warga desa geger mencari dua orang teman kami tadi yang disangkanya sudah diculik anggota PKI.<\/span><\/p>\n<p><em>Photo by <a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/@belart84\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Artem Beliaikin<\/a> via <a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/photo\/activity-asian-people-boys-children-1153976\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pexels.com<\/a><\/em><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-warung-kelontong-di-desa-sulit-berkembang-lalu-gulung-tikar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">4 Alasan Warung Kelontong di Desa Sulit Berkembang lalu Gulung Tikar<\/a><\/b>\u00a0<b>dan tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/taufik\/\"><b>Taufik<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kami tahu bahwa isu PKI selalu berembus saat ada kumpul bapak-bapak di Gazebo Dermaga atau saat acara main gaple. Kami pun terus memburu.<\/p>\n","protected":false},"author":50,"featured_media":80600,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6,8],"tags":[2131,4011],"class_list":["post-80521","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-featured","tag-komunis","tag-pki"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80521","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/50"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=80521"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80521\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/80600"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=80521"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=80521"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=80521"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}