{"id":79007,"date":"2020-09-24T05:03:49","date_gmt":"2020-09-23T22:03:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=79007"},"modified":"2020-09-24T07:07:01","modified_gmt":"2020-09-24T00:07:01","slug":"merayakan-hadirnya-film-aneh-dengan-nonton-im-thinking-of-ending-things","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/merayakan-hadirnya-film-aneh-dengan-nonton-im-thinking-of-ending-things\/","title":{"rendered":"Merayakan Hadirnya Film Aneh dengan Nonton \u2018I\u2019m Thinking of Ending Things\u2019"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Animo film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">I\u2019m Thinking of Ending Things<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ternyata nggak main-main. Netflix kali ini mengajak penyuka film populer buat menjajal tontonan dengan napas surealis. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">I\u2019m Thinking of Ending Things<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah film romantis bagi saya, sebuah kemesraan antara tragedi dan fantasi yang digambarkan dalam kalimat-kalimat puitis. Meski sebagian besar orang akhirnya bilang garapan Charlie Kaufman ini adalah film aneh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak perlu jauh-jauh, silakan ditilik rating yang diberikan IMDb, Rotten Tomatoes, dan Metacritic terhadap film ini, lalu bandingkan dengan respons Google Users. Google Users sebagai representasi \u201cselera orang kebanyakan\u201d memberikan nilai terendah. Perbandingan ini terbalik jika kalian menengok angka rating pada film populer layaknya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Conjuring 2<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Old Guard.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai penyuka \u201cfilm aneh\u201d, saya sih menyambut baik kedatangan kawan-kawan baru yang akhirnya menyadari kalau film ada yang jenisnya membingungkan begini. Film-film yang walau digambarkan bergenre horor tetap nggak ada setannya, tetap nggak ada paranormalnya, dan kita pun nggak tahu seramnya di mana.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">I\u2019m Thinking of Ending Things<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sudah terasa begitu aneh sejak shot awal. Salju yang turun dan ambience yang suram ditabrakkan dengan pakaian aktor yang berwarna merah dan kuning. Saya bahkan sempat kaget ketika Lucy (Jessie Buckley) menatap tajam ke arah kamera atau yang umum kita sebut sebagai \u201cbreaking the fourth wall\u201d sambil membacakan puisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film aneh seperti ini sebenarnya jamak diproduksi, tapi nggak terkenal-terkenal amat. Sebut saja<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> The Lighthouse <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang saking \u201cbagusnya\u201d bisa masuk nominasi Oscar. Saking nyelenehnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Lighthouse <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">disajikan dengan aspect ratio nyaris kotak, yaitu 1,19:1 dan warna hitam putih. Jika penonton tidak memahami bagaimana mitologi Yunani menggambarkan \u201chukuman\u201d Prometheus, banyak yang kebingungan sampai ending. Pencinta film box office bakal boring setengah mati dan menganggap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Lighthouse <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">adalah visualisasi mimpi buruk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya penyuka film aneh memang bisa dikatakan punya selera yang lumayan edgy atau dalam bahasa bangsatnya adalah \u201cnyeleneh\u201d. Beberapa orang merasa menang ketika berhasil mematahkan metafora rumit yang ada dalam film. Tapi, kembali lagi, kalau nggak suka ya nggak usah dipaksakan dong. Ngapain juga pura-pura menyukai sesuatu yang kalian nggak sreg demi bisa dibilang edgy? Bagaimanapun hebohnya perdebatan reviewer dan kritikus tentang film, selamanya urusan bagus atau tidaknya film adalah perkara subjektif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lha masa selera mau didikte.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">I\u2019m Thinking of Ending Things<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah sebuah contoh ketika platform nonton film sekelas Netflix yang populer, jadi jembatan bagi film-film surealis. Sebelumnya \u201cfilm aneh\u201d begini mungkin cuma bisa ditemukan di festival-festival atau bioskop luar negeri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi ingat bagaimana film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Midsommar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> diperjuangkan habis-habisan untuk tayang di bioskop Indonesia. Kenyataannya, horor kedua Ari Aster ini memang lolos untuk tayang, tapi sensornya naudzubillah, banyak banget. Alasannya nggak jauh-jauh dari unsur darah, pornografi, kekerasan, dst.. Parahnya, sensor yang dilakukan LSF benar-benar mengubah esensi dan kengerian <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Midsommar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Sebagai orang yang penasaran, saya jelas nonton ulang walau harus nyari-nyari versi bajakan. Astaghfirulloh, aku itu berdosa banget&#8230;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kalian memang beneran mau melakukan \u201csafari\u201d film-film aneh, saya sarankan nonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Double<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> deh. Film ini lawas dan nggak terkenal. Disutradarai Richard Ayoade dan dibintangi Jessie Eisenberg. Ceritanya simpel, tentang doppelganger dan betapa menyebalkannya kalau hidup kita \u201cditiru\u201d orang lain. Tapi, usai nonton kalian mungkin bakal merasa campur aduk sambil menggumam, \u201cBajilaaak film opo ngene ki!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lama ini Jessie juga membintangi film yang tak kalah aneh berjudul <em>Vivarium<\/em>. Meski editing dan endingnya bikin gedeg, hasilnya cukup bikin kalian takut untuk tinggal di perumahan. Ada makna filosofis yang berusaha disampaikan pembuat film sejak establishing film ini memperlihatkan burung kukuk. Saya sih nggak bisa cerita lebih jauh karena menghormati penghamba antispoiler. Bahkan browsing tentang genre film ini aja bisa jadi bocoran. Jadi monggo ditonton dan berpusinglah sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya menyukai film aneh kayak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">I\u2019m Thinking of Ending Things <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">itu hobi yang murah. Kalian hampir nggak membutuhkan cinema experience dan jauh-jauh pergi ke bioskop. Cukup langganan platform digital lalu menontonnya sambil rebahan dan makan Doritos. FYI, nontonnya santai aja, Bos, sambil ngantuk nggak apa-apa. Sabar sampai akhir lalu bingung kemudian itu sudah biasa. Yang penting kesan dari film-film ini nggak nirmakna kayak film box office kebanyakan. Selamat merayakan film aneh buat penyuka hal nyeleneh!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<\/strong> <strong>Sebelum Takut sama PD III, Takutlah Dulu sama Bencana Alam Buatan Manusia\u00a0dan artikel <a href=\"https:\/\/mojok.co\/penulis\/ajr\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ajeng Rizka<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Film aneh seperti I&#8217;m Thinking of Ending Things sebenarnya jamak diproduksi, tapi nggak terkenal-terkenal amat.<\/p>\n","protected":false},"author":530,"featured_media":79320,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2363,773],"class_list":["post-79007","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-netflix","tag-review-film"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79007","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/530"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=79007"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79007\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/79320"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=79007"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=79007"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=79007"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}