{"id":7869,"date":"2019-07-25T08:30:02","date_gmt":"2019-07-25T01:30:02","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=7869"},"modified":"2022-01-19T10:58:25","modified_gmt":"2022-01-19T03:58:25","slug":"rasulullah-iseng-ngeprank-afwan-akh-hawaariyyun-nabi-muhammad-bukan-atta-halilintar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rasulullah-iseng-ngeprank-afwan-akh-hawaariyyun-nabi-muhammad-bukan-atta-halilintar\/","title":{"rendered":"Rasulullah Iseng Ngeprank? Afwan Akh @Hawaariyyun, Nabi Muhammad Bukan Atta Halilintar"},"content":{"rendered":"<p>Sebagai seorang pemuda Muslim di era kiwari, saya tak bisa menghindar dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/nyg\/esai\/fenomena-hijrah-fest-dan-mewahnya-pengajian-bocah-remaja-masa-kini\/\">fenomena dakwah<\/a> yang serupa air saat hujan. Ada di mana-mana. Di televisi, YouTube, Instagram (semisal @hawaariyyun yang akan kita bahas kali ini), Twitter, Facebook, bahkan status WhatsApp pun ada. Para dai mulai dari dai beneran sampai dai kaleng-kaleng yang nggak jelas belajarnya dari mana pun berlomba-lomba berdakwah di berbagai linimasa media sosial.<\/p>\n<p>Kita kemudian kenal dengan nama-nama semisal Ustaz Felix Siauw yang tak pernah\u00a0 berhenti <span style=\"text-decoration: line-through;\">menjadi ide konten buat para penulis Mojok<\/span> menyampaikan pesan dakwah. Sekalipun kerap mendapat penolakan dan boikot dari pihak tertentu, beliau tak pernah patah semangat. Nggak kayak <em>antum<\/em>, baru dapet email penolakan naskah dari Mojok sekali-dua kali aja sudah menyerah. Hufft.<\/p>\n<p>Selain beliau, tentu ada nama-nama lain. Ada Gus Miftah, Ustaz Abdul Somad, Ustaz Adi Hidayat, hingga para anak muda <em>influencer<\/em>\u00a0pendakwah seperti Alfa Abdurrahman, orang di balik akun Instagram @hawaariyyun yang sudah memiliki 820 ribu <em>followers<\/em>. 2000 kali lipat lebih banyak daripada <em>followers<\/em> IG saya. Duh, duh, untung aja jumlah <em>followers<\/em> bukan syarat masuk surga.<\/p>\n<p>Sebetulnya masih ada banyak nama lain akun <em>so called<\/em> ustaz yang <em>followers-<\/em>nya ratusan ribu bahkan jutaan. Terutama dari kalangan <em>qari\u2019<\/em>. Ada nama Hanan Attaki, Muzammil Hasballah, hingga Taqy Malik\u2014seorang <em>qari\u2019<\/em> muda yang tak lain mantan suami <a href=\"https:\/\/mojok.co\/auk\/ulasan\/pojokan\/salmafina-pindah-agama-memang-harus-jadi-urusan-umat\/\">Salmafina yang baru-baru ini memutuskan <em>unhijrah<\/em><\/a> (baca: pindah agama).<\/p>\n<p>Kehadiran para pendakwah itu tentulah sepatutnya disambut baik. Sebab, bagaimanapun, tekad mereka mulia belaka. Ingin sebanyak-banyaknya menebarkan kemanfaatan, kebaikan, dan menjauhkan orang lain dari jalan-jalan menuju neraka. Meskipun hanya lewat video 1 menit dan ilmu yang pas-pasan. Nggak apa-apa <em>to<\/em>? Kan kata Nabi, sampaikanlah walau cuma satu ayat.<\/p>\n<p>Memang sih di ayat-ayat dan hadis-hadis lain ada perintah untuk tak asal dakwah. Bahwa sebelum seseorang berdakwah ia harus memiliki ilmu yang mumpuni sekaligus memahami adab berdakwah. Tapi, kan, apa salahnya coba berdakwah walaupun dengan ilmu seadanya? Daripada bikin video bareng <em>squishy<\/em> dan <em>paranormal experience<\/em> yang sama sekali nggak bernilai pahala, mendingan dakwah. Ya nggak?<\/p>\n<p>Adapun kalau ada di antara para pendakwah kemarin sore itu yang salah ucap atau melakukan blunder ketika nulis <em>caption<\/em>, ya harap dimaklumi. Namanya aja manusia. Tempat lupa dan khilaf. Kalau mereka lupa, tentu tugas kitalah mengingatkannya. Sedangkan kalau mereka khilaf, tinggal kita minta <a href=\"https:\/\/tirto.id\/influencersaregross-ketika-influencer-mulai-dianggap-mengganggu-eeVt\">video klarifikasinya<\/a> aja (toh, dengan \u201cmengaku khilaf dan minta maaf\u201d, segala urusan langsung selesai, bukan?) . Eh, maksud saya, kita luruskan gitu. Sesama Muslim kan harus saling menasihati dalam kebaikan dan kebenaran.<\/p>\n<p>Termasuk dalam menyikapi <em>caption<\/em> IG @hawaariyyun\u00a0 yang baru-baru ini diunggahnya. Dalam postingan berjudul \u201cFace\u201d, anak muda yang postingan-nya selalu dikomentari oleh Ustaz Felix Siauw itu menulis sepenggal kalimat begini: \u201cPernah suatu ketika Rasulullah iseng2 ngeprank seorang nenek tua yang perlahan membungkuk mendatangi beliau dengan sisa tenaganya.\u201d Ya, intinya nyeritain hadis soal nanti penduduk surga tuh muda-muda semua. Nggak ada yang nenek-nenek.