{"id":80269,"date":"2020-09-29T14:00:46","date_gmt":"2020-09-29T07:00:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=80269"},"modified":"2021-08-13T12:55:38","modified_gmt":"2021-08-13T05:55:38","slug":"jadi-orang-nggak-enakan-itu-berat-kau-tak-akan-kuat-biar-aku-saja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jadi-orang-nggak-enakan-itu-berat-kau-tak-akan-kuat-biar-aku-saja\/","title":{"rendered":"Jadi Orang Nggak Enakan Itu Berat, Kau Tak Akan Kuat, Biar Aku Saja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi orang nggak enakan itu lebih banyak mudaratnya. Selain tersiksa secara batin, kita terlihat lemah di hadapan musuh. Saya menghadapi ketidakberdayaan itu sampai menginjak usia 20 tahun. Sekarang saya berusia 22 tahun dan rasanya baru dua tahun saya bisa benar-benar menikmati hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya baru tahu betapa nggak enaknya menjadi orang nggak enakan. Prok prok prok~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu TK, saya pernah diusilin teman perempuan. Dia mengolok-olok saya di depan kelas karena saya berrambut ikal. Saya mau balas mengoloknya, tapi dia terlalu sempurna, nggak ada celah yang bisa jadi bahan ejekan. Rambutnya lurus, kulitnya putih, wajahnya ideal, anak orang kaya lagi. Akhirnya, karena nggak punya ruang untuk meluapkan kekesalan, saya lari ke kelas dan menempelkan permen karet di bangkunya. Rasanya puas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alhasil saat dia duduk roknya ketempelan permen karet. Dia menangis dan mengadu pada Bu Guru. Satu kelas heboh mencari siapa pelakunya, saya ketakutan. Perasaan puas tadi berubah menjadi rasa bersalah yang berlebih. Saya langsung minta maaf dengannya di hadapan seisi kelas. Semuanya heboh dan menertawakan. Hari itu jadi momen paling memalukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kejadian bodoh itu nyatanya nggak bikin saya kapok berulah. Memasuki masa SD saya tetap sering digodain sampai nangis. Lagi-lagi karena merasa nggak berdaya untuk speak up, saya mengadu pada Mama di rumah. Besoknya mama saya ke sekolah untuk ketemu sama si biang kerok. Saya pikir hari itu akan seru sekali karena mama saya yang suka ngomel pasti habis-habisan bikin dia jera. Nyatanya, Mama malah ngobrol banyak hal sama dia sambil ketawa-ketiwi tanpa ada sesi marah-marah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat kelas 5 SD, saya jadi malu kalau sering mengadu masalah ke Mama, lebih tepatnya gengsi sama kawan-kawan. Sejak saat itu saya merasa saya harus bertanggung jawab dan berani mengatasi masalah sendiri. Pengaplikasian itu saya lakukan ketika lagi jajan pentol lalu teman saya mengusik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cCiye Lia suka sama anak kelas sebelah.&#8221; Semua perhatian teralihkan pada saya. Dia tau kelemahan saya yang sering salting kalau digodain, yes, saya pemalu akut dan kuper parah!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Refleks saja saya lari ke kelas dan menumpahkan kuah pentol di atas meja teman saya yang usil tadi. Ternyata dia mengejar saya dan shock waktu mejanya sudah kebanjiran kuah. Matanya menatap tajam. \u201cHeh! Bersihkan!\u201d Teriaknya. Saya panik, mau nangis tapi malu. Akhirnya dengan buru-buru saya lap dan bersihkan kuah pentol yang saya tumpahkan sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHahaha\u2026.\u201d Tawa panjang itu masih membekas di kepala. Saya kira alternatif melawan dengan cara menempel permen karet atau menyiram kuah pentol di bangkunya adalah jalan paling berani. Tapi kenapa malah jadi bumerang buat saya?\u00a0 Bahkan tragedi konyol kayak gini selalu terulang sampai tingkat SMA.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMereka semua itu doyan ngebully kamu karena suka dengan responsmu. Cara kamu merespons itu loh cocok jadi sasaran empuk becandaan.\u201d kata seorang teman baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi buru-buru mengoreksi. Setiap kali ada serangan dan saya melakukan serangan balik, saya justru merasa nggak enakan dan takut musuh saya kenapa-kenapa. Lalu secara spontan saya akan meminta maaf dan berusaha memperbaiki segalanya. Pola ini terus berulang hingga membentuk karakter \u201cnggak enakan\u201d sebagai penghambat saya susah menentukan sikap dan ambil keputusan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa iya ini yang dinamakan \u201cpeople pleaser\u201d ketika saya terus-menerus ingin membahagiakan orang lain lalu melupakan diri sendiri? Meletakkan perasaan orang lain sebagai prioritas itu melelahkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan rumit yang menggelisahkan itu pada akhirnya terpecahkan di umur 21 tahun. Tepatnya saat saya dihadapkan dengan dilema memilih pasangan hidup yang keduanya sama-sama baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu hati saya ingin berlabuh dimana, tapi saya takut pilihan saya melukai yang tidak terpilih. Lalu struggle itu menghantarkan saya pada satu hal bahwa saya nggak bisa terus-menerus menjadi pahlawan untuk kebahagiaan orang lain. Itu bukan tanggung jawab saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mulai sadar bahwa ada yang nggak beres dari kekonyolan saya sejak dulu. So, saya putuskan untuk belajar berhenti jadi orang nggak enakan. Kalau ada hal-hal yang mengganggu hak-hak saya, maka coba bicarakan baik-baik. Perlawanan yang elegan itu ya dengan komunikasi yang jelas dan terarah. Jangan menghindar apalagi sok melawan pakai kode awkward semacam menumpahkan kuah pentol, itu sama sekali nggak menyelesaikan resah. Malah menambah masalah. Jika memang mau numpahin kuah, ya sudah jangan tanggung-tanggung, apalagi sampai dibersihkan. Kalau kita dimarahin balik bilang saja itu pelampiasan kemarahan yang harus dia terima karena udah ganggu hidup kita. Tegas dan berpendirian, nggak usah plin-plan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kalian punya tanda-tanda \u201cpeople pleaser\u201d kayak saya, mendingan segera sadar dan berubah. Utamakan diri sendiri dan nggak usah terlalu risau dengan apa yang terjadi pada orang lain. Awalnya sulit, tapi kalau sudah dibiasakan semua akan baik-baik saja. Jadi orang nggak enakan selamanya justru bakal bikin menderita.<\/span><\/p>\n<p><em>Photo by <a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/@olly\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Andrea Piacquadio<\/a> via <a href=\"https:\/\/images.pexels.com\/photos\/3808801\/pexels-photo-3808801.jpeg?auto=compress&amp;cs=tinysrgb&amp;dpr=2&amp;h=750&amp;w=1260\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pexels.com<\/a><\/em><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sebelum-bersedia-untuk-tukar-kursi-kereta-pastikan-dulu-3-hal-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Sebelum Bersedia untuk Tukar Kursi Kereta, Pastikan Dulu 3 Hal Ini<\/a><\/b><b>\u00a0dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terminal Mojok <\/a><\/b><b>lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya baru tahu betapa nggak enaknya menjadi nggak enakan. Banyak kekonyolan terjadi sampai di satu titik saya sadar, saya harus berubah.<\/p>\n","protected":false},"author":1048,"featured_media":80379,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3502,401],"class_list":["post-80269","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bullying","tag-kritik-sosial"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80269","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1048"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=80269"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80269\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/80379"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=80269"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=80269"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=80269"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}