{"id":78574,"date":"2020-09-21T14:33:03","date_gmt":"2020-09-21T07:33:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=78574"},"modified":"2020-09-22T14:05:13","modified_gmt":"2020-09-22T07:05:13","slug":"kaderisasi-dan-romantisme-pmii-lewat-pbak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kaderisasi-dan-romantisme-pmii-lewat-pbak\/","title":{"rendered":"Kaderisasi dan Romantisme PMII lewat PBAK"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin sama dengan ospek di kampus lain, kampus saya menjadikan ospek bukan hanya sebagai pengenalan budaya kampus, namun lebih dari itu. Setiap tahun PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan) berlangsung di kampus \u201cUwin\u201d, sudah bukan rahasia lagi siapa yang memegang kendali atas pengenalan budaya kampus ini. Siapa lagi kalau bukan organisasi PMII?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, ormek (Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus) ini cukup berperan setiap tahunnya karena mereka berjasa mengantarkan maba-maba dalam masa transisi dari budaya SMA\/SMK\/MAN menuju kultur kampus yang lebih kompleks. Di tahun ini seperti tahun sebelumnya, mayoritas panitia merupakan kader dari PMII.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun kemarin, PBAK ditutup dengan orasi kemanusiaan yang menentang ketidakadilan dan kasus-kasus HAM. Ini dilakukan untuk sekadar mengingatkan maba pada aktivis-aktivis yang telah membela hak-hak kami. Dengan nada yang menggebu-gebu, sebagian mahasiswa bisa jadi terpesona dengan nada-nada perlawanan seperti ini. Orasi ditutup dengan ucapan serentak, \u201cSalam mahasiswa!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari setelah PBAK selesai, muncul ormek-ormek yang menghiasi altar fakultas. Lalu mayoritas maba yang sedang polos-polosnya akan berlabuh di salah satu ormek yang tidak lain dan tidak bukan adalah PMII. Entah para maba ini tertarik karena memang murni ingin berproses atau terkena rayuan gombal dengan berbagai iming-iming punya relasi dan jadi aktivis yang senantiasa membela hak-hak buruh, tani, mahasiswa, dan rakyat miskin kota. Yo mbuh!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang pasti akan lebih tertarik masuk ke suatu perkumpulan jika di dalamnya ada orang-orang yang sebelumnya sudah dia kenal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjelang pemilwa, senior PMII akan sibuk bikin agenda sedemikian rupa dengan menjaring kader dan menjadikannya bakal calon di lembaga intrakampus, seperti senat, dewan mahasiswa, maupun HMPS. Pada tahun kemarin, jabatan-jabatan strategis tersebut di fakultas saya dikuasai oleh kader-kader PMII.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu apa salahnya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya nggak salah. Memang begitu faktanya, kan? Fakta bahwa ormek ini cukup &#8220;berkualitas&#8221; sehingga banyak dilirik oleh maba-maba untuk berproses di dalamnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, adakah faktor yang menyebabkan semua ini terjadi terus-menerus? Nggak usah ngawang pakai ilmu arkeologi pengetahuannya Foucault atau dialektikanya Hegel. Kita cukup menguraikannya secara sederhana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kita mulai dari awal lagi, fakta menunjukkan bahwa mayoritas panitia PBAK berasal dari satu ormek yang sama, yaitu PMII. Anggaplah sisanya sejumlah dua sampai lima orang dari ormek lain. Panitia PBAK dari ormek lain terasa sebagai pupuk bawang atau luwes-luwes saja biar politik identitasnya nggak terkesan mencolok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lha wong akses panitia PBAK lebih terbuka menganga bagi para kader PMII kok. Sederhananya, sebagian besar mahasiswa yang aktif dalam fakultas ya memang kader-kader PMII. Mahasiswa yang bukan PMII hanya digunakan sebagai pelengkap PMII dalam merajut kekuasaannya di dalam kampus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kaderisasi berkedok PBAK ini sebelumnya juga terjadi lewat kedok-kedok yang lain, cuma teknisnya yang berbeda. Contoh terdekatnya adalah bimtes masuk \u201cUwin\u201d yang diselenggarakan oleh ormek ini dan ormek yang lain. bimtes atau bimbingan tes adalah pembekalan materi ujian masuk kepada calon maba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bimtes ini sangat menguntungkan calon maba karena mereka akan punya gambaran soal ujian yang akan dihadapinya nanti. Namun, cara ini terbukti efektif dalam mengenalkan organisasi untuk menjaring mahasiswa ketika kelak ia masuk ke kampus putih. Istilah asmaranya \u201cmbribik ndisik\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu PBAK berlangsung, mudah saja bagi PMII untuk menarik minat maba-maba polos yang masih anget itu. Maba-maba akan menganggap bahwa para kating ini pasti lebih banyak punya pengalaman dan informasi. Padahal, kating-kating yang kaya akan informasi ini adalah panitia PBAK yang merupakan kader-kader PMII.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah PBAK usai, maka muncullah stand-stand ormek untuk proses perekrutan kader baru. Dengan sedikit rayuan persuasif nan ideologis, berjubellah maba-maba ini di salah satu stand tersebut. Usut punya usut, ternyata \u201crai-rai kating\u201d yang ada di stand sudah familier pada saat PBAK berlangsung. Stand dari ormek lain abaikan saja lah. Wong ya maba ndak kenal mereka kok, mukanya saja asing-asing, ckckck.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjelang pemilwa, kita akan melihat betapa sibuknya senior PMII untuk memilih bakal calon yang tepat untuk bersaing dalam pemilihan yang katanya demokratis itu. Visi dan misi mereka pun cukup revolusioner, yakni membawa kemajuan bagi fakultas. Iya dong maju, bagi kelompok mereka sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah fakultas saya hidup dalam pengulangan yang sama? Jika diurut mulai dari PBAK hingga pemilwa, jawabannya adalah: ya. Benar saja cuitan di akun Twitter @mahasiswaUwINd yang membuat narasi tentang PBAK sebagai: Pengenalan Budaya Angkut Kader.<\/span><\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"in\">PBAK = Pengenalan Budaya Angkut Kader <a href=\"https:\/\/t.co\/fYNNDcFKfj\">pic.twitter.com\/fYNNDcFKfj<\/a><\/p>\n<p>\u2014 Toa-toa yang Terkubur (@mahasiswaUwINd) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/mahasiswaUwINd\/status\/1307222141637505024?ref_src=twsrc%5Etfw\">September 19, 2020<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata Sartre, \u201cSemua orang memiliki hak yang sama. Namun tidak semua orang bisa menikmati hak-hak tersebut.\u201d<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-makna-tersirat-di-balik-konten-dua-jam-nggak-ngapa-ngapain-di-youtube\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">5 Makna Tersirat di Balik Konten \u2018Dua Jam Nggak Ngapa-ngapain\u2019 di YouTube<\/a> dan tulisan-tulisan lainnya dari\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/rizki-muhammad-iqbal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rizki Muhammad Iqbal<\/a>.<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sudah bukan rahasia lagi siapa yang memegang kendali atas PBAK di kampus saya tercinta. Siapa lagi kalau bukan organisasi PMII?<\/p>\n","protected":false},"author":858,"featured_media":34800,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[5797,5313],"class_list":["post-78574","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-organisasi-ekstra-kampus","tag-pmii"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78574","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/858"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=78574"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78574\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/34800"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=78574"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=78574"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=78574"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}