{"id":79027,"date":"2020-09-24T06:28:32","date_gmt":"2020-09-23T23:28:32","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=79027"},"modified":"2020-09-24T00:15:02","modified_gmt":"2020-09-23T17:15:02","slug":"5-rekomendasi-film-asia-di-hbo-go-yang-menarik-untuk-ditonton","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-rekomendasi-film-asia-di-hbo-go-yang-menarik-untuk-ditonton\/","title":{"rendered":"5 Rekomendasi Film Asia di HBO GO yang Menarik untuk Ditonton"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film dari Asia seringkali menyuguhkan gaya bercerita yang berbeda dengan kawasan lainnya. Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Indonesia, seringkali saya merasa bahwa film yang masih berasal dari Asia lebih relate daripada film Amerika atau Eropa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya saja, pada film produksi Amerika yang saya tonton, mudah sekali menemukan adegan bercumbu di tempat umum. Hal ini tentu jarang saya lihat pada film yang berasal dari Asia. Pada film Asia, adegan bercumbu biasanya dilakukan di tempat privat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena cerita yang unik dan relate secara sosial dan budaya, membuat saya suka menghabiskan waktu untuk menonton banyak film Asia. Kebetulan juga melalui platform HBO GO, banyak koleksi film Asia yang menarik. Di sini saya coba memberikan rekomendasi film Asia di HBO GO yang menarik dan (mungkin) layak untuk disaksikan.<\/span><\/p>\n<h4><b><i>Move the Grave<\/i><\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film dari Korea Selatan yang disutradarai oleh Jeong Seung-O ini memiliki tema keluarga disfungsional. Cerita film ini sebenarnya sederhana, kakak dan adik terpaksa harus berkumpul kembali di kampung mereka karena kuburan bapak mereka harus dipindahkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau mereka kakak beradik, tapi sudah lama sekali mereka tidak berkumpul. Ini membuat setiap orang memiliki beban masalahnya masing-masing. Saat berkumpul, mereka berupaya menyembunyikan beban tersebut satu sama lain. Walau tidak dicurahkan, masalah tersebut bisa dilihat kasat mata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hubungan kekeluargaan yang aneh benar-benar ditunjukan dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Move the Grave<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Selain itu kita masih bisa melihat praktik budaya patriarki Korea. Di satu sisi ini akan terasa menjengkelkan, tapi di sisi lainnya ini membantu menguatkan cerita dari film itu sendiri. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Move the Grave<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga memiliki dialog lucu yang diucapkan antar karakter.<\/span><\/p>\n<h4><b><i>Canola<\/i><\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih dari Korea Selatan, kali ini ada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Canola<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Film yang disutradarai oleh Yoon Hong-seung dirilis pada 2016. Film drama keluarga ini bercerita tentang seorang anak usia lima tahun bernama Hye-ji yang dirawat oleh neneknya (Youn Yuh-jung). Suatu hari Hye-ji hilang, dan setelah belasan tahun Hye-ji (Kim Go-eun) bertemu kembali pada neneknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak mudah bagi Hye-ji untuk kembali hidup bersama neneknya, apalagi selama \u201cmenghilang\u201d dari nenek, Hye-ji mengalami banyak hal yang tidak pernah bisa ia lupakan. Saya tidak akan menceritakan masa lalu kelam Hye-ji, tapi yang jelas kesabaran dan cinta yang tidak terbatas dari nenek membuat film ini terasa hangat dan istimewa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Canola<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga akan memperlihatkan Korea dari sisi perkampungan pada kawasan pesisir, kita juga akan melihat sisi tradisional Korea. Film ini juga mengandung plot twist, yang penuh haru. Saran saya siapkan tisu karena sangat sulit untuk menahan tangis saat menonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Canola<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<h4><b><i>The Witness<\/i><\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film dari Jepang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Witness<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> disutradarai oleh Junichi Mori dan dirilis pada 2019. Film ini film remake dari film Korea berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Blind<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Saya sendiri belum pernah menonton film Blind, tapi untuk film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Witness<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> saya menyimpulkan bahwa ini adalah film Jepang yang cukup menegangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film yang mengusung genre thriller dan kriminal ini bercerita tentang Natsume Hamanaka (Riho Yoshika), polisi muda yang harus kehilangan penglihatannya karena kecelakaan. Ini membuat Hamanaka harus mengakhiri karirnya sebagai polisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu hari, Hamanaka tidak sengaja \u201cmerasakan\u201d ada penculikan terhadap perempuan. Hamanaka seperti mendengar teriakan minta tolong. Perlahan tapi pasti, Hamanaka dengan bantuan polisi menelusuri jejak penculik tersebut. Awalnya film ini terasa lambat, tapi menjelang akhir barulah film ini menunjukan keseruannya.