{"id":80360,"date":"2020-09-29T14:26:45","date_gmt":"2020-09-29T07:26:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=80360"},"modified":"2023-08-22T12:34:51","modified_gmt":"2023-08-22T05:34:51","slug":"menguak-kebenaran-sosok-sabda-palon-dan-naya-genggong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menguak-kebenaran-sosok-sabda-palon-dan-naya-genggong\/","title":{"rendered":"Menguak Kebenaran Sosok Sabda Palon dan Naya Genggong"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain Prabu Jayabaya dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Serat Jangka Jayabaya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">-nya, masyarakat kita juga mengenal nama lain yang turut memberi ramalan tentang hari depan tanah Jawa, yaitu Sabda Palon dan Naya Genggong. Dua sosok misterius yang sering kali disangkut-pautkan dengan fenomena letusan Merapi ataupun gunung-gunung lain di Indonesia. Fenomena alam yang dalam frasa masyarakat Jawa dikenal dengan, \u201cSabda Palon nagih janji.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, secara proporsional\u2014sejauh yang saya amati\u2014nama Sabda Palon dan Naya Genggong dari dulu jauh lebih santer diperbincangkan ketimbang Prabu Jayabaya. Kok bisa begitu? Alasannya jelas, Prabu Jayabaya adalah raja Kediri yang riwayat hidupnya bisa ditelusuri secara pasti. Banyak rekam jejak atau napak tilas yang mengonfirmasi keberadaan beliau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, kalau Sabda Palon dan Naya Genggong, keduanya bener-bener masih abu-abu dan misterius, Kebenaran tentang ada atau nggaknya pun masih simpang siur. Sebagian orang bahkan menganggapnya hanya sebagai mitos belaka, nggak bener-bener ada. Ada juga yang menyebut bahwa keduanya adalah sosok gaib sebagai pamomong bumi Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara yang meyakini kebenaran adanya dua sosok tersebut, asumsinya nggak jauh-jauh dari sumber-sumber yang menyebut bahwa dua sosok ini merupakan punakawan atau penasehat spiritual dari Prabu Kerthabhumi (Brawijaya V), penguasa terakhir Majapahit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu sumber yang mengonfirmasi kebenarannya adalah Serat Sabda Palon yang memuat perbincangan terakhir antara kedua sosok tersebut dengan sang prabu mengenai masa depan bumi Jawa, untuk kemudian pergi meninggalkan tanah Jawa. Ada juga yang bilang keduanya menuju Jawa bagian selatan (antara moksa di Gunung Merapi atau Gunung Tidar).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang termuat dalam Serat Sabda Palon pupuh pat dan nem tentang menuju ke selatan Jawa, dan pupuh 16 (terakhir) tentang moksanya berbunyi, \u201cSabda Palon nula mukswa\/Sakedhap boten kaeksi\/Wangsul ing jaman limunan (Kemudian Sabda Palon menghilang\/Sekejap mata sudah tak terlihat\/Kembali ke alam misteri).\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peristiwa tersebut dalam candra sengkala (hitungan kalender Jawa) dikenal dengan sebutan sirna ilang kerthaning bhumi (Sirna: 0, Ilang: 0, Kertha: 4, Bhumi: 1 = 1400 Saka\/1478 Masehi). Pemilihan nama kerthaning dan bhumi ini disinyalir diambil dari nama sang prabu sendiri. Tanda ini turut menguatkan kabar bahwa kedua sosok tersebut merupakan punakawan dari Prabu Kerthabhumi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan selanjutnya, kalau toh memang ada, siapakah sebenarnya kedua sosok tersebut? Apakah sosok nyata atau justru merupakan sosok gaib? Lalu, apa hubungan antara kedua sosok tersebut dengan sosok Dhang Hyang Semar Badranaya (Mbah Semar)? Sebab, kalau diperhatikan, ternyata ada banyak kesamaan kisah dua sosok tersebut dengan Mbah Semar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari beberapa informasi yang saya himpun, ada empat asumsi mengenai kebenaran eksistensi dari sosok Sabda Palon dan Naya Genggong.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama,<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Sabda Palon dan Naya Genggong adalah sosok nyata, manusia sebagaimana umumnya. Jika ditelusuri, ternyata keduanya memiliki silsilah leluhur, yaitu masih keturunan dari Empu Tantular VI, penulis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kakawin Sutasoma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang menjadi muasal penggunaan Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar negara. Nama asli Sabda Palon adalah Dhang Hyang Smaranatha (lahir 1328 M) dan Dhang Hyang Panawasikan (lahir 1337 M).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara keseluruhan, silsilah leluhur dari dua sosok tersebut adalah trah para brahmana dan begawan, yaitu gelar untuk orang-orang yang bergelut dalam dunia ilmu dan spiritual. Itulah kenapa keduanya kemudian menjadi penasehat bagi Prabu Kerthabhumi. Bahkan, ada yang menyebut keduanya sudah menjadi penasehat keraton sejak masa Dyah Rani Suhita (Ratu Ayu Kencana Wungu) dengan Raden Ratnapangkaja (Damarwulan) memerintah dari 1427-1447, menggantikan Prabu Wikramawardhana (raja kelima Majapahit).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mas Damar Shashangka menyebut, kedua sosok tersebut ini dulunya adalah penasehat pribadi dari Raden Damarwulan. Berkat nasehat dan siasat dari keduanya Raden Damarwulan akhirnya berhasil menumpas pemberontakan dari Adipati Menakjingga yang waktu itu menjabat sebagai adipati keraton wetan Majapahit (Blambangan). Nah, baru setelah Raden Damarwulan menikahi Ratu Ayu Kencana Wungu, dua sosok ini resmi dilantik jadi penasehat keraton.