{"id":79878,"date":"2020-09-28T11:37:17","date_gmt":"2020-09-28T04:37:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=79878"},"modified":"2020-09-28T11:37:47","modified_gmt":"2020-09-28T04:37:47","slug":"tahlilan-di-rumah-tetangga-nasrani-membuat-saya-paham-arti-toleransi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tahlilan-di-rumah-tetangga-nasrani-membuat-saya-paham-arti-toleransi\/","title":{"rendered":"Tahlilan di Rumah Tetangga Nasrani Membuat Saya Paham Arti Toleransi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu malam usai salat magrib, saya pamit ke ibu untuk acara syukuran di rumah baru milik tetangga yang merupakan keluarga Nasrani, \u201cLah nanti baca doanya gimana?\u201d tanya beliau. Saya rasa ini adalah momen untuk melihat potret toleransi beragama dipraktikkan dalam kehidupan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAku juga tidak tahu, Bu.\u201d jawab saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menghormati tetangga itu, saya bahkan tidak memakai setelan sarung, baju koko, dan peci, melainkan celana panjang dan kemeja. Begitu tiba, tetangga yang lain justru memakai setelan Islami tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pikir, mungkin mereka tidak tahu cara menghormati tetangga yang berbeda agama ini. Bisa-bisanya datang ke acara orang Nasrani dengan setelan Muslim?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, pikiran sombong itu sedikit sirna. Saat Pak Kiai sebagai pemandu acara berkata, \u201cNggak apa-apa ya, Sedulur-sedulur. Yang penting niat kita untuk mendoakan orang lain apa pun agamanya.\u201d Sesaat setelahnya, beliau menerangkan bahwa kami akan berdoa menggunakan cara kami biasanya saat syukuran, yaitu dengan bacaan tahlil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu terlantunlah secara khidmat surah Alfatihah, ketiga surah terakhir dalam Al-Qur\u2019an, dan bacaan tahlil seterusnya di bawah salib yang tergantung di tembok ruang tamu milik tuan rumah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski terlihat indah begitu, saya masih merasa seperti tidak terima dan risih dengan penggunaan cara berdoa sesuai agama kami di \u201ctempat yang salah\u201d. Maksud saya, bagaimana perasan tuan rumah yang didoakan dengan cara yang tidak mereka yakini?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kelak saya sadar bahwa pemikiran tersebut terlalu berlebihan dan sok menghakimi. Mungkin sebenarnya tidak ada pikiran dan rasa canggung sedikit pun pada tuan rumah seperti yang saya khawatirkan. Mereka hanya ingin didoakan yang baik-baik, bagaimanapun caranya. Dan sebagai rasa syukur menempati rumah baru, mereka ingin membagi kebahagiaan dengan mengundang kami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira pemikiran menyebalkan semacam itu muncul dari apa yang saya lihat di media sosial atau media yang lain. Saya selalu menganggap bahwa kehidupan sehari-hari sebagai warga negara sedang dalam krisis toleransi. Melihat berita, postingan di medsos, lagi-lagi tentang konflik horizontal akibat perbedaan keyakinan sehingga membuat saya yakin bahwa persatuan dalam keragaman masyarakat sulit terwujud dan fanatisme dalam kehidupan beragama akan tetap bertahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keyakinan itu juga menguat ada kaitannya dengan \u201ctitik balik\u201d yang saya dapat dari pemahaman di masa lalu. Awalnya saya fanatik dalam beragama karena didikan dari keluarga yang konservatif (untuk tak menyebutnya radikal). Didikan yang tak jauh dari sikap intoleransi terhadap agama lain bahwa umat di luar Islam otomatis masuk neraka, kafir, dan pemahaman lain yang serupa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ditambah lagi saat menginjak usia remaja, tontonan saya di YouTube adalah video ceramah Ahmed Deedat dan Zakir Naik, tokoh yang opininya terkesan selalu memaksakan bahwa Islamlah agama paling benar sementara yang lain sesat. Hal tersebut sempat membuat saya semakin tegang dalam beragama dalam waktu yang lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkat cerita, saya mendapat pencerahan untuk menjadi lebih open minded dan menjunjung tinggi toleransi. Tapi, pemahaman yang awalnya intoleran itu mendapat titik balik yang bertolak belakang sama sekali, berakibat pada bantingan setir ideologi secara kencang dan mendadak. Membuat saya menjadi \u201ckagetan\u201d dan fanatik juga dalam mewujudkan toleransi itu sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Layaknya beberapa orang yang berpindah agama, saya yang \u201cberpindah\u201d ideologi juga menjadi semacam snob. Sebab saya menganggap apa-apa yang ditinggalkan merupakan keburukan bahkan bagi semua orang: harus dijauhi dan bila perlu dihina-hina.