{"id":79910,"date":"2020-09-29T06:31:24","date_gmt":"2020-09-28T23:31:24","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=79910"},"modified":"2020-09-29T08:10:13","modified_gmt":"2020-09-29T01:10:13","slug":"balada-program-televisi-yang-makin-hari-makin-berisik-saja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/balada-program-televisi-yang-makin-hari-makin-berisik-saja\/","title":{"rendered":"Balada Program Televisi yang Makin Hari Makin Berisik Saja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah nggak sih, kalian berniat mau istirahat sambil nonton TV, tapi malah jadi terganggu? Iya, terganggu dengan program TV itu sendiri. Disadari atau tidak, program-program televisi sekarang banyak yang berisik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di beberapa stasiun televisi seperti Trans 7, Trans TV, bahkan Net TV, banyak program televisi yang berisik. Tayangan semacam ini bukannya menghibur, tapi malah mengganggu. Sebut saja acara \u201cTiktokan\u201d di Net TV, \u201cTrending\u201d di Trans 7, atau kalau mau lebih gampang pindah saja ke Trans TV, soalnya program mereka berisik semua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksud saya \u201cberisik\u201d ya mulai dari host, presenter, bahkan voice over-nya bicara terus bahkan sampai teriak-teriak. Lagu-lagu yang diputar jadi backsound juga bukannya seru, tapi malah memperburuk keadaan. Belum lagi soal penambahan suara-suara ketawa atau suara sedih sebagai sound effect, semakin nggak jelas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu kok tujuannya untuk mendukung suasana kocak dan meriah. Tapi, jujur aja tujuan itu nggak tercapai. Saya justru merasa usaha program televisi untuk \u201cmenghibur\u201d ini terlalu dipaksakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini yang bikin saya semakin nggak nyaman untuk nonton TV. Saya sulit menikmati program televisi yang berisik banget. Belakangan banyak juga lagu-lagu remix EDM dan koplo yang \u201ctoet-toet\u201d itu lho. Musiknya jadi ramai banget, sampai yang dengar pasti nggak paham sama liriknya. Saya heran kok ada ya orang yang menikmati musik macam begini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan-jangan para produser program televisi menargetkan pasarnya ke orang-orang yang suka keramaian atau suasana riuh. Presenter atau hostnya juga dibuat heboh dan bercanda sepanjang acara. Silakan saja kalau memang menargetkan pasar tertentu. Tapi, ya siap-siap kehilangan banyak penonton yang kayak saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bicara soal berisik dan hebohnya program televisi kekinian, ada hal lain lagi yang menurut saya terlalu heboh dan cenderung lebay. Hal tersebut adalah gambar-gambar atau tulisan yang sering kali muncul di layar. Kalau kecil kayak subtitle sih nggak masalah, lah ini gede banget. Sampai mau nutupin satu layar. Belum lagi soal transisinya yang kontras, kayak orang yang baru belajar ngedit. Ada juga motion graphic-nya, itu lho gambar-gambar yang bergerak. Misal gambar ledakan, terbang, tertiup angin, dan lain sebagainya. Bikin silau banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang membuat program-program tersebut semakin bermasalah adalah jam tayangnya. Biasanya sih diletakkan di siang, sore, sampai malam hari. Kita semua tahu, waktu-waktu tersebut biasa digunakan untuk istirahat, ya paling tidak sejenak melupakan berita virus corona lah. Eh, malah dapatnya acara-acara yang berisik dan heboh banget. Mau nggak mau pindah kanal dan nonton berita lagi deh. Bagi saya lebih baik pusing karena nonton berita soal virus corona, daripada nonton acara-acara yang membuat semakin capek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal melelahkan yang saya rasakan ketika menonton program televisi semacam itu adalah bikin capek telinga. Niatnya mau leyeh-leyeh eh telinga jadi meleleh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal melelahkan selanjutnya akan dirasakan oleh mata. Bayangkan, mata sedang sayup, dikejutkan dengan banyaknya motion graphic yang serupa polusi visual. Saya mungkin bakal memutuskan tidur setelahnya, tapi bukan karena ngantuk, melainkan saking pusingnya melihat televisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ada sedikit saran buat berbagai stasiun TV. Mbok tolong, acara-acara yang seperti itu lebih bagus kalau jam tayangnya diganti pagi saja. Tujuannya ya biar orang-orang melek dan semangat menjalani hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau kalau memang berniat pengin bikin bad mood, tetap ubah jam tayang program televisi tersebut menjadi pagi. Jadi, orang-orang sudah badmood sejak pagi. Setidaknya mereka masih bisa mencari hiburan di siang atau malam harinya.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/inilah-rasanya-berdiri-di-bus-sepanjang-madiun-surabaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Inilah Rasanya Berdiri di Bus Sepanjang Madiun-Surabaya<\/a><\/strong><strong>\u00a0dan tulisan\u00a0<\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/imron-amrulloh\/\"><strong>Imron Amrulloh<\/strong><\/a><strong>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><em>ini<\/em><\/a><em>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menonton program televisi kekinian yang super berisik itu bikin capek telinga. Niatnya mau leyeh-leyeh eh telinga jadi meleleh.<\/p>\n","protected":false},"author":765,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1630,1997],"class_list":["post-79910","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-kritik","tag-program-televisi"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79910","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/765"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=79910"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79910\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=79910"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=79910"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=79910"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}