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Sabda Palon dan Naya Genggong merupakan sosok gaib pamomong bumi Jawa. Asumsi ini didasarkan pada fakta tentang peristiwa moksa keduanya dan minimnya bukti-bukti fisik yang mendukung kebenaran bahwa keduanya pernah hidup di zaman Majapahit. Yang ada hanya bukti-bukti tinggalan raja-raja yang pernah diasuh. Misalnya, bukti arkeologis Prabu Kerthabhumi yang tercecer hampir di sembarang tempat di tanah Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asumsi ini juga disandarkan pada cerita tutur yang menyebut, ketika keduanya menemani Prabu Kerthabhumi bertapa di Gunung Lawu (jelang naik takhta keprabon), tiba-tiba saja seluruh lelembut yang ada di Gunung Lawu menghatur sembah pada kedua sosok tersebut. Seolah meneguhkan bahwa keduanya adalah penguasa dari para lelembut itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga yang menyebut, karena diyakini sebagai pamomong bumi Jawa, keduanya merupakan sosok yang ditemui pertama kali oleh Syekh Subakir (utusan Raja Rum\/Turki Usmani) ketika hendak babat alas Jawa yang konon waktu itu dipenuhi oleh lelembut-lelembut jahat yang suka memangsa manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Loh, bukankah yang ditemui Syekh Subakir adalah Dang Hyang Semar? Nah, ini masuk ke asumsi <\/span><b>ketiga, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">bahwa kedua sosok tersebut sesungguhnya adalah nama lain dari Mbah Semar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini, secara nama, Sabda Palon berarti ucapan atau keputusan yang tegas. Sedang Naya Genggong adalah pengabdian dengan keluwesan. Jika disatukan, artinya adalah tegas tapi luwes, luwes tapi mengandung ketegasan, dua watak yang terdapat dalam diri Mbah Semar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dikuatkan lagi dengan bukti serat yang menyebut bahwa Sabda Palon dan Naya Genggong pergi atau moksa di selatan Jawa, yaitu di Gunung Tidar, dan selalu dikaitkan dengan erupsi Merapi. Di Gunung Tidar ada petilasan Mbah Semar, sementara letusan Merapi nggak pernah jauh-jauh dari nama Semar. Bahkan sering banget ada foto-foto kepulan asap Merapi yang menyerupai bentuk Semar tiap kali terjadi erupsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikutnya, sebenernya hanya Sabda Palon yang merupakan nama lain dari Mbah Semar, sementara Naya Genggong adalah sosok yang lain lagi. Asumsi ini disandarkan pada gambaran fisik antara Sabda Palon dan Mbah Semar yang sama persis. Sedangkan Naya Genggong digambarkan jauh lebih kurus. Lebih-lebih lagi, dalam Serat Sabda Palon pun, yang cenderung banyak bicara kepada Prabu Kerthabhumi adalah Sabda Palon. Termasuk pada frasa \u201cSabda Palon nagih janji\u201d, sering juga orang menyebut, \u201cSemar nagih janji\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kata lain, Semar dan Sabda Palon sebenarnya adalah satu sosok, sedangkan Naya Genggong adalah sosok yang berbeda.<\/span><\/p>\n<p><b>Keempat, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Sabda Palon, Naya Genggong, atau Mbah Semar, seluruhnya hanyalah mitos dan cerita rekaan saja. Satu, beberapa sejarawan mengatakan kalau Serat Sabda Palon itu ditulis oleh R.N.G. Ranggawarsita, pujangga masyhur dari Keraton Surakarta, yang juga dikenal sebagai seorang yang waskita atau bisa meramal masa depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kuat kemungkinan bahwa ramalan-ramalan dalam serat tersebut sebenarnya hanyalah hasil rekaan beliau sendiri, sebagai bagian dari olah sastra agar lebih menarik buat dibaca.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua, dosen Filsafat Sejarah saya, Ustaz Nuriyadin mengatakan, Serat Sabda Palon sebenarnya malah digubah oleh Prabu Kerthabhumi sendiri. Dan sama, kedua sosok tersebut hanyalah tokoh rekaan, manifestasi dari sang prabu yang berdialog dengan pikiran dan batinnya sendiri. Iya, dua sosok tersebut hanyalah sosok imajinatif yang diciptakan sang prabu. Mirip seperti dalang yang seolah berbicara dengan wayangnya, padahal sejatinya berbicara dengan dirinya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau percaya yang mana, saya kembalikan ke kalian masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/adipati-wirabraja-dan-adipati-wiranegara-inisiator-islamisasi-lasem-yang-terlupakan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Adipati Wirabraja dan Adipati Wiranegara, Inisiator Islamisasi Lasem yang Terlupakan<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aly-reza\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aly Reza<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejauh yang saya amati, Sabda Palon dan Naya Genggong dari dulu jauh lebih santer diperbincangkan ketimbang Prabu Jayabaya. Kok bisa begitu?<\/p>\n","protected":false},"author":540,"featured_media":80392,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[623,8966,8965,6588,8964,20310,20309,8183],"class_list":["post-80360","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-jawa","tag-jayabaya","tag-naya-genggong","tag-ramalan","tag-sabda-palon","tag-sabdapalon","tag-sabdo-palon","tag-semar"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80360","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/540"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=80360"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80360\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/80392"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=80360"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=80360"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=80360"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}