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi seorang snob, menunjukan keburukan yang ada pada ideologi sebelumnya merupakan cara termudah untuk menunjukkan betapa benar dirinya dan ideologinya yang sekarang. Ya, buat nunjukin jika sudah upgrade gitu, lho. Ini jadi fase yang wajar bagi siapa pun yang pernah mengalami \u201cperpindahan\u201d tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya serta merta mengagungkan konsep \u201ctoleransi\u201d ini lebih dari apa pun, bahkan agama dan kemanusiaan. Saya yakin toleransi yang saya pahami ini mampu menumbangkan fanatisme beragama, maka saya merasa wajib melawan segala sesuatu yang bertentangan dengan toleransi di media sosial dengan komentar celaan. Kelompok-kelompok yang berseberangan harus diberi cap radikal. Bahkan segala tindakan yang mengatasnamakan toleransi, sekali pun caranya terkesan salah, mesti didukung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya saya mendapat pencerahan yang baru lagi setibanya di rumah dari acara syukuran itu. Pemahaman saya terhadap toleransi menjadi sama sekali berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin hidup hanya perpindahan dari kekeliruan yang satu ke kekeliruan yang lainnya. Sebab, sikap toleransi yang saya pahami tersebut keliru juga. Namun, toleransi yang sesungguhnya tetaplah konsep mulia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh sebab itu, kesombongan saya yang menganggap bahwa tamu lain tidak tahu cara menghormati perbedaan dari cara berpakaian segera saya sesali. Berbeda ya berbeda, itulah keberadaan kita masing-masing. Tak harus menyeragamkan diri agar pantas dalam suatu tempat. Jika pakaian berbeda, agama berbeda, masih ada yang sama, yaitu kita semua manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, yang lebih saya kutuki adalah pikiran yang bertanya-tanya bagaimana perasaan tuan rumah yang saya anggap \u201cmengalah\u201d hanya karena mereka minoritas. Serta perasaan semacam tidak terima yang padahal tidak dirasakan tuan rumah sama sekali. Ketersinggungan yang seolah-olah mewakili mereka seharusnya tidak perlu ada. Sebab mereka sebenarnya tidak masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua penyadaran terhadap pandangan lama itu membawa saya pada keyakinan bahwa intoleransi barangkali hanya terjadi di lapisan selain akar rumput. Sebab di sini, toleransi justru tumbuh secara organik dan tanpa kesadaran bahwa hal tersebut merupakan toleransi.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kecelakaan-lalu-lintas-bukan-ulah-makhluk-gaib-di-tempat-angker-saat-bulan-suro\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kecelakaan Lalu Lintas Bukan Ulah Makhluk Gaib di Tempat Angker Saat Bulan Suro<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/fadlir-rahman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Fadlir Rahman<\/a>\u00a0lainnya<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya selalu menganggap bahwa kehidupan kita sedang dalam krisis toleransi. Nyatanya apa yang saya dapatkan justru berkebalikan.<\/p>\n","protected":false},"author":933,"featured_media":2144,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6,8],"tags":[78,229],"class_list":["post-79878","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-featured","tag-agama","tag-toleransi"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79878","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/933"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=79878"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79878\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2144"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=79878"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=79878"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=79878"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}