<\/p>\n<p>Apa ada yang salah dengan <em>caption<\/em> itu? Kalau ada yang salah, kenapa para <em>followers<\/em> @hawaariyyun hampir semuanya membubuhkan kata-kata positif semisal \u201cmasyaallah\u201d dan \u201cuhibbuka fillah akhi sholeh nan jomblo\u201d di kolom komentar postingan itu? Terus, Ustaz Felix yang biasanya komen, kenapa diem-diem aja ya? Padahal kan sebagai senior, seharusnya beliau dengan gesit memberikan peringatan. Ah, barangkali beliau terlewat saja karena sedang sangat sibuk memikirkan kondisi umat.<\/p>\n<p><em>Monmaap<\/em>, saya harus katakan, <em>caption<\/em> @hawaariyyun itu mengandung kekeliruan yang cukup fatal. Bukan, bukan karena @hawaariyyun adalah kawan karib Ustaz Felix lantas beliau saya salahkan. Sungguh bukan. Saya hanya ingin ber<em>amar makruf nahi mungkar <\/em>belaka<em>. <\/em>Meski saya nggak sebaik Akh Alfa Abdurrahman, saya tetap boleh kan <em>amar makruf nahi mungkar<\/em>?<\/p>\n<p>Kita tentu masih ingat dengan Ustaz Evi yang menyebut \u201cNabi Muhammad pernah tersesat\u201d, Ustaz Syam dengan kata-kata \u201cpesta seks di surga\u201d, dan Ustaz Hanan At-Taki yang mengklaim Nabi Musa sebagai \u201cpremannya para Nabi\u201d. Memang sih para ustaz itu kemudian membuat klarifikasi dan umat pun sedikit memaafkannya. Akan tetapi, kesalahan-kesalahan \u201ckecil\u201d itu membuat nama mereka seketika tercemar. Apalagi di negeri dengan peribahasa \u201ckarena nila setitik, rusak susu sebelanga\u201d ini. Wah, keseleo lidah atau jempol bisa panjang urusannya.<\/p>\n<p>Lalu, apa kesalahan @hawaariyyun? Yee, pake nanya. Tentu saja gara-gara ia menulis \u201cRasulullah iseng2 ngeprank\u201d. Woy, ente kira Rasulullah itu Atta Halilintar apa? Itu kan diksi yang tampak <em>suul adab<\/em> sekali. Kita tahu kata \u201cprank\u201d itu kesannya negatif dan dibenci orang. Dan penggunaan diksi semacam itu terhadap orang semulia Rasulullah tentu sangatlah nggak pas. Apalagi kalau yang menggunakannya adalah seorang dai <em>cum influencer<\/em> muda dengan ratusan ribu pengikut setia! Wow, amat besar pengaruhnya.<\/p>\n<p>Kalau Andre Taulany yang notabene pelawak aja <i>dibully <\/i>habis-habisan karena bilang \u201citu badan apa kebon\u201d, saya nggak bisa membayangkan apa yang bakal didapat Alfa Abdurrahman. Seharusnya sih <em>diunfoll <\/em>rame-rame. Eh tapi, mana mungkin, <em>wong followersnya<\/em> pada anteng-anteng aja baca itu <em>caption<\/em>. Duh, mereka kira orang kalau udah dikenal sebagai \u201cda&#8217;i muda\u201d omongannya selalu bener kali, ya. Nggak <em>keles<\/em>. Sekelas Nabi dan ulama sepuh aja bisa berbuat salah, apa lagi cuma aktivis medsos yang kebetulan suka <em>ngeshare <\/em>konten berbau agama.<\/p>\n<p>Bukan kali ini aja @hawaariyyun bikin blunder. Ia juga pernah mencetuskan istilah \u201cPredator Quran\u201d. Agak-agak mirip gitulah polanya dengan kata-kata \u201cTurn Back Quran\u201d. Maksudnya mungkin sebagai istilah untuk orang yang selalu dekat dengan Quran. Tapi, karena kemampuan berbahasa yang nggak memadai, jatuhnya malah jadi menghinakan Quran.<\/p>\n<p>Rasa-rasanya, para dai medsos itu mesti lebih banyak lagi belajar sebelum bikin konten. Terutama belajar adab dan gaya bahasa. Supaya lain kali nggak lagi kejadian menyebut \u201cRasulullah iseng2 ngeprank\u201d, \u201cNabi Musa itu premannya para Nabi\u201d, dan yang semacamnya.<\/p>\n<p>Dakwah gaul sih dakwah gaul. Tapi, bukan berarti nyamain Nabi dengan Atta Halilintar dan Hercules juga kali. Dan juga, dakwah itu harus baik konten maupun caranya. Bukan kontennya doang yang baik. Tapi caranya sembarangan. Sama lah kayak kalau kamu mau nulis buat Mojok. Bukan kontennya doang yang harus \u201cMojok\u201d, tapi cara nulisnya juga. Kalau enggak begitu, tulisan kamu nggak bakal diterima <span style=\"text-decoration: line-through;\">di sisi-Nya<\/span> Redaktur Mojok. Eh.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lalu apa kesalahan @hawaariyyun? Tentu saja gara-gara ia menulis \u201cRasulullah iseng2 ngeprank\u201d. Woy, ente kira Rasulullah itu Atta Halilintar apa?<\/p>\n","protected":false},"author":21,"featured_media":7912,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[1968,1966,1967,1965,1964],"class_list":["post-7869","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-alfa-abdurrahman","tag-atta-halilintar","tag-hawaariyyun","tag-prank","tag-rasulullah"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7869","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/21"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7869"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7869\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7912"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7869"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7869"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7869"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}