<\/span><\/p>\n<h4><b><i>Ikigami: The Ultimate Limit<\/i><\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film Jepang yang dirilis pada 2008 ini adalah adaptasi dari manga, berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ikigami<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Film yang disutradarai oleh Tomoyuki Takimoto bercerita tentang Jepang yang menerapkan undang-undang kontroversial. Undang-undang tersebut memaksa beberapa anak muda \u201cterpilih\u201d dipaksa harus meninggal, lalu 24 jam sebelum orang terpilih tersebut meninggal, ia akan dikabarkan dahulu melalui Ikigami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karakter utama dari film ini adalah Ikigami itu sendiri yang bernama Kengo Fujimoto (Shota Matsuda). Sebagai film distopia yang disebabkan oleh sistem, maka ceritanya tidak jauh-jauh dari gejolak nurani Fujimoto sebagai pembawa pesan kematian. Film ini juga menceritakan drama yang terjadi pada korban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekilas saya teringat sedikit dengan film Amerika, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Purge<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Keduanya sama-sama mengusung tema distopia yang terjadi karena suatu sistem yang diterapkan pada suatu negara. Keduanya juga mengklaim bahwa sistem tersebut bermanfaat untuk kemajuan negara mereka. Hanya saja, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ikigami: The Ultimate Limit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memiliki drama yang menjadi nilai lebih. Sedangkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Purge<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memiliki kelebihan pada aksi dan survival.<\/span><\/p>\n<h4><b><i>Last Sunrise<\/i><\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, ada film fiksi ilmiah dari Cina yang disutradarai oleh Wen Ren. Film yang dirilis pada 2019 ini memiliki cerita tentang matahari yang tidak lagi hadir menyinari bumi. Ini menyebabkan bumi menjadi gelap, kurang oksigen, dan juga suhu yang semakin menurun. Sebagai film distopia survival pada umumnya, diceritakan juga ada tempat yang mungkin aman dan bisa dijadikan untuk membangun peradaban manusia baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini menceritakan tentang perjalanan Sun Yang (Zhang Jue) bersama Chen Mu (Zhang Yu) untuk menuju tempat yang aman tersebut. Tapi, alih-alih menjadi film survival yang penuh akan adegan kekerasan, Last Sunrise nampaknya lebih fokus pada hubungan Sun Yang dan Chen Mu. Bisa dikatakan bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Last Sunrise<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah film romantis di tengah bencana besar umat manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hubungan kasih antara Sun Yang dan Chen Mu membuat film ini jadi memiliki alur yang lambat, tapi tidak masalah. Walau lambat, penonton tetap tidak merasa bosan, bahkan melihat tingkah Chen Mu jadi terasa lucu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mola-tv-ternyata-bagus-dan-layak-untuk-dicoba\/\"> <b>Mola TV Ternyata Bagus dan Layak untuk Dicoba<\/b><\/a> <b>dan tulisan <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-ikhsan-firdaus\/\"><b>Muhammad Ikhsan Firdaus<\/b><\/a><b> lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/span><\/i> <a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">di sini.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya coba memberikan lima rekomendasi film Asia di HBO GO yang menarik dan (mungkin) layak untuk disaksikan. Bagus beneran, Ngab.<\/p>\n","protected":false},"author":649,"featured_media":79293,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[8884,28,8885,6165],"class_list":["post-79027","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-asia","tag-film","tag-hbo-go","tag-rekomendasi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79027","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/649"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=79027"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79027\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/79293"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=79027"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=79027"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=79